by

Cek Endra Kian Agresif Galang Massa

Dari Tungkal Ilir, gerilya politik Cek Endra berlanjut ke Tungkal Ulu. Kian agresif menggalang massa di arus bawah.

————–

Cek Endra baru beringsut istirahat ketika jarum jam hampir mendekati pukul tiga dinihari, Jumat 3 Januari 2019. Seusai subuhan, ia sudah siaga menyambut tetamu–yang datang silih berganti–, ke rumah pribadinya di komplek DPRD Telanaipura. Menjelang pukul sepuluh pagi, Cek Endra diingatkan sang ajudan.

“Kita harus jalan pak,”bisik ajudan, yang akrab dengan sebutan Ucok itu.

Menerobos cuaca tak menentu–siangnya panas terik, menjelang petang disergap mendung–, Cek Endra beranjak ke Pondok Pesantren Fathul Ulum, Desa Sungai Badar, Tungkal Ulu, Tanjung Jabung Barat. Di Desa Dusun Mudo–tepatnya di kilometer 92–, fortune berkelir hitam yang ditumpangi Cek Endra sempat singgah ke Masjid Lailatul Qadar.

Didampingi dai kondang Ustad Inayatullah, sang kandidat gubernur itu sholat Jumat di masjid tersebut. Usai sholat, warga berbondong-bondong berswafoto dan pulangnya mereka di sangoni kalender tahun 2020.

“Itu pak gubernur ya…,”bisik seorang warga.

“Iya..calon pak Gubernur. Ayo kita foto,”bisik warga lainnya.

Syamsudin, mendadak mendekati dan bergegas menggamit tangan Cek Endra. “Saya sudah kenal lama bapak. Kita pernah ketemu di pondok,”sapa Syamsudin, sang imam masjid itu.

Di pintu gerbang selamat datang Desa Rantau Badak Lamo, Cek Endra dan rombongan lagi-lagi melipir ke rumah warga. Wakil Bupati Amir Syakib itu, rupanya sudah menanti di sana. Bang kumis–begitu ia akrab disapa–, menyambut Cek Endra dan bergegas memboyongnya mampir ke rumah pak aji.

Ditemani bang kumis, Cek Endra meluncur ke lokasi acara.

Sempat transit sebentar di rumah Haji Halim, rombongan dijamu makan siang. Pindang patin, gulai nangka dan kolak durian menjadi menu utama yang disajikan shahibul bait itu.

II

Dari rumah Haji Halim, Cek Endra dan Ustad Inayatullah berjalan kaki melewati jalan lintas dan menerobos lapangan hijau yang ditumbuhi rerumputan berair itu. Belasan pria mengenakan loreng Banser, tampak bersiaga mengatur arus lalu lintas.

Ribuan warga tumpek blek di bawah tenda menyambut hangat tamu istimewanya, Cek Endra. Mereka berpeluh sesak menghampiri Cek Endra, demi bisa bersalaman. Untunglah, banser berbadan tegap tangkas membuka jalan.

Dari atas panggung, Cek Endra yang datang mengenakan koko putih dengan kalung sorban itu terus mengumbar senyum. Gemuruh tepuk tangan langsung bersahutan ketika master of ceremony menyebut nama Cek Endra.

“Beliau adalah Bupati yang kini tengah berikhtiar menjadi gubernur,”ujar MC disambut riuh tepuk tangan warga.

Mengenakan peci dan setelan serba putih, Ustad Ibnu Hajar, empunya pondok pesantren Fathul Ulum duduk persis bersebalahan dengan Cek Endra. Mengawali sambutannya, sang ustad mengumbar bahagia atas support dan kedatangan tamu  agung itu. Ia langsung memimpin doa, mengajak santri dan warga menengadahkan tangan, mendoakan kebaikan dan kesuksesan buat Cek Endra.

“Allahuyaaaa karim. Berikanlah kemudahan untuk bapak Cek Endra dan keluarga dalam berikhtiar untuk membangun Jambi….,”

Dihadapan Bupati berinisial CE itu, ustad Ibnu Hajar bercerita ihwal kondisi pondok. Pondok itu, kata ustad, sempat mati dan berhenti beroperasi. Padahal, inilah pondok tertua di Tungkal Ulu yang berhasil mencetak ribuan santri. Dua tahun belakangan, Ustad Ibnu Hajar terpanggil untuk menghidupkan kembali pondok Fathul Ulum.

Syukurlah…..

Kerja keras sang Ustad, perlahan mulai membuahkan hasil. Tapak demi setapak ia berbenah.

“Sementara ini, para santri memang masih belajar di lokal yang sekaligus menjadi tempat tinggal (asrama),”ujar Ustad Ibnu.

Atas dukungan warga dan amanah keluarga besar Haji Hasan, Ustad Ibnu berkeringat menghidupkan ponpes. “Kalau tak didukung, kami pasti balek kampung,”selorohnya.

Cek Endra segera mengode sang ajudan yang berdiri persis di sebelah MC. Sebuah amplop putih berisi uang Rp 10 juta secepatnya berpindah tangan ke CE. Sebelum memulai pidato, CE menyerahkan amplop itu dan diterima langsung Ustad Ibnu Hajar.

“Ini wakaf saya untuk kelancaran pondok pesanstren,” ujar Cek Endra, mengawali pidato tanpa teks di hadapan ribuan warga dan santri itu.

Riuh tepuk tangan lagi-lagi bersahutan.

CE salut atas ikhtiar Ustad Ibnu yang dengan tulus ikhlas berkorban menghidupkan kembali Ponpes Fathul Ulum. CE berkomitmen, akan mensupport keberlangsungan ponpes.

CE bercerita, semasa menjadi Bupati, pembangunan Ponpes memang menjadi fokus utamanya selama ini. Tengok saja, yang dulunya hanya ada 17 pondok di Sarolangun. Kini jumlahnya kian bertambah, tercatat ada 24 pondok.

“Semua pondok itu saya kasih lahan masing-masing 5 hektar. Untuk lahan usaha. Supaya pondok punya pemasukan, punya pendapatan dan mandiri. Insyallah, dengan begitu kesejahteraan guru bisa terjaga,”katanya.

Ia bernjanji, akan menduplikasi program ponpes ke seantero Jambi, ketika kelak dipercaya menjadi Gubernur. Bagi CE, menjadi Gubernur adalah pengabdian.

“Bukan untuk petantang-petentang dan bangga dikawal mobil sirine. Tidak. Tapi, niat saya menjadi Gubernur untuk membantu agama Allah,”ujarnya.

Dai kondang nan kocak, Ustad Inayatullah, mengajak warga dan santri untuk mendukung Cek Endra.

“Pak Cek Endra ini contoh pemimpin idaman. Dialah satu-satunya yang konsen dan mengutamakan pembangunan akhlak dan nilai-nilai agama. Pemimpin tiada duanya,”kata Ustad Inayatullah.

Mengakhiri safari politiknya, Cek Endra dan rombongan beringsut setelah menlayani ribuan warga yang berdesakan ingin berswafoto.(*)

[AWIN]

 

News Feed