by

Arah Banteng di Pilgub Jambi

Diklaim merapat ke Al Haris, Partai berlambang kepala banteng itu justru diperkirakan akan berselancar bersama petahana Fachrori Umar. Netizen wacanakan Kaesang–putra Presiden Jokowi–, turun gunung.

————–

Mengantongi sembilan kursi DPRD Provinsi Jambi, tiket PDIP diperebutkan. Selain diincar dua kader partai–Saprial dan Abdulah Sani–, partai banteng itu juga dibidik sejumlah pesohor.

Selain Bupati Merangin–yang getol mengklaim bakal melenggang bersama Abdulah Sani–itu, PDIP justru diperkirakan bakal merapat ke petahana Fachrori Umar.

“Begini ya…yang jelas, pak Fachrori sudah mendaftar ke PDIP sebagai calon Gubernur. Dan siap mengikuti mekanisme di internal partai,”kata Miftahul Ikhlas, Ketua Tim Keluarga Fachrori Umar.

Paul–begitu ia akrab disapa–, emoh berandai-andai. PDIP, kata dia, juga pasti akan realistis. Ia melempar isyarat bahwa Fachrori satu-satunya kandidat gubernur yang sejalan dengan platform perjuangan PDIP.

Mengenai dua juru kunci partai–Edi Purwanto dan Megawati Soekarno Putri–, klaim Paul, komunikasi Fachrori berjalan sangat baik. Begitupula denga Saprial dan Sani, kata Paul, pihaknya sudah berkomunikasi.

“Politik itu dinamis. Lihat saja nanti,”ujarnya.

Jagat maya mendadak terbelalak. Tak ada angin tak ada hujan, netizen tetiba menjagokan Kaesang Pangareb–putra Presiden Jokowi–, untuk diusung PDIP di laga Pilgub Jambi 2020 mendatang.

Sementara Saiful Djarot–yang dikirim Megawati–, ke Pilgub Sumatera Utara. Owner Sang Pisang legendaris yang berpusat di kawasan Tugu Juang, Jambi itu justru digadang-gadang turun gunung ke Pilgub Jambi via PDIP.

Netizen, sekonyong-konyong menjagokan Kaesang berduet bersama petahana Fachrori Umar. Wacana ini muncul seiring dengan isu merapatnya banteng ke sang petahana itu.

“Kayanya ada wacana bersanding nih…..,”tulis akun Facebook Imam Ristian, menanggapi beredarnya potret akrab Fachrori dan Kaesang di dinding Facebook Jefri Bintara Pardede.

Aktivis yang kerap disapa Kocu itu, mengupload foto mesra Kaesang dan Fachrori di laman Facebooknya, Senin 13 Januari 2020, kemarin. Baru saja di upload sekitar pukul 21.33, foto tersebut  ramai disorot netizen pengguna Facebook.

“Semoga direstui duet figur inspiratif generasi milenial dengan seorang tokoh panutan. Ini bisa disajikan di Pilgub Provinsi Jambi. Amin. Jangan kasih kendur…,”imbuh Imam Ristian.

Paul hanya tergelak ketika dikonfirmasi. Ia seperti enggan mengomentari wacana itu. Tapi, Paul lagi-lagi mengisyaratkan.

“Politik itu dinamis. Selalu berubah tiap jam, menit bahkan detik. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Termasuk wacana nyeleneh netizen itu,”katanya.

Tokoh berkepala plontos itu lantas menukil jejak Kyai Ma’ruf Amin yang digaet Jokowi sebagai Wapres, justru di menit-menit akhir pendaftaran. Padahal, menurut Paul, nama Mahfud MD jauh sebelumnya sudah ramai digadang-gadang. Justru, lanjut dia, nama Kyai Ma’ruf, jangankan masuk bursa, digadang saja tidak pernah.

“Begitulah politik. Dia dinamis, bukan statis. Yang pasti, pak Fachrori sudah mengantongi partai dan paling siap bertempur,”selorohnya.

Sinyal merapatnya PDIP ke Fachrori, memang kian terbuka. Diantara sederet pesohor yang mendaftar ke PDIP misalnya, hanya Fachrori yang disambut pentolan partai.

