Daerah

Konsorsium PETI di Sungai Batang Pelepat, Masyarakat Mendesak Polda Jambi Bertindak Tegas Terhadap PETI

5
×

Konsorsium PETI di Sungai Batang Pelepat, Masyarakat Mendesak Polda Jambi Bertindak Tegas Terhadap PETI

Sebarkan artikel ini

Keindahan alam Batang Pelepat kini terancam. Sungai yang dahulu jernih dan menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar, kini berubah menjadi keruh, penuh dengan lumpur dan racun. Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang merajalela di Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo, Jambi, menjadi biang keladi kerusakan lingkungan dan krisis air bersih. Ironisnya, upaya Polda Jambi untuk memberantas konsorsium PETI tampaknya belum membuahkan hasil.

Masyarakat yang resah pun tak tinggal diam. FORUM PEDULI PELEPAT, sebagai wadah aspirasi masyarakat, telah melayangkan surat pengaduan kepada Kapolda Jambi pada tanggal 12 Oktober 2023, menuntut tindakan tegas. Meski sempat ada tindakan dari kepolisian yang menghentikan kegiatan PETI untuk sementara waktu, namun, hanya dalam tiga hari, tambang ilegal tersebut kembali beroperasi dengan leluasa.

Pada 24 Oktober 2023, perwakilan masyarakat, yang terdiri dari Ahmad Subhan, Wahyudin, Wahyudi, dan M. Riduan S.H., mendatangi Polda Jambi. Mereka bukan hanya meminta klarifikasi atas surat pengaduan yang telah dilayangkan, tetapi juga menuntut transparansi dan kejelasan dalam penanganan isu PETI.

Satria Oendric, ketua Forum Peduli Pelepat, dengan nada tegas mengungkapkan rasa kecewanya terhadap kinerja APH Bungo. “Kami datang ke sini bukan hanya untuk mendengar janji. Kami membutuhkan tindakan nyata. Jika PETI terus beroperasi, dampaknya bukan hanya pada lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Satria Oendric juga menyoroti dampak dari bahan kimia berbahaya yang digunakan dalam proses penambangan. “Air sungai kini seperti lumpur, banyak sumur warga yang kering, dan dampak kesehatan dari bahan kimia yang digunakan dalam penambangan bisa menjadi ancaman serius bagi masyarakat,” lanjutnya.

Ahmad Subhan, Ketua Karang Taruna Rantau Keloyang, menambahkan, “Kami tak akan tinggal diam. Jika aparat hukum tak bisa mengatasi, kami bersama masyarakat akan bertindak.” Seruan serupa juga datang dari Wahyudin dan Wahyudi, yang menegaskan komitmen masyarakat untuk melindungi lingkungan mereka.

Berita ini menjadi sorotan, dan masyarakat lainnya di Jambi pun turut mendukung perjuangan masyarakat Pelepat. Dengan situasi yang semakin memanas, harapan terbesar masyarakat adalah adanya solusi konkret dan tindakan tegas dari Polda Jambi untuk menyelamatkan Batang Pelepat dari ancaman PETI.(*)