by

Mimpi Jambi Seperti Sanghai

Hari ini, Senin 6 Januari 2020, Provinsi Jambi genap berusia 63 tahun. Di usia yang terbilang cukup sepuh itu, bumi yang berjuluk Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini telah mencicipi pahit getir dan jatuh bangun. Ia digdaya menjadi sebuah provinsi di atas keringat, cucuran darah dan linangan air mata.

Berawal ketika jatuhnya ke Sultanan Jambi ke tangan tentara belanda, 27 April 1904. Menyusul gugurnya Sulthan Thaha Saifuddin, sejak itu, Jambi ditetapkan sebagai keresidenan di bawah komando Nederlandsch Indie.

Selama 36 tahun memamah sumber daya alam Jambi, kekuasaan Belanda beralih ke tentara matahari terbit, Jepang–tepat pada 9 Maret 1942–. Setali tiga uang, di tangan Jepang, nasib Jambi bukannya kian membaik. Rakyat Jambi kembali hidup nelangsa–menjadi sapi perah kaum imperialis–.

Sejarah Provinsi Jambi pun berawal ketika Presiden Soekarno menerbitkan UU Darurat No 19 tahun 1957 tentang Pembentukan Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Jambi. Tapi, sebelum Bung Karno meneken UU itu, Jambi sempat disergap masalah. Ikhtiar menjadi Provinsi terganjal karena jumlah kabupaten di wilayah kekuasaannya masih minim. Masuknya Kabupaten Kerinci ke wilayah administrasi Jambi–sebelumnya Kerinci berada di wilayah Sumbar–, menjadi titik awal lahirnya Provinsi Jambi.

Lain dulu lain sekarang. Problem Jambi di masa kini lebih pelik lagi. Terjepit diantara dua raksasa sumatera–Sumatera Selatan dan Pekanbaru–, Jambi kini bak Ibu yang tengah hamil tua. Selain nihilnya hilirisasi, tak tersedianya pelabuhan internasional menjadi penghambat Jambi Maju. Laba dari arus ekspor komoditi Jambi, justru dinikmati daerah tetangga–semisal Sumbar dan Sumsel–. Warga Jambi, lagi-lagi, maaf, cukup puas dengan menjadi penonton.

Agar Jambi Maju, terobosan demi terobosan mesti dibuat. Ide gila pembangunan kudu diluncurkan.

Kepada Jambi Link, Ahad 5 Januari 2019, kemarin,  putra terbaik Jambi, yang kini dipercaya menjabat Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, Inspektur Jenderal Polisi Syafril Nursal–yang sekaligus juga Ketua Badan Musyawarah Keluarga Jambi (BMKJ) Jakarta– itu, memberikan penjelasan tentang ide dan gagasan pembangunan agar Jambi terbang lebih maju. Agar rakyatnya menjadi tuan di rumah sendiri. Wawancara khusus ini spesial menyambut HUT Provinsi Jambi ke 63.

Irjen Pol Syafril Nursal

 

Sedang sibuk apa nih jenderal?

Alhamdulillah…..di hari libur ini, seperti biasa saya mengisi waktu dengan berolahraga. Agar tubuh tetap bugar. Supaya pikiran tetap jernih…

 

Selamat telah didaulat sebagai Kapolda Sulteng dan sekaligus menyandang pangkat jenderal bintang dua?

Tentu amanah ini merupakan anugerah dan rahmat dari Allah Swt. Syukurlah… Allah SWT maha pemurah dan penyayang kepada hambanya yang bersabar

 

Bapak adalah putra Jambi pertama yang menjadi Kapolda di luar Provinsi Jambi

Iya…Barangkali ini sebuah sejarah. Tapi, saya tak boleh jumawa. Prestasi ini, saya harap menjadi pemicu bagi generasi muda kedepan, agar terus berkarya. Mengasah dan mengembangkan diri, sehingga semakin banyak yang berprestasi. Dengan begitu, langkah untuk menduduki jabatan-jabatan penting di negara kita kian terbuka lebar. Jadilah orang sukses disegala bidang. Juga dengan berbagai kompetensi dan keahlian. Kalaulah orang lain bisa, kita tentu mesti bisa.

 

Menjadi Polisi memang cita-cita sedari kecil?

