by

Menyabung Nyawa di Pusara Rang Kayo Hitam

Kendaraan rombongan tim keluarga Fachrori Umar itu sempat terperosok, terendam dalam genangan air dan nyaris terseret arus Sungai Batanghari. Mereka bertaruh nyawa menuju makam leluhur etnis Melayu Jambi itu.

————

Ditemani keluarga besar keturunan Raja Jambi–Raden Wawan dan Raden Syah Iran–, Miftahul Ikhlas meluncur ke makam Rang Kayo Hitam, di Kelurahan Simpang, Kecamatan Berbak, Tanjab Timur, Sabtu 1 Februari 2020. Selepas zuhur, tim keluarga Fachrori Umar itu bergerak dengan dua kendaraan bergardan ganda.

Pusara Rang Kayo Hitam itu semestinya bisa dijangkau paling lama 3 jam perjalanan dari pusat Kota Jambi. Andaikan jalannya mulus lus, jarak tempuhnya tentu bisa lebih singkat lagi. Tapi, rombongan Miftahul Ikhlas itu baru bisa sampai kampung Selat, setelah tiga jam perjalanan. Dari Selat, jarak tempuh menuju makam, masih butuh waktu satu jam lagi.

Maklum, kondisi jalan berdebu, di sana-sini disergap lubang menganga, membuat rombongan tak bisa melaju kencang. Mereka terpaksa memperlambat laju kendaraan, karena kudu melewati jalanan yang kerusakannya, naudzubillah, maaf, seperti kubangan kerbau.

Menjelang Maghrib, rombongan melipir ke rumah Rusli–anak muda Selat yang sarjana hukum itu–. Melempar senyum ramah, Rusli bergegas menggamit tangan Paul–sapaan akrab Miftahul Ikhlas–, dan langsung memboyongnya masuk ke rumah.

“Kita istirahat dulu. Karena perjalanan masih cukup berat. Biar energi bertambah,”kata Paul kepada koleganya.

Raden Wawan, Raden Syah Iran, Jefri Bintara Pardede, Daeng Hamdi dan rombongan lainnya kompak mengangguk–tanda setuju–. Beberapa lainnya, bahkan terlihat sempoyongan. Di rumah Rusli, mereka merebah diri sembari beristirahat.

“Perjalanan masih satu jam lagi. Tapi, ada beberapa titik jalan terendam air. Gak tau bisa lewat atau tidak. Sejak air naik, warga tidak berani melintas. Mereka terpaksa mutar dari arah Sabak,”kata Rusli kepada rombongan.

Seusai Maghrib, ahlul bait menjamu tetamunya ikan gabus bakar dengan sambal yang memerah itu. Hati masygul dan perasaan mengumpat–akibat kondisi jalanan yang buruk itu–, mendadak sirna ketika menengok masakan khas Selat itu sudah terhidang.

“Masakan yang gini ini dak ketemu di Kota Jambi,”imbuh Daeng Hamdi, sembari menyeka keringat yang mengalir deras di dahinya.

Selepas makan, mereka kembali duduk melingkar, di ruang tengah rumah Rusli itu. Dipandu Rusli dan Wak Koy, mereka kembali berembug–membahas rencana berziarah ke makam Rang Kayo Hitam–.

Klop.

Semuanya bersepakat dan kompak melanjutkan perjalanan–tanpa tahu sebesar apa resiko yang akan menghadang–.

Setelah membeli beberapa senter, Paul memimpin rombongan meluncur dari kediaman Rusli menuju pusara leluhur etnis melayu Jambi itu. Rusli turut diboyong, sebagai juru penunjuk arah.

II

Menerobos gelap gulita. Mereka memulai perjalanan setelah berdoa dan mengucap “Basmallah..”. Lantaran kondisi jalan yang buruk, iring-iringan kendaraan tim keluarga Fachrori Umar itu terpaksa berjalan pelan, paling banter 30 KM per jam.

