by

Daya Kejut Duet Cek Endra-Sukandar

Pasangan dua Bupati itu–Cek Endra-Sukandar–, di Pilgub Jambi selangkah lebih maju. Berdaya kejut besar.

——————

Cek Endra dan Sukandar tak henti-hentinya melempar senyum. Kompak menyapa ribuan warga Sungai Bahar, dua bupati itu menasbihkan diri berpasangan di laga Pilgub Jambi 2020. Pasangan dengan inisial CE-Suka itu berdaya kejut besar. Maklum, langkah politik pasangan Gubernur-Wakil Gubernur itu mendadak viral–baik di lini massa maupun media mainstream–, sejak diresmikan, Kamis 30 Januari 2020, kemarin.

Pengamat Kebijakan Publik Dr Dedek Kusnadi berpendapat, langkah Cek Endra meminang Sukandar sangat tepat. Bahkan, Dedek menilai duet Cek Endra-Sukandar merupakan pasangan ideal. Menurut Dedek, Bupati Sarolangun itu selangkah lebih maju ketimbang kandidat lain. Apalagi, kata dosen UIN STS Jambi ini, Sukandar adalah tokoh yang memiliki basis suara besar.

Menurutnya, pemilih Jawa di Jambi banyak. Dan kesetiaan primordial etnisnya, cukup tinggi–bila berhasil di drive dengan baik–. Karena itu, Dedek menilai Sukandar merupakan tokoh yang berpotensi besar membantu mendulang suara bagi Cek Endra.

“Bagi calon Gubernur, mereka harus berfikir mencari sosok wakil yang bisa membantu jumlah suara. Sukandar berpotensi untuk itu. Apalagi, keduanya kini merupakan Kepala Daerah aktif. Keduanya sudah punya kantong basis di dua daerah. Tinggal menyisir daerah lain. Saya kira Cek Endra kandidat cerdas. Ia piawai membaca situasi,”jelas Dedek.

Data sensus penduduk tahun 2000 mencatat, penduduk Jambi berjumlah 2.405.378 jiwa. Etnis Melayu paling dominan dengan jumlah total 37,87 persen. Etnis Jawa menempati posisi kedua dengan jumlah 27,64 persen Jawa. Lalu disusul etnis Kerinci dengan jumlah 10,56 persen.

Selanjutnya beberapa etnis yang jumlahnya tak terlalu signifikan, seperti Minangkabau 5,47 persen, Banjar 3,47 persen, Sunda 2,62 persen , Budism 2,59 persen dan kelompok kecil lainnya di kisaran 1 persen.

Jumlah ini bertambah menjadi lebih dari 3 juta jiwa pada tahun 2014. Saat ini data etnisitas tidak boleh lagi dimasukkan ke dalam salah satu variabel demografi dalam laporan Badan Pusat Statistik. Sehingga data tahun 2000 ini bisa sebagai dasar untuk melihat komposisi penduduk Jambi berdasarkan jumlah etnis.

Dari data BPS itu menunjukkan bahwa etnis Jawa berpotensi menyumbang suara besar di Pilgub.

Dedek mengatakan, persoalan utama dalam politik adalah bagaimana cara memperbesar dukungan. Sentimen etnis, kata dia, merupakan alat ampuh memobilisasi dan menarik dukungan dari kelompok primordial itu.

Maksud dia, untuk memperbesar dukungan dan mengambil simpati masyarakat, mobilisasi relasi primordial adalah salah satu alat ampuh.

“Relasi primordial sebagai salah satu sarana paling efektif untuk menarik dukungan. Sukandar punya modal itu,”ujarnya.

Sukandar, kata Dedek, adalah representasi basis primordial etnik–kelompok Etnis Jawa–. Seperti data BPS itu, kata Dedek, Sukandar punya kekuatan besar. Apalagi solidaritas etnik Jawa itu bisa menghasilkan fanatisme politik kepada Sukandar.

Sampai saat ini, lanjut Dedek, Sukandar masih dianggap patron dikalangan etnis Jawa.

“Solidaritas kelompok etnik tidak hanya memperkuat integrasi kelompoknya. Tapi juga bisa menjadi senjata untuk menyerang kelompok lawan,”ujarnya.

Sepanjang sejarah Pikada di Provinsi Jambi, menurut Dedek, tarik-menarik dukungan kelompok etnik itu dipakai untuk mendulang suara.

