Opini

Jihad Santri, Jayakan Negeri

8
×

Jihad Santri, Jayakan Negeri

Sebarkan artikel ini

Oleh :

RIZKY FIRNANDA

Lahirnya penetapan hari Santri mulai dilakukan pada saat masa awal Pemerintahan presiden Joko Widodo pada Tanggal 25 Oktober 2015 di Masjid Istiqlal Jakarta Melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015. Ketetapan ini memiliki tujuan guna terus menggelorakan semangat jihad dalam sanubari para santri serta juga semakin memupuk rasa nasionalisme dan patriotisme terhadap Tanah Air.

Sejak saat itu, Hari Santri Nasional (HSN) dirayakan setiap tanggal 22 oktober pada tiap tahunnya, Pemilihan tanggal 22 Oktober memiliki kaitan erat Dengan adanya peristiwa Penting pada saat salah seorang tokoh besar yang pada saat ini sudah dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Pada tanggal 17 November 1964 berdasarkan Keppres Nomor 294 Tahun 1964. Yakni Hadrotussyaikh KH Hasjim Asy’ari mengeluarkan seruan pada tanggal 22 Oktober 1945. Kakek Presiden RI Ke 4 ini, memberikan perintah kepada umat Islam pada waktu itu, wabil khusus para santri untuk melancarkan jihad melawan tentara Sekutu yang mencoba kembali ingin merongrong menguasai wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia pasca-Proklamasi Kemerdekaan yang baru saja dikumandangkan 2 bulan Sebelum nya.

Seruan Para Ulama membakar jiwa nasionalisme para santri untuk memperjuangkan kedaulatan NKRI Pada saat itu, peristiwa bersejarah ini telah menunjukkan juga bagaimana peran penting para kiyai dan santri dalam melawan penjajah, berdalihkan seruan KH Hasjim Asy’ari. Peran ulama lainnya juga tak luput dari sejarah usaha mempertahankan NKRI di saat usianya masih belia, seperti peran KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, A. Hassan dari Persis, Ahmad Soorhati dari Al Irsyad, dan Abdul Rahman dari Matlaul Anwar. Secara garis besar dapat ditarik bahwa Para ulama selalu berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.

Peringatan Hari Santri , mengingatkan
bagian pentingnya peran santri di tengah keberlangsungan kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Indonesia. Dalam perjalanan sejarahnya, santri menujukkan peran dalam memperjuangkan Dan upaya mengisi kemerdekaan bangsa. Seyogyanya makna Jihad santri dalam sudut pandang atau perspektif historis bisa dimaknai sebagai perjuangan santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada masa penjajahan, banyak santri yang ikut serta dalam perjuangan melawan penjajah. Mereka berjuang dengan berbagai cara, mulai dari perang gerilya, perang terbuka, hingga perang diplomasi. Salah satu contoh perjuangan santri dalam melawan penjajah adalah peristiwa Perang Diponegoro. Dalam perang ini, banyak santri yang ikut serta dalam pasukan Diponegoro untuk melawan Belanda.

Perjuangan pasca kemerdekaan yang terekam oleh memori sejarah saat sekutu ingin kembali menjajah Indonesia yang baru mendeklarasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Untuk mempertahankan ini, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari mencetuskan Fatwa Resolusi Jihad yang diilhami keyakinan hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman). Dalam resolusi Jihad tersebut ditegaskan bahwa berjuang mengusir penjajah hukumnya fardlu ’ain (wajib pribadi) bagi setiap umat Islam dalam radius 94 kilometer dari ”tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh” dan di luar radius itu sebagai fardlu kifayah (boleh diwakili sebagian warga saja). Mendapatkan fatwa ini, sebagai seorang santri yang patuh pada kiai, serentak bersama warga NU di Surabaya dan sekitarnya turun bersama warga lainnya. Para santri melawan tentara Sekutu mulai 25 Oktober 1945, berujung ribuan pejuang syahid mengorbankan nyawa mempertahankan Surabaya, yang memuncak pada perang 10 November 1945. Sejatinya, para santri sejak awal menyadari bahwa nyawa mereka diserahkan sepenuhnya kepada Allah teruntukkan cita-cita mulia menyelamatkan negara.

