by

Pemimpin Adu Gagasan Vs Adu Uang

Oleh :

Alven Stony

 

Pemilihan Kepala Daerah–Gubernur dan Bupati–, di Provinsi Jambi sudah di pelupuk mata. Sesuai jadwal, pesta rakyat itu akan bergulir pada September 2020, tahun ini.

Dalam catatan saya, Pilkada kali ini terbilang biasa-biasa saja. Tak ada yang baru dan spektakuler. Terlebih, kandidat yang bersiap bertarung tak jauh-jauh dari rezim penguasa lokal. Istri atau kerabat kepala daerah misalnya.

Kontestan juga kerap ditelisik keseriusannya lewat seberapa besar modal kapital yang dipunya. Maklum, harta bejibun kini lebih seksi dibincangkan ketimbang apa gagasannya dalam membangun daerah.

Wajar, nuanasa adu gagasan, kemudian semangat membangun Daerah, hanya sebatas narasi saja.

Padahal, sumber daya dan potensi Jambi begitu besar untuk dibahas. Daerah berjuluk Sepucuk Jambi Sembilan Lurah itu misalnya, punya empat Taman Nasional. Sederet perkebunan, mulai dari Teh, Kopi, sawit dan tambang Mineral–yang kini menjadi tulang punggung ekonomi bangsa–, belum dirasa optimal dikelola. Bahkan, maaf, potensi jumbo itu tak diperhitungkan di kancah nasional.

Coba tengok, Jambi belum dihitung dalam skala perhelatan kepemimpinan nasional. Jangan pula nekat bermimpi Jambi menjadi pusat Ekonomi Nasional. Itu ibarat jauh panggang dari api.

Siapa yang salah?

Saya tak ingin menyalahkan siapa-siapa. Tapi, kita mesti sadar. Bahwa negeri yang kita Cinta ini, maaf, belum punya posisi tawar–Bargaining Position–, di level nasional. Kita tak punya orang yang mampu menerobos dan mempengaruhi kebijakan nasional–yang disanalah bertabur fasilitas infrastruktur–.

Jambi, lagi-lagi kita cuma bisa mengelus dada–karena tak kebagian kue pembangunan secara signifikan–.

Ambil satu contoh NTT–yang minim potensi tapi punya SDM kuat di level nasional–. Sehingga NTT bisa melaju pesat, jauh meningalkan Jambi.

 

*Kepala Daerah Adu Uang*

Sudah menjadi rahasia umum. Untuk menjadi Gubernur, mesti menyiapkan modal setidaknya Rp 100 Miliar hingga Rp 200 Miliar. Selevel Bupati/Walikota kudu punya stok modal minimal Rp 30 Miliar hingga Rp 50 Miliar.

Adakah orang yang mau menghamburkan uang sebanyak itu?

Kalaulah uang itu didapat dari kerja keras dan sumber usaha yang benar, hampir dipastikan, entah itu pengusaha ataupun praktisi, pastilah ogah menggelontorkan dana sebesar itu. Apalagi untuk sesuatu yang tak pasti.

Lain hal jika uang itu didapat dari cara tak benar, korupsi misalnya. Ehmmm…mereka tak segan-segan membuang fulus segede itu.

Menjadi wajar, ketika sukses menjadi kepala daerah, mereka agresif memperdagangkan pengaruhnya. Menggunakan kekuasaan untuk menumpuk kekayaan.

Praktik transaksional dan ijon proyek bukan lagi hal tabu. Bahkan kian menjadi-jadi. Kasus Operasi Tangkap Tangan KPK di Jambi dua tahun lalu, mengisyaratkan akan hal itu.

Bahkan, kini mulai ramai dibincangkan ihwal praktik pungli seleksi Kepala Sekolah. Bayangkan, sekelas Kepsek saja diperdagangkan. Mau seperti apa wajah pendidikan kita?

Kalaulah politik uang itu terus dibiarkan, maka, wajib hukumnya saya, kita dan semua masyarakat bersikap kritis. Jangan mau memilih pemimpin yang mengumbar uang dan pengaruh itu. Kita bisa belajar dari Kota Solo, Kota Surabaya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Sulawesi Selatan.