Pada Pilgub Jambi tahun 2010, misalnya. Mobilisasi etnis Jawa di Pilgub, pernah dilakukan oleh Saprial. Dia saat itu berlaga menjadi calon Gubernur berpasangan dengan Agus Setyonegoro, dari etnis Jawa.

Kendati kalah, pasangan ini cukup berhasil memperoleh dukungan 32.188 suara.

Sementara pasangan HBA-Fachrori mewakili kelompok melayu wilayah Sarolangun dan Bungo, berhasil unggul meyakinkan dengan perolehan 123.797 suara.

Kasus serupa kembali terjadi pada Pilgub 2015 lalu. Mobilisasi etnik Jawa dilakukan oleh kelompok HBA. Dimana HBA memilih menggandeng Edi Purwanto, Ketua DPD PDIP sekaligus tokoh asal Jawa.

Hanya saja, pasangan HBA-Edi gagal meraih kemenangan. Mobilisasi kelompok Jawa dinilai tidak dilakukan maksimal oleh tim HBA.

Kajian tentang pembelahan politik seperti santri versus agama lain. Jawa versus luar jawa. Pusat versus Daerah. Pendatang vs Pribumi. Penduduk asli vs keturunan Tionghoa. Priayi dan bangsawan vs orang biasa. Sudah banyak yang menyinggungnya.

Misalnya karya ilmiah yang ditulis oleh Burhan D Magenda “Etnicities and nations Processes Of Interethnic Relation In Latin America, Southest Asia, And The Pasific”.

Maswadi Rauf, dalam bukunya “Konsensus Politik” menjelaskan, ada dua kategori kelompok primordial didasarkan atas persamaan nilai budaya. Yaitu ras/suku dan agama.

Menurutnya, persamaan ras dan suku akan menghasilkan persamaan-persamaan kultural lainnya. Seperti persamaan bahasa, adat istiadat dan kedaerahan. Orang-orang yang berasal dari suku tertentu, akan mempunyai bahasa dan adat istiadat yang sama.

Dalam hal suku atau ras, jelas Maswadi Rauf, seseorang tentu saja tidak bisa berpindah ras atau suku. Karena statusnya sebagai anggota kelompok ras atau suku tertentu tetap melekat pada dirinya sejak lahir.

Meskipun ia tidak mau mengakuinya.

Kedua ikatan primordial itu membentuk sentimen dan loyalitas primordial. Yang akan menghasilkan solidaritas sangat kuat antara sesama anggota kelompok.

Solidaritas dalam kelompok primordial atas dasar ras/suku itu bisa timbul oleh adanya persamaan nilai-nilai budaya tadi. Yang membuat mereka memiliki cara hidup, pola pikir dan kepentingan yang sama.

Semua persamaan itu membuat mereka bersedia membela kelompok mereka. Dengan pengorbanan apapun. Bahkan bersedia mengorbankan nyawanya.

Maswadi Rauf mempertegas, bahwa dukungan terhadap isu-isu primordial adalah alamiah. Karena solidaritas dan ikatan primordial itu sendiri bersifat alamiah. Politik yang diwarnai isu primordial akan menghasilkan dukungan fanatis dari kelompok primordial bersangkutan.

Lebih lanjut, Rauf mengatakan ikatan primordial merupakan alat yang ampuh untuk menarik dukungan dari anggota kelompok primordial itu.

Meskipun, pasca reformasi memungkinkan semua orang yang memiliki kemampuan dan kapabilitas bisa dipilih. Mereka berkesempatan ditunjuk menjadi pemimpin.

Namun bagi warga Etnik Melayu Jambi, faktor primordialisme agama (Islam) menjadi penting untuk dipertimbangkan. Dan menjadi alasan dan landasan dalam menjatuhkan pilihan politik.

“Sehingga, sampai sejauh ini, belum ada satupun calon kepala daerah, baik di provinsi maupun di Kabupaten/Kota yang beragama non Islam,” imbuh Dedek.

Tak salah, Cek Endra meminang Sukandar. Menurut Dedek, Sukandar dianggap tokoh potensial pendulang suara. Ia dinilai mampu melakukan mobilisasi politik terhadap kelompok etniknya, Yaitu Jawa.

Selepas Cek Endra-Sukandar menyatakan sikap resmi politiknya, kandidat lain pastilah segera bermanuver. Siapa pasangan selanjutnya?(*)

News Feed