Paul, bergegas mengambil alih kemudi dari tangan Kocu–sapaan Jefri Bintara Pardede–. Seperempat jam perjalanan, rombongan mendadak berhenti. Sejauh mata memandang, jalanan mendadak lenyap karena tertutup air–yang dikirinya Sungai Batanghari sementara sebelah kanannya mengalir anak Sungai–.

Dua perahu terlihat stand by. Dua orang warga bergegas menghampiri rombongan.

“Maaf pak. Airnya dalam. Arusnya deras. Kondisi gelap gulita. Sebaiknya gak usah lewat pak. Bahaya,”sapa seorang pria.

Dalam beberapa jenak, Paul dan koleganya kembali berembug. Ada yang sependapat, sebaiknya perjalanan diurungkan. Mengingat resikonya cukup besar–nyawa bisa melayang–. Sebagian lain terdiam membeku–antara takut dan ingin lanjut–.

Paul sempat terdiam beberapa detik. Sorot matanya jauh memandang lautan air itu.

“Kita lanjut. Insyallah aman. Percayalah. Niat kita baik…,”Kata Paul.

Setelah mengubah persneling mobil ke posisi double, Paul dan rombongan melintas air itu. Semua kaca mobil diturunkan. Sementara pintu mobil dibiarkan tak terkunci. Mereka berjaga-jaga jika mobil naas dan terseret arus Sungai yang mematikan itu.

Semuanya tegang. Mereka berpegangan erat. Menerobos air di malam gelap, membuat nyali siapa saja pasti ciut. Bulu kuduk pun bergidik. Malam itu, mereka betul-betul menyabung nyawa. Sekali terpeleset saja, kendaraan akan terseret arus Sungai Batanghari.

Ketegangan kian memuncak ketika air sudah masuk ke dalam mobil. Paul berusaha tenang mengendalikan kemudi–tak sedikitpun menurunkan gas–.

Syukurlah….

Kali ini, mereka sukses melewati maut itu.

Paul ketika menabur bunga di pusara Rang Kayo Hitam

III

Pusara Rang Kayo Hitam itu berada persis di samping aliran Sungai Batanghari. Sebuah Mushola berkeramik gelap dibangun berdampingan dengan pusara sang Raja.

Pusara itu tertutup tirai kain berkelir kuning. Persis disampingnya adalah pusara Ratu Pemalang–istri Rang Kayo Hitam–. Tak seperti lazimnya makam orang awam. Pusara Rang Kayo Hitam berukuran memanjang, sekitar 6 meter. Sementara di masing-masing ujungnya terdapat nisan yang terbuat dari batu asli ukuran orang dewasa. Bagian ujung nisan itu terukir indah membentuk lancip–seperti ujung bunga randu–.

Di luar tirai, terdapat dua makam lain. Satu makam ukuran besar. Menurut Triman–penjaga makam–, itu adalah makam kucing peliharaan Rang Kayo Hitam. Konon, kucing itu dipercaya adalah seekora Harimau. Wajar, ukuran makam sang kucing laiknya manusia dewasa.

“Paling ujung ini adalah pusara juru kunci pertama makam Rang Kayo Hitam,”ujarnya.

Seusai wudhu dan sholat Isya serta sholat sunat dua rakaat di Mushola itu, Paul dan rombongan bergegas menuju pusara dan langsung mengambil posisi duduk di tengah–diantara makam Rang Kayo Hitam dan Istrinya itu–.

Dipimpin Raden Syah Iran, mereka tunduk takzim sembari membaca surah Yasin dilanjutkan tahlil dan tahmid. Selepas itu, mereka tampak menengadah kedua tangan seraya berdoa.

“Malam ini kita sudah berziarah ke makam leluhur kita, Rang Kayo Hitam. Jambi ini bertuan. Kita berdoa, semoag arwah mereka ditempatkan disisi terbaik. Dan kita yang ditinggal dapat mempelajari sejarah dan perjuangan mereka dalam membangun daerah,”ujar Paul di areal makam Rang Kayo Hitam itu.