Selain itu, para santri juga berperan penting dalam perumusan dasar negara Indonesia. Banyak tokoh santri yang terlibat dalam perumusan Pancasila, UUD 1945, dan pembentukan konstitusi Indonesia. Dengan demikian, kiprah santri di masa lalu begitu besar dalam membentuk Indonesia merdeka dan berdaulat. Kemudian pertanyaannya, bagaimana

Lebih daripada itu, para santri juga sudah berperan penting dalam perumusan dasar negara Indonesia, diantaranyq KH.A.Wahid Hasyim dan KH.Mas Mansyur. 2 orang hebat tersebut ikut serta dalam proses di BPUPKI ketika merumuskan pancasila sebagai dasar negara. Berdasarkan Fakta catatan sejarah ini, menunjukan begitu besar nya kiprah santri di masa lalu dalam membentuk Indonesia merdeka dan berdaulat.

Kemudian di era modern pada saat ini timbul pertanyaannya, bagaimana jihad santri dalam perspektif kontekstual guna membangun kejayaan negeri serta mewujudkan nya? Hakikatnya, jihad santri sampai detik sekarang ini tidak pernah padam ataupun mati oleh pergeseran zaman. Pada masa saat ini, para kelompok bersarung ini sudah menujukkan kepada bangsa secara kasat mata , bagaimana peran Penting mereka dalam pembangunan bangsa. Santri telah menjelma menjadi agen perubahan yang membawa kemajuan bagi negeri.

Mereka sudah berperan aktif melalui jihad pada bidangnya masing-masing,seperti pendidikan, kesehatan, pertanian, dan industri. Makna Jihad pada saar ini bukan lah bagi mereka yang hanya sekedae angkat senjata saja tetapi lebih luas daripada itu adalah bagaimana upaya serta dedikasi mewujudkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari guna melakukan perubahan ditengah masyarakat sebagaimana firman Allah dalam Al Quran Surat Ar Rad Ayat 11. Bahwa allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri merubah nasibnya.

Tentu ayat ini sudah sangat populer dikalangan santri, menjadi landasan utama bagi mereka guna berhihad
mengambil peran penting’ dalam pembangunan bangsa dan dapat berkontribusi dalam berbagai bidang agar terwujudnya Kemajuan yang dicita-citakan dari tangan para santri (Pemuda).

شُبَّانُ الْيَوْمِ رِجَالُ الْغَدِ أِنَّ فِي يَدِكُمْ أَمْرُ الْأُمَّةِ وَفِي اَقْدَامِكُمٍ حَيَاتُهَا.

“Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Sesungguhnya di tanganmu-lah urusan bangsa dan dalam langkahmu tertanggung masa depan bangsa.”

Tantangan kedepan semakin berat,era kedepan semakin menantang,maka oleh karena itu sudah saatnya mempersiapkan Para santri untuk menjadi pemegang tongkat estafet kepemimpinan di masa mendatang, demi menyongsong masa depan yang lebih baik.(*)

Penulis adalah Mahasiswa UII YOGYAKARTA

Opini

Oleh : Prof. Dr. H. Asaari, M.Ag. Kegagalan memahami pesan di balik wacana KUA sebagai sentral keagamaan lintas agama menimbulkan kegaduhan tak berarti, jika bukan tak penting. Kegagalan itu barangkali…

Opini

Selama ini masih banyak kalangan yang belum sungguh-sungguh mengenal Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Sebagian besar hanya mengetahui bahwa jika ingin belajar tentang Islam di perguruan tinggi, maka PTKIN-lah…

Opini

Kematangan demokrasi harus dibangun di atas kedewasaan berpikir, bukan luapan emosi yang tak terkendali. Oleh AHMAD ZAINUL HAMDI Tidak ada ilmu yang paling dipuji sekaligus dimaki saat pemilu selain ilmu statistik….