by

HBA Absen di Pilgub 2020

Menjamu sederet Pemimpin Redaksi makan malam, Mantan Gubernur Jambi Hasan Basri Agus (HBA) mempertegas sikap politiknya di ajang Pilgub Jambi 2020 mendatang. Tak ikut berlaga. Tapi, mendukung kandidat yang diusung Golkar.

——————

HBA merasakan betul dorongan itu datang bak air bah, mengalir amat deras. Menyokongnya kembali berlaga di Pilgub 2020, menurut HBA, tokoh sepuh itu misalnya, sampai berlinang air mata.

“Beliau menangis minta saya jadi Gubernur. Ada yang mau bantu, ngasih uang asal saya mau tinggalkan DPR. Macam-macam yang datang,”tutur HBA di hadapan para Pemred di Rumah Makan Pagi Sore, Jumat 27 Desember 2019.

Malam itu, HBA panjang lebar menyibak alasan kenapa ia ogah menerima tawaran dan tetap memilih berkarir di senayan. Kondisi kesehatan menjadi alasan utama.

“Saya mengukur diri,”ujarnya.

Mengenakan kopiah dan kemeja kotak-kotak berkelir biru, HBA justru tampak bugar. Langkahnya tetap tegap, seperti laiknya dulu. Tapi, tokoh penggagