by

Jejak Pulau Hantu dan Ahmad Barus II (Bagian 1)

Napak tilas tim keluarga Fachrori Umar itu berlanjut hingga ke makam leluhur etnis Melayu Jambi di Pulau Berhala. Mendoa tanah leluhur melayu itu kembali ke pelukan Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.

—————–

Beranjangsana ke Pulau Berhala, Miftahul Ikhlas memboyong tim keluarga dan Garda Fachrori. Mereka malah memilih jalur Kumpeh- Rantau Rasau menuju Nipah Pinjang. Padahal, dari Kota Jambi, akses ke Pulau Berhala lebih dekat melewati Kota Sabak. Selisihnya bisa sampai dua jam.

“Kita sambil ngecek apakah jalan rusak dan tergenang air itu sudah diperbaiki atau belum,”kata Miftahul Ikhlas.

Paul–begitu aktivis berkepala plontos ini akrab disapa–, cuma bisa geleng-geleng kepala saat melintas di daerah sponjen, perbatasan Muaro Jambi-Tanjab Timur itu. Maklum, mereka masih memergoki jalan bak kubangan kerbau dan terendam air itu.

“Semoga pak Kadis PU secepatnya merespon kondisi jalan masyarakat ini. Jangan sampai hidup masyarakat tambah susah,”ujarnya.

Di rumah Rusli, pemuda Kumpeh Ilir, rombongan sempat mampir beberapa jenak. Warga setempat menginformasikan, gelombang laut sedang tinggi. Terlebih saat ini tengah berlangsung musim angin barat–Desember hingga Februari–. Gelombang besar mengancam siapa saja yang nekat melintas di wilayah perairan Pulau Berhala itu.

Nyali sebagian rombongan mendadak ciut. Beberapa orang membisikkan sesuatu ke telinga Paul. Tapi, Paul tetap bergeming.

“Niat kita tulus. Untuk berziarah. Untuk menelusuri jejak leluhur etnis melayu jambi. bukan untuk hura-hura. Insyallah diberkahi Allah. Bismillah……..,”jawab Paul.

Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan mengendarai kendaraan bergardan ganda itu. Menjelang asar, Paul dan rombongan tiba di Nipah Panjang. Mereka sempat melipir ke sebuah masjid–persis di tengah pasar Nipah Panjang–, sembari Sholat dan rehat melepas penat di teras bagian depan masjid itu.

“Tolong beli nasi bungkus ya. Kita makan di atas perahu,”kata Paul kepada Rio, Ketua Garda Fachrori.

Beberapa lembar uang pecahan seratus ribu secepatnya melayang dari kantong Paul.

“Jangan lupa beli air mineral,”tutur Paul.

Sebuah kapal nelayan berkapasitas tiga ton dengan merek KM 01 Cakra itu bersiap mengangkut rombongan tim keluarga Fachrori menuju Pulau Berhala. Nyali sejumlah rombongan lagi-lagi ciut ketika menengok kondisi kapal–yang tulang AS ujung kanan depan terlihat patah–. Bayangan hantaman gelombang besar yang akan mengoyak dan mematahkan kapal tetiba membuhul. Bulu roma pun bergidik. Nyawa menjadi taruhan.

“Sudah….Bismillah aja…Ajal itu sudah ada ketentuannya. Sudah tercatat di lauful mahfuz. Begitu juga dengan pemenang Pilgub, hehhe..,” kata Paul menenangkan anggotanya sembari berseloroh.

Meluncur dari dermaga Nipah Panjang, mereka menerobos sore yang mulai gelap sambil menikmati sebungkus nasi dengan lauk ikan sungai. Rasa takut mendadak lenyap ketika nasi telah memenuhi seisi perut. Mereka mengambil posisi terbaik–beberapa diataranya duduk di bagian depan perahu, sebagian lain duduk di anjungan kapal bagian belakang–.

Rombongan tim keluarga Fachrori Umar yang dipimpin Miftahul Ikhlas saat di atas anjungan perahu menuju Pulau Berhala

Syukurlah…

Terjangan ombak tak mengganas–seperti bayangan sebelum berangkat–. Mereka berhasil berlabuh setelah tiga jam menerobos laut lepas itu.

Pak Edy–pengelola Exotic Resort Pulau Berhala–, bergegas menyambut Paul dan rombongan turun dari perahu. Mereka langsung melipir ke sebuah rumah yang sudah disiapkan untuk tempat istirahat.

Sebagian menginap di rumah bernomor 01, sebagian lain di rumah bernomor 02. Meski sudah beralih ke Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri. Tapi, bangunan-bangunan ini rupanya dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Tanjab Timur–persis di era Bupati Abdullah Hich dan Zumi Zola–.

Nah,

Tepat di belakang rumah 01 itu terdapat jalan setapak bertingkat–yang menuju puncak bukit–. Di sebelahnya bercokol sebuah prasasti yang bertuliskan Pemerintah Kabupaten Tanjab Timur, Makam Dtk Paduko Berhala di Pulau Berhala.

Di puncak bukit inilah Ahmad Barus II–yang kelak mendapat julukan Datuk Paduko Berhalo– itu disemayamkan. Di tangan Ahmad Barus II itu pula, konon Pulau Hantu itu beralih nama menjadi Pulau Berhalo.(Bersambung)

Daeng Hamdi, tim keluarga Fachrori umar saat berpose di pantai Pulau Berhala, sesaat hendak berziarah menuju Makam Datuk Paduko Berhalo.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

News Feed