Ehmmm….cita-cita masuk AKABRI itu bermula ketika di bangku SMP. Entah kenapa, saya merasa naksir dengan orang yang pakai seragam polisi. Tampak gagah. Nah, sejak itu saya mulai giat berlatih. Saya olah fisik tak kenal henti hingga tamat SMA. Stadion  mini di belakang SMP 7 itu menjadi saksi, bagaimana saban hari saya berpeluh keringat di sana. Demi mengejar cita-cita, saya mesti serius. Karena, saya paham kondisi keluarga. Saya tak punya keluarga polisi yang bisa menolong, boro-boro keluarga berpangkat jenderal yang bisa diandalkan…Masuk AKABRI hanya modal nekat, ikhtiar dan kerja keras. Itu saja…

 

Resep sukses menembus puncak karir?

Begini ya…Tak ada sukses yang dicapai dengan mudah. Semuanya butuh proses dan kerja keras serta kesabaran. Sejak di bangku sekolah, saya berusaha belajar lebih keras dari yang lain. Saya selalu belajar lebih serius agar bisa berprestasi, bukan sekedar lulus saja. Alhamdulillah…semasa sekolah, saya selalu dapat ranking. Begitu juga ketika di AKABRI. Saya lulus ranking 5 di angkatan 86–dari 179 Taruna–. Begitu pula saat kuliah di PTIK, saya lagi-lagi mendapat ranking 2. Di Sespim juga sama, lagi-lagi dapat ranking 2. Bahkan, saya pernah dipercaya menjadi Ketua Senat. Di beberapa kursus, saya selalu berusaha untuk mempersembahkan yang terbaik. Demikian juga dalam menjalankan tugas di kepolisian, saya terus melakukan yang terbaik. Syukurlah… saya depercaya menduduki jabatan-jabatan strategis di lingkungan kepolisian, mulai dari level bawah, semisal wakapolsek, sampai jabatan Kapolda. Resep menjadi sukses adalah kesungguhan. Dan selalu berpikir untuk menjadi yang terbaik. Jangan lupa sabar dalam menjalani prosesnya.

 

Di luar kepolisian, Bapak aktif diberbagai organisasi sipil, semisal HKKN dan BMKJ. Apa motivasinya?

Disamping menjalani tugas kepolisian, sebagai makhluk sosial saya kudu terlibat dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Apalagi sebagai putra daerah Jambi yang sangat mencintai tanah kelahiran. Saya merasa terpanggil untuk ikut bertanggung jawab atas kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Makanya, ketika diminta memimpin organisasi orang-orang Jambi perantauan, seperti BMKJ dan HKKN, saya dengan tulus ikhlas menerimanya. Ini sebuah amanah. Bagi saya, melalui organisasi itu, saya bisa ikut, paling tidak berkontribusi bagi pengembangan Provinsi Jambi. semuanya demi melihat masyarakat Jambi sejahtera. Karena itu, selama memimpin BMKJ dan HKKN, saya sangat cerewet, misalnya acapkali meminta para anggota untuk merancang program kerja yang diarahkan dalam upaya mendukung pembangunan Provinsi Jambi. entah itu sebatas konsep ataupun kegiatan aplikatif. Bagi saya, menjadi Ketua Umum BMKJ dan Ketua Umum HKKN adalah bagian dari pengabdian kepada masyarakat Jambi–negeri yang saya cintai dan telah membesarkan saya hingga bisa menjadi Kapolda, seperti sekarang–.

Irjen Pol Syafril Nursal Saat bersama Presiden Jokowi

Jambi genap berusia 63 tahun pada Senin, hari ini. Apa tanggapan jenderal?

Selamat milad Jambiku. Semoga Jambi terus maju dalam membangun masyarakatnya. Saya doakan masyarakat Jambi kian sejahtera, lahir batin. Dan terpenting Jambi secepatnya bisa sejajar dengan provinsi-provinsi lain.

 

Selaku tokoh Jambi yang malang melintang,  bagaimana pandangan Jenderal terkait posisi Jambi di mata orang luar sana?

Saya merasakan betul. Banyak orang luar, maaf, belum familiar dengan Jambi. saya kira, ini karena promosi kita yang masih terlalu lemah. Kedepan, masalah promosi ini perlu ditingkatkan lagi. Jambi mesti sering menggulirkan event nasional ataupun internasional. Begini ya….Jambi harus terus di promosikan. Agar orang luar bisa mengenali Jambi yang kaya sumber daya alamnya– alam yang indah, tanah yang subur, budaya yang unik, kandungan bumi yang melimpah, dan letak yang strategis–. Sekali lagi, promosinya mesti lebih gencar lagi.

 

 Apa yang perlu dibenahi agar Provinsi Jambi diperhitungkan, terutama di level Nasional?