Selepas dari makam Rang Kayo Hitam, tim keluarga Fachrori Umar itu nekat nyeberang Sungai Batanghari–untuk menengok makam Rang Kayo Pingai, kakak kandung Rang Kayo Hitam–. Wak Man cuma bisa geleng-geleng. Menurut pemilik ketek itu, sepanjang hidupnya baru kali ini memboyong peziarah ke makam Rang Kayong Pingai di Seberang Sungai Batanghari, malam-malam.

Sementara Kocu terpaksa stop dan memutuskan tak ikut ke makam Rang Kayo Pingai. Paul dan beberapa koleganya justru tetap nekat menerobos Sungai Batanghari, di kegelapan malam itu.

Dengan hati-hati, Wak Man berhasil mengangkut rombongan hingga menepi. Berbekal sebuah senter, rombongan berjalan kaki menyusuri jalan setapak–selebar satu meter–dari bibir sungai menuju makan Rang Kayo Pingai.

Makam itu terletak di dalam sebuah bangunan. Berada menjorok ke dalam hutan–sepanjang 200 meter dari bibir sungai–. Seperti Rang Kayo Hitam, makam Rang Kayo Pingai juga diselubungi kain berkelir kuning. Dua buah batu besar–seperti batu kayu sungkai– tercacak sebagai batu nisan. Tak ada lampu. Pusara Rang Kayo Pingai, maaf, terlihat kurang terawat.

Seperti biasa, Paul dan koleganya segera beringsut setelah berdoa dan membersihkan makam itu.

Berziarah ke makam rang kayo pingai

IV

Nyaris Tenggelam

Usai berziarah, rombongan bergegas pulang ke Jambi. Malam itu, mereka kembali melintasi jalan yang sama. Informasi dari warga, air mulai pasang dan naik. Tapi, mereka tetap saja nekat menerobos jalan itu.

“Kita bismillah saja….,”ujar Paul.

Selepas menyeruput kopi yang dihidang Mbah Tiyem–salah satu pengurus makam–, mereka meluncur ke Kota Jambi.

Baru pukul dua belas malam ketika mereka mulai melintasi jalan yang terendam air itu. Informasi warga, betul adanya. Air kian pasang.

Sebelum nekat melintas, Paul meminta koleganya bersiap-siap. Lagi-lagi dengan mengucap basmalah, iring-iringan mobil tim Fachrori itu melaju menerobos air. Baru beberapa jenak melintas, air merendam separuh badan mobil, hingga masuk ke dalam. Kaca depan mobil mendadak buram, tertutup embun.

Brakkkkk….

Kendaraan yang ditumpangi Paul terperosok ke samping kiri. Mobil pun mati. Para penumpang panik. Mobil mulai oleng dan terseret arus sungai. Dalam beberapa detik Paul kembali menekan gas dan mengarahkan kendaraan ke tengah.

Entah kenapa..Mobil tetiba hidup dan berhasil berjalan berenang.  Dan Alhamdulillah…mereka berhasil menepi. Selepas menepi, mereka menengok kondisi mobil dan mesin yang sudah basah. Plat mobil itu pun lenyap di bawa arus air.

Wartawan Jambi Link yang turut meliput merasakan langsung suasana mencekam malam itu.

“Semoga kadis PU segera memprioritaskan pembangunan jalan ini. Kasihan rakyat, kalau begini terus,”kata Paul.

Paul menyebuat akan mengakhiri napak tilas ini setelah berziarah ke makam Datuk Paduko Berhalo–ayah kandung Rang Kayo Hitam–, yang berada di Pulau Berhala.

Ia mengajak warga memahami sejarah leluhur dan tokoh bangsa, dengan sering-sering berziarah ke makam mereka.

“Kesulitan yang kami hadapi dalam berziarah ini, tak ada apa-apanya dari perjuangan dan kerja kerasa leluhur kita dalam membangun daerahnya,”kata Paul.(*)

 

 

 

 

News Feed