by

Jejak Pulau Hantu dan Ahmad Barus II ( Bagian 2)

Mengakhiri napak tilasnya di pusara Datuk Paduko Berhalo, Tim Keluarga Fachrori itu mengajak etnis melayu Jambi bersatu di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jambi tahun 2020 ini.

————-

Baru pukul setengah lima pagi ketika Miftahul Ikhlas terjaga dari tidur lelapnya. Seusai subuhan, Paul–begitu ia kerap disapa–, bergegas membangunkan koleganya, yang beberapa diantaranya masih mendengkur pulas.

“Ayo bangun… sholat subuh. Setelah itu kita lanjut ziarah…,”pekik Paul memecah sunyi dari rumah inap bernomor 01 itu.

Suaranya terdengar keras hingga ke luar ruangan. Maklum, suasana pagi di Pulau Berhala memang sunyi, jauh dari suara aktivitas manusia. Hanya ada suara debur ombak, yang berjarak beberapa meter saja dari rumah inap.

Miftahul Ikhlas dan koleganya perlu ikhtiar keras untuk sampai ke makam leluhur etnis melayu Jambi itu. Selain kudu menerobos ombak besar di laut lepas. Mereka juga kerap dihajar sinis dan diolok-olok. Langkah berziarah itu, acapkali dipolitisir–yang menyebut mereka menyembah kuburan–.

“Biarlah anjing menggonggong kapilah berlalu. Niat kita tulus. Berziarah itu bahkan dianjurkan dalam agama Islam. Aneh saja kalau ada yang sentimen,”kata Paul.

Tapi, Paul mendadak bahagia. Konon, tak semua orang bisa sampai ke makam Ahmad Barus II itu. Kalaupun singgah ke Pulau Berhala, tak semua orang bisa bertemu pusara asli ayah Rang Kayo hitam itu.

Loh…?

Raden Muhammad Isan–salah satu keturunan Rajo Jambi yang turut mendampingi tim keluarga Fachrori–itu, mengatakan pusara Datuk Paduko Berhalo yang asli berada di tengah hutan, persis di atas puncak bukit Pulau Berhala.

Akses menuju ke sana tidak lah mudah. Tak semua orang tahu keberadaannya. Sementara, sebuah makam yang berada  di dalam sebuah bangunan itu, sebenernya bukan makam datuk. Melainkan hanya makam Harimau peliharaannya.

“Makam yang berada di dalam bangunan ini hanya untuk memudahkan pengunjung yang hendak ziarah. Karena akses menuju pusara datuk sangat sulit,”kata Raden Muhammad Isan.

Paul memimpin rombongan menaiki tangga itu. Tingginya sekitar 50 meter atau sekitar 70an anak tangga. Beberapa terlihat terengah-engah begitu sampai ke puncak makam. Sebagian lain tampak sempoyongan, karena kehabisan tenaga.

Setelah beberapa jenak rehat, Paul dan rombongan menyibak kelambu berwarna putih yang menutupi pusara itu. Rio, Ketua Garda Fachrori bergegas menjangkau sapu dan secepatnya membersihkan area makam.

Kompak mengenakan setelan serba merah, Paul dan Daeng Hamdi mengambil posisi duduk bersila di sudut kiri makam. Sementara, tim Garda Fachrori duduk bersila di seberangnya. Mereka tertunduk takzim dan larut dalam doa yang dipimpin  Fathurahman, mahasiswa UIN STS Jambi itu.

Mengenakan setelan serba merah, Miftahul Ikhlas memimpin tim keluarga Fachrori melakukan napak tilas hingga ke makam leluhur etnis Melayu Jambi di Pulau Berhalo.

Seusai berdoa, mereka bergegas naik ke puncak tertinggi Pulau Berhala. Menerobos belantara hutan, mereka masuk melewati sela-sela pepohonan. Tak ada jalan setapak. Mereka hanya mengandalkan petunjuk Raden Muhammad Isan. Hampir setengah jam berjalan kaki, tibalah mereka di puncak bukit.

Sebuah batu besar–seukuran tiga kali manusia–, tertancap di atas tanah dengan balutan kain berkelir putih. Kain itu tampak kotor oleh sergapan tanah dan semak belukar.

“Inilah makam asli datuk paduko berhalo. Kita bersyukur bisa sampai ke sini. Tidak semua orang bisa singgah dan ketemu makam beliau di sini,”kata Raden Muhammad Isan.

Tanpa membuang waktu. Paul lantas mengomandoi anggotanya untuk segera membersihkan area makam. Mereka mengakhiri ziarah setelah berdoa dari atas pusara sang datuk itu.

Bagaimana kisah Ahmad Barus II mendapat julukan Datuk Paduko Berhalo dan menemukan pulau hantu ini, akan diulas dalam tulisan berikut.(Bersambung)

 

 

News Feed