by

Saatnya Pemerintah dan Warga Kampus Bergandengan Tangan

Oleh

Prof Dr Suaidi Asy’ari MA, Ph.D
(Rektor UIN STS Jambi)

 

Tewas lagi. Di Merangin lagi. Yusuf, Jegek, Dosol, Dedok, Eko dan Danang, itu merenggang nyawa sia-sia. Bukan sebagai pahlawan. Mereka tewas tersuruk ke dalam lubang PETI–Penambang Emas Tanpa Izin–, di Desa Pulau Baru Kecamatan Batang Masumai. Orang se Merangin heboh. Warga se Jambi heboh. Mayapada geger. Ini tragedi yang kesekian kali. Mau sampai kapan begini?

Pemerintah Daerah, lagi-lagi jadi kambing hitam. Ia dihujat. Dicaci maki. Dibilang abailah. Dibilang tutup mata lah. Aparat pun setali tiga uang. Ikut ketiban sial. Mereka, maaf, kerap jadi muara hujatan. Dianggap tak mampu memberesi PETI itu. Dituding jadi pembeking lah. Macam-macam.

Nun jauh di pelosok kampung itu. Lubuk Beringin Kabupaten Bungo. Air sungainya mengalir jernih. Rumput dan bebatuan, bahkan sampai tetengok mata telanjang. Bening tanpa merkuri. Ikan semah berkeliaran di sungai itu. Mereka bergerak lincah, menyelinap di balik bebatuan. Indah sekali. Warganya pun hidup harmonis. Jauh dari hiruk pikuk PETI. Kok bisa?

Dari Merangin lagi. Ini bukan PETI. Tapi kisah heroik.

Ada anak muda. Lilik Kurniawan. Asal Tabir. Nekat. Memboyong anaknya Balda. Usia 4 tahun. Dari Jambi ke Mekkah pakai motor berplat BH itu. Delapan bulan perjalanan. Melintasi beberapa negara. Tidur di jalanan. Pakai tenda seadanya. Hujan-panas terus di terobos. Hingga sampai ke tanah kelahiran nabi.

Sementara, foto-foto jadul, Jambi tempo dulu itu, terpajang ramai di sudut Bandara Sultan Thaha Jambi. Menjadi pemandangan unik tiap warga yang melintas. Siapa saja yang datang menengok, pastilah takjub. Potret Jambi masa silam terpapar jelas di situ.

Puzzle tiga peristiwa maha penting ini, entah kebetulan kok terjadi beriringan. Ia menjadi kado monumental disaat Jambi genap berusia 63 tahun. Sederet peristiwa, yang terjadi secara bersamaan, pastilah syarat makna.

Ini semacam anomali saja. Absurditas. Sebuah keanehan. Satu sisi, ada orang berbondong-bondong hendak mengingat kedigdayaan masa lalu. Sisi lain, ada segerombolan orang meninggal sia-sia. Di tempat illegal pula.

Sisi berikutnya, kita bahagia menengok drama heroik yang dipertontonkan Lilik Kurniawan, mantan anggota DPRD itu. Yang membuat heboh jagat dunia itu.

Baiklah.

Saya ingin memberi semacam catatan dibalik berbagai peristiwa penting ini.

Kita mulai soal PETI.

Sebenarnya pemerintah cukup serius mengenyahkan PETI. Aparat pun lebih serius lagi. Tak satupun pemerintah yang mau daerahnya hancur, rusak berantakan. Coba tengok, betapa banyak razia PETI sudah digeber. Berapa banyak alat berat sudah dibakar. Tapi, PETI kok tetap berjalan dengan rileks?.

Ini persoalan perut, memang. Kalau sudah menyangkut perut, maaf, semua orang akan tutup mata. Pusing tujuh keliling. Pemerintah acapkali disergap dilema. Tapi, PETI tak boleh dibiarkan. Perlu dicari jalan keluar terbaik. Bagaimana caranya?

Semua mahfum, bahwa Perguruan Tinggi itu pencetak akademisi-akademisi andal. Di sana lah berkumpul ilmuwan-ilmuwan hebat. Mereka melahirkan banyak manusia pintar. Ia mencetak orang yang berfikir holistik, logik dan berbasis akademik.

Masalahnya, selama ini, komunitas kampus tak pernah diajak dan dilibatkan. Semestinya, pemerintah membuka diri, dengan mengajak warga kampus, misalnya, untuk menggali dan meriset masalah PETI itu. Mengapa bisa terjadi? Apa Masalahnya? Bagaimana penyelesaiannya? Ini tentu perlu diriset.

Warga kampus, melalui riset itu, pasti bisa mencari solusinya. Tentu saja solusi yang akan menguntungkan kedua belah pihak. Lewat proses riset pula, gagasan-gagasan pembangunan itu dilahirkan. Eksekutif, contohnya, tinggal jalan saja mengeksekusi ide besar itu. Lalu, legislatif, berperan merancang aturan.

Kerjasama dengan lintas kampus ini penting, tak boleh diabaikan. Daerah ini tak bisa dibangun sendirian. Orang-orang pintar kudu dilibatkan.

Soal anak muda nekat tadi.

Diksi kalaulah orang Jambi itu pemalas, pupus sudah. Sebagai anak Jambi, Lilik mengubah mainddset itu. Delapan bulan berpeluh keringat, berjuang menuju Mekkah dengan sepeda motor itu, pertanda ia punya semangat tinggi. Kita bahagia sekaligus bangga. Lilik telah membuka mata kita. Ia menginspirasi pemuda-pemuda Jambi. Menggores sejarah dengan memboyong plat BH hingga sampai ke tanah para nabi.

Saya mau sepeda motor Lilik itu dipajang di perpustakaan kampus UIN Jambi. Menjadi monumen bersejarah.

Nah,

Satu hal catatan saya. Untuk membangun daerah, warga kampus mau tak mau, suka tak suka mesti dilibatkan,. Sebagai rektor Universitas Islam Negeri (UIN), saya ingin menggagas perubahan itu.

Begini.

UIN mesti menjadi lokomotif perubahan sosial, tentu saja berbasis Islami. Apa Maksudnya? Kita ingin hadir mengusung perubahan lewat riset dan gagasan besar. Kita ingin merevolusi mental warga, dari malas menjadi rajin, dari suka bohong menjadi jujur, yang koruptif menjadi tidak koruptif. Yang tidak taat aturan menjadi taat. Yang malas bayar pajak jadi rajin. Yang sering menerobos rambu lalu lintas menjadi taat berlalu lintas.

Sebagai kampus yang punya stok banyak ilmuwan, perguruan tinggi penting dilibatkan. Saya membuka diri, mengusung semangat kerjasama itu. Tentu saja, demi Jambi lebih baik lagi. Demi Jambi lebih maju lagi. Agar rakyat kian sejahtera.

Dirgahayu Provinsi Jambi ke 63.

Jaya Selalu.

News Feed