Pemimpinnya cerdas dan merakyat Sehingga mendapat pemimpin yang benar-benar bersih dan mencintai rakyatnya.

Kita kudu jeli memilih pemimpin yang kuat gagasan membangunnya. Bukan mereka yang kuat modalnya.

 

*Ruh Kepemimpinan yang hilang*

Perilaku korup, menghalalkan segala cara merupakan tabiat buruk yang sudah lazim kita tengok sehari-hari. Utamanya dalam tiap Pilkada.

Padahal, tiap jasad manusia itu bersemayam ruh–yang suci dan berperangai malaikat–. Tapi, acapkali, ruh itu terseret kelembah Nista, karena godaan syahwat duniawi, kesombongan dan keangkuhan dalam berkuasa.

Tapi, kita tetap optimis. Tidak semua kepala daerah berperangai jelek begitu. Masih ada segelintir pemimpin, yang berhati malaikat. Risma, Walikota Surabay misalnya. Lalu FX Rudyatmo di Solo. Begitupula Presiden Jokowi yang dengan tulus dan serius membangun negara.

Mereka adalah sederet pemimpin yang tak mengandalkan fulus sebagai alat kampanye. Tapi, betul-betul menawarkan visi dan gagasan.

 

*Masa Depan Jambi yang Hilang atau Gemilang?*

Secara geografis, posisi Jambi sangat strategis–di kawasan regional maupun internasional–. Jambi misalnya, dikelilingi daerah tetangga yang kaya raya. Masalahnya, kita gagal memanfaatkan peran regional itu untuk kepentingan Jambi. Malah sebaliknya, mereka yang menikmati dan menghisap madu daerah kita.

Berdekatan dengan jalur perdagangan internasional, Singapura dan Malaysia, posisi Jambi betul-betul strategis.

Tapi, Jambi kini bak Ibu yang tengah hamil tua. Selain nihilnya hilirisasi, tak tersedianya pelabuhan internasional menjadi penghambat Jambi melesat Maju. Laba dari arus ekspor komoditi Jambi, justru dinikmati daerah tetangga–semisal Sumbar dan Sumsel–. Warga Jambi, lagi-lagi, maaf, cukup puas dengan menjadi penonton.

Masalahnya, kita tak punya bandara internasional apalagi pelabuhan besar.

 

*Penutup*

Ketertinggalan itu bisa kita kejar lewat menggenjot potensi SDM. Pemerintah, mesti mendesain arah pembangunan–yang menitikberatkan ke arah pembangunan SDM–. Kita misalnya, sudah mulai berfikir bagaimana mengirim dan memperbanyak stok anak-anak Jambi yang berkiprah di level nasional.

Selepas mereka sukses di level nasional, ajak mereka pulang untuk membangun daerah. Lewat koneksi dan jejaring yang telah dibangun diluaran sana, Insyallah Jambi bisa dikelola dengan baik.

Tapi, jangan pula merasa dengki dengan mereka. Seolah-olah, mereka dianggap pesaing dalam merebut posisi kepala daerah. Ini penyakit jahiliyah yang mesti secepatnya dienyahkan.

Gara-gara cara berfikir mundur begini, kreatifitas putra-putri terbaik dimatikan. Demi kepentingan kelanggengan kekuasaan, penyakit ini bak kanker stadium 5 yang akan menggerus masa depan regenerasi kepemimpinan Jambi kedepan.

Maklum, para kepala daerah nantinya hanya akan lahir dari rezim dan koloni penguasa. Padahal, rakyat mendambakan pemimpin yang lahir dari rahim rakyatnya.

Faktanya, kekayaaan sumber daya alam kita tidak menjamin kegemilangan Jambi. Negara Bangsa akan Gemilang tanpa tergantung Sumberdaya alam. Yang membuat Gemilang adalah Kuatnya SDM yang profesional dan berintegritas, laiknya Singapore.

Harapan Penguatan SDM adalah isu yang belom terlambat. Walaupun negara lain sudah ratusan tahun memulainya. Tidak ada kata terlambat untuk kebaikan. Ayo berbenah diri…(*)

 

Penulis adalah salah seorang pengusaha sociopreneur, penggiat sekolah welas asih berwawasan Islam dan kini tinggal di Jakarta.

 

 

 

 

News Feed