by

Saat Kota Sungai Penuh Berganti Nama Kota Kerinci

Suara perubahan nama itu meluncur dari ajang Rakernas Pengurus Besar Himpunan Keluarga Kerinci Nasional (HKKN) di Avenzel Hotel dan Convention Center Cibubur, Jakarta.

————–

Berawal ketika Inspektur Jenderal Polisi Syafril Nursal, bos HKKN itu berpidato di hadapan tokoh Kerinci Perantauan, Walikota Sungai Penuh, Wakil Bupati Kerinci Ami Taher dan sederet pejabat Provinsi, semisal Ketua DPRD Edi Purwanto, Staf Ahli Gubernur Asraf dan staf Presiden RI bidang ekonomi pariwisata. Dengan suara lantang, Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah (Sulteng) itu menyuarkan perluanya nama Kota Sungai Penuh beralih nama menjadi Kota Kerinci.

“Perbedaan nama itu seolah-olah warga kerinci sudah terpisah. Padahal, orang Kerinci itu kuat karena kata Kerinci,”tutur Syafril Nursal disambut gemuruh tepuk tangan tetamu yang hadir.

Menurut jenderal bintang dua itu, Kerinci adalah etnis. Bukan wilayah administrasi. Maka, warga Kota Sungai Penuh sebenarnya, kata Syafril, juga adalah etnis Kerinci.

Tapi, karena perbedaan nama itu, seolah-olah warga kota dan warga kabupaten berbeda. “Mungkin dapat dipertimbangkan,”kata Syafril.

AJB dan Ami Taher terlihat kompak bertepuk tangan, seperti tanda setuju. Mereka lantas tertawa lepas.

Suara perubahan nama itu bahkan menjadi rekomendasi dan pembahasan penting dalam ajang Rakernas itu. Seluruh peserta Rakernas mendukung gagasan cerdas sang jenderal.

“Kita sangat sepakat dan mendukung upaya perubahan nama itu,”kata Rendra, Sekretaris Jenderal HKKN Provinsi Jambi.

“Karena perbedaan nama itu membuat warga di bawah agak terbelah,”imbuh Sukman, Ketua HKKN Provinsi Riau.

Selain perubahan nama, Rakernas juga menelurkan berbagai ide cemerlang. Ihwal jalur evakuasi misalnya, menjadi usulan penting di ajang ini. HKKN bersiap membantu pemerintah daerah untuk secepatnya mewujudkan jalur evakuasi untuk Kerinci.

Keseriusan itu dibuktikan dengan mengundang Bupati Merangin, Al Haris, untuk mendukung langkah tersebut.

“Saya sangat mendukung jalur vekuasi ini. Dulu saya termasuk paling aktif menyokongnya. Belakangan, macet di DPR karena ada perubahan jalur. Prinsipnya, saya mendukung,”kata Al Haris, yang turut hadir di acara Rakernas itu.

Konektifitas pariwisata Kerinci dengan berbagai daerah tetangga, juga menjadi pembahasan dalam Rakernas ini. Event internasional Tour De Singkarak misalnya, selain Kerinci, kedepannya akan dijajal melewati rute baru, yaitu Sumbar, Kerinci, Merangin dan Bungo.

Sinergi pariwisata itu juga mulai menyasar kawasan Candi Muaro Jambi. Pemerintah Muaro Jambi, bahkan mendukung upaya itu.

“Nantinya, umat budha yang hendak berkunjung ke Candi, akan mengambil air suci di danau gunung tujuh,”kata Kadis Pariwisata Muaro Jambi.

Alven Stoni, Ketua Bidang Pariwisata dan Budaya PB HKK Nasional mengimbuhkan, usulan dan gagasan itu akan mewujud jika diamini oleh pemerintah setempat–Kerinci dan Kota Sungai Penuh–. Sebab, kata Alven, mereka punya pengalaman buruk ketika Bupati Kerinci pernah menjegal ide HKKN yang hendak menghidupkan pariwisata–membangun resort– di kaki gunung tujuh.

“Karena, salah satu komitmen besar HKKN adalah mengerek pariwisata Kerinci. Kami ingin, bagaimana Kerinci layak jual. Sebab, potensi pariwisatanya besar. Dia ibarat gadis cantik, mudah dipromosikan,”katanya.

Di forum Rakernas ini, Alven juga membeberkan rencana pembangunan Kota Santri di Kabupaten Kerinci. Kota santri yang menelan biaya ratusan miliar itu, akan dirancang menjadi destinasi wisata baru berkelas internasional.

Walikota Sungai Penuh mendukung rencana HKKN ini dengan menyisipkan bantuan senilai Rp 100 Juta.

“Pertengahan Maret kita akan peletakan batu pertama pembangunan masjid,”kata Alven.

Turut memeriahkan rakernas kali ini, sejumlah warga Kerinci yang merantau di Malaysia dan Filiphina. Hadir misalnya, Datuk Muhammad Isa, Mantan Kapolda Selangor, yang berdarah Kerinci. Dalam forum itu, ia mengaku telah berinvestasi di Kerinci dengan membangun resort di kawasan Kayu Aro.

“Tolong permudah investor yang masuk ke Kerinci,”sarannya.(*)

News Feed