Mengenakan batik corak merah, Fachrori disambut Sekretaris DPD PDIP Provinsi Jambi Zaidan Ismal ketika ia mengembalikan formulir pendaftaran, belum lama ini.

II

Pengamat kebijakan publik, Dr Dedek Kusnadi berpendapat, Fachrori punya koneksi kuat ke Megawati–Ketua Umum PDIP . Ia terhubung lewat mantan ajudan Megawati.

Koneksi Fachrori ke jejaring Mega, terbuka lewat kerabatnya, jenderal intelijen di Markas Besar Kepolisian. Menurut Dedek, jejaring itu memungkinkan langkah Fachrori mendapat tiket PDIP.

“Saya melihat peta relasi ini memungkinkan Fachrori lebih mudah terkoneksi ke Megawati. Saya agak yakin, PDIP akan bersama Fachrori,”kata Dedek.

Menurut Dedek, jejak PDIP di tiap pilgub nyaris absen menyokong kader internal. Diawali dari Pilgub tahun 2010 silam, partai banteng itu, kata dia, sudah mengusung kader internal–Safrial yang kala itu Bupati Tanjab Barat. PDIP, kata dia, lebih memilih kalah terhormat asal mengusung kader internal.

Berlanjut pada Pilgub 2015 lalu, tak tanggung-tanggung, PDIP malah menyorong komandan partainya–Edi Purwanto sebagai wakil HBA.

“Meski kalah, tapi PDIP merupakan satu-satunya partai yang konsisten mengusung kader internal. Saya membaca, fenomena ini akan berlanjut pada Pilgub 2020 mendatang. Kader internal berpeluang besar diusung, baik sebagai nomor satu atau nomor dua,”jelas Dedek Kusnadi.

Dosen pasca sarjana UIN Jambi ini menilai, Edi Purwanto akan menjadi tokoh kunci dalam perebutan tiket PDIP itu. Selain karena ketua partai, Edi Purwanto diklaim punya akses kuat ke DPP–utamanya klik ke Megawati Soekarno Putri. Edi disebut-sebut salah satu kader kesayangan Mega.

“Pilgub kali ini Edi akan bersikap realistis. Artinya, ia tak akan ngoyo menyorong kader internal di posisi satu. Di posisi nomor dua sudah cukup, yang penting tetap kader internal,”bebernya.

Sebagai kandidat gubernur, tentu saja Fachrori wajib menggandeng kader PDIP sebagai wakil.

Pertanyaannya, siapa kader PDIP pendamping Fachrori?

Abdullah Sani dan Safrial adalah dua kader PDIP yang mulai ramai dibincangkan. Selain itu, beberapa kader lain juga terlacak ikut mendaftar ke PDIP, seperti Zaidan Ismail dan Wartono Trian Kusumo–anggota DPRD Provinsi Jambi dapil Bungo-Tebo–.

“Realitisnya, Fachrori memang harus mengambil kader PDIP,”ujarnya.

Lalu apa tanggapan Ketua DPD PDIP Provinsi Jambi?

Seperti yang kerap disampaikannya ke wartawan, Edi Purwanto menyatakan lazimnya di PDIP, pastilah memprioritaskan kader internal pada tiap pilkada. Maklum saja, Mega bahkan sampai mengirim Saiful Djarot ke Pilkada Sumut.

Tapi, khusus Pilkada Jambi, Edi mengatakan…

“Masalah nomor satu atau dua nanti kita lihat survei,”kata Edi, belum lama ini.

Tokoh eksternal berpeluang diusung, tapi dengan sejumlah syarat. Paling tidak, kata Edi, PDIP mematok 4 syarat. Mereka harus lulus tahapan Fit and Propertes serta psikotes. Punya popularitas dan elektabilitas yanng mantap. Lalu komitmen menjaga ideologi Pancasila, NKRI, UUD 45 dan kebhinekaan.

“Bisa membawa Jambi berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di dalam kebudayaan,”kata Edi.

Syarat itu tentu bukan sebatas basa-basi. Tapi, mereka yang bisa mencuri hati Edi dan Mega lah yang paling berpeluang diusung. (*)

[AWIN]

 

News Feed