Jambi harus membuka diri. Supaya orang luar berbondong-bondong investasi dan melawat ke Jambi. Karena itu, perlu dibangun jaringan-jaringan kuat ke daerah luar, baik skala nasional maupun internasional. Saya kira Jambi perlu merancang konsep global yang memberikan sebuah harapan masa depan. Supaya orang mau datang berinvestasi dalam jangka panjang. Satu hal yang kudu diingat. Tak ada orang yang  mau berinvestasi tanpa mendapat masa depan yang jelas.

 

Apa saja hambatan-hambatan yang membuat Jambi lambat dikenal dan diperhitungkan dunia luar?

Selain kurang promosi, kita belum punya Grand strategi yang global. Seperti yang sudah saya singgung tadi, kita lemah dalam membangun jaringan ke luar daerah. Sederhananya begini, kita tak punya putra daerah yang duduk di level pusat, semisal menteri. Masalah lainnya, kita cenderung kurang peka terhadap lingkungan strategis. Apalagi, tingkat korupsi masih sangat tinggi ditambah daya saing masih rendah.

 

Gagasan seperti apa agar Jambi Maju?

Kembangkan potensi spesifik daerah, agar potensi itu manjadi pemicu bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Misalnya begini, kembangkanlah Kerinci, katakanlah sebagai pusat wisata. Karena memang begitu potensi wilayahnya. Lalu Merangin, sebagai  mesti dijadikan sentra pertanian. Sementara Bungo sebagai pusat bisnis, Tebo sebagai daerah pertambangan dan perkebunan. Daerah Timur Jambi, semisal Tanjab Barat justru mesti dijadikan sentra perikanan, sedangkan Tanjab Timur sebagai pelabuhan internasional. Kemudian Batang hari dan Muara Jambi musti dirancang sebagai daerah industri. Terakhir,  kota madya Jambi harus dijadikan pusat pemerintahan dan budaya. Bangun juga infrastruktur yang layak dan  mendukung ke arah itu. Dengan demikian, pemerintah punya fokus yang jelas dalam membangun. Saya kira, memang perlu adanya grand strategi yang global.

 

SDM menjadi tantangan tersendiri bagi Provinsi Jambi. Nihilnya tokoh Jambi yang mendapat posisi sebagai Menteri atau jabatan pemerintah pusat, sedikit banyak membuat Jambi tertinggal dan kurang diperhatikan?

Maka…Jambi harus menggagas pengembangan SDM lewat program pendidikan. Fokuslah menyiapkan kader-kader masa depan di segala bidang. Baik bidang pemerintahan maupun swasta. Kita mesti berani berinvestasi  di bidang SDM, kendati harus bayar mahal. Sekolahkan anak-anak muda kita yang berprestasi hingga ke luar negeri. Gratis. Luncurkan program beasiswa. Setelah selesai kuliah,  support mereka bekerja di level nasional. Selain itu, rekrut orang-orang yang memiliki kompetensi khusus untuk bekerja di Provinsi Jambi.

 

Jambi belum punya Pelabuhan maupun penerbangan internasional. Padahal, akses itu menjadi penting untuk mengerek ekonomi Jambi, utamanya menyangkut distribusi komoditi agar mudah go internasional?

Membangun pelabuhan Internasional, semisal Pelabuahn Ujung Jabung mesti segera direalisasikan. Tiada cara lain jika ingin Jambi Maju. Gulirkan hilirasi. Posisi Bandara juga mesti difikirkan. Bandara Depati Parbo Kerinci misalnya, perlu segera diperpanjang runway nya. Supaya pesawat jenis Jet bisa melintas. Ini penting untuk mendorong pengembangan pariwisata di sana. Lalu, bandara Bungo juga begitu. Mesti bisa dilalui pesawat kargo. Agar bisa mengangkut hasil pertanian dan langsung diboyong keluar. Pelabuhan perikanan dan pusat pelelangan ikan juga perlu dibangun di daerah Tanjab Barat.

 

Ada rencana pulang kampung dan akan turut memajukan Provinsi Jambi, misalnya menjadi Bupati atau Gubernur atau anggota DPR RI?

Hahaha…..yang jelas, saatnya nanti saya pasti pulang kampung…hehehee. Yang pasti, saya akan konsen membangun Provinsi Jambi, tanah kelahiran saya. Mimpi saya, di ulang tahun Jambi ke 63 ini, kedepan saya ingin melihat Jambi seperti Sanghai. Dengan gemerlap kota yang maju di seantero dunia. Bravo Jambiku. Selamat Ulang Tahun.

 

[AWIN]

News Feed