by

Survey Indikator, Pemenang Pilgub Belum Bisa Diprediksi

Riset politik yang dirilis lembaga survey ternama Indikator itu menunjukkan satu hal : Pemenang Pilgub Jambi belum bisa diprediksi. Empat kandidat berpeluang.

—————

Riset itu digeber pada 15 hingga 12 Februari 2020, kemarin. Melibatkan 1.100 responden. Hasilnya, belum satupun kandidat yang angka elektabilitasnya berada di atas 30 Persen.

Yang menarik, dari riset Indikator–lembaga survey yang digawangi Burhanudin Muhtadi–itu, pemenang Pilgub Jambi belum bisa diprediksi. Empat kandidat masih berpeluang unggul.

Dr Dedek Kusnadi, Pengamat Kebijakan Publik menjelaskan, membaca rilis survey Indikator itu menunjukkan satu hal, empat kandidat–Sy  Fasha, Cek Endra, Al Haris dan petahana Fachrori Umar–, masing-masing masih berpeluang menang.

“Walaupun Sy Fasha teratas, tapi posisinya belum aman. Tiga nama di bawahnya masih mungkin mengejar. Mengingat rentang waktu Pilgub masih cukup panjang,”kata Dr Dedek Kusnadi.

Apalagi, angka survey itu bisa berubah ketika masing-masing kandidat sudah pasti maju–lengkap dengan pasangannya–.

Berada di posisi teratas, menurut Dedek, Sy Fasha boleh jadi bahagia. Tapi, angka itu masih tergolong rawan. Terlebih petahana Fachrori Umar belum terlihat banyak bergerak dan bermanuver.

“Jika angka elektabilitas Fachrori naik, otomatis kandidat di atasnya akan bergser turun. Dan sebaliknya,”kata Dedek.

Begitupula Cek Endra, kata Dedek, kendati berada di posisi kedua, tapi angka elektabilitasnya kelihatan cenderung naik–dari survey yang dirilis Carta Politika November lalu–.

“Haris juga kelihatan merangsek naik. Apalagi survey itu belum membaca pergerakan Haris yang sudah membentuk tim di semua daerah,”ujarnya.

Dr Dedek Kusnadi

Dedek menilai, ada tiga penentu kemenangan Pilgub.

“Pertama soliditas tim. Kandidat yang memiliki jaringan hingga ke desa-desa dan tim yang kuat, berpeluang mendapat elektabilitas tinggi,”katanya.

Selanjutnya strategi. Selain tim dan jaringan yang kuat, kandidat mesti punya tim yang piawai merancang strategi. “Bagaimana tim bisa merekayasa persepsi warga. ini butuh keahlian dan tim yang hebat mengelola isu. Kalau timnya biasa-biasa saja, alamat karam lah,”katanya.

Terakhir adalah kekuatan sumber daya kapital. Menurut dosen UIN STS Jambi itu, modal kapital adalah penentu dari dua faktor pemenangan tadi–tim yang kuat dan strategi yang jitu–.

Sebab, kata Dedek, tim yang kuat dan solid hanya bisa dikelola dengan kekuatan kapital. Tanpa amunisi itu, mustahil bisa membentuk dan menggerakkan jaringan, bahkan hingga ke pelosok desa.

Dengan modal kapital itu pula, tim bisa dengan mudah mengelola isu dan merancang strategi. “Modal kapital ini penentu. Maka, yang sudah lari kencang di awal star, mesti atur ritme. Jangan sampai ngos-ngosan di ujung,”ujarnya.

Tapi, lanjut Dedek, Walikota Jambi itu lebih berpeluang menang jika posisi gerakan lawannya masih seperti ini. Biasa-biasa saja.

“Kandidat yang berada di bawah Fasha mesti berfikir keras. Jangan terlena. Harus ada manuver besar dan mengejutkan untuk mengerek elektabiltas. Tim dan orang dekat kandidatnya jangan microcare. Intinya, empat kandidat masih berpeluang kok. Asal jangan sampai terlambat bergerak,”kata Dedek.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, MA, Ph.D dalam releasenya membeberkan, untuk simulasi 4 nama, Sy Fasha meraih 25,6 Persen, Cek Endra 17,2 Persen, Al Haris 14,5 Persen dan Fachrori Umar 11,7 Persen.

‘’Di antara 4 nama calon, Sy Fasha unggul signifikan dari 3 pesaingnya. Sementara Cek Endra, Al Haris dan Fachrori Umar masing-masing dukungannya secara statistik tidak berbeda signifikan,’’ jelas alumni doktor Australian National University (ANU) itu.(*)

 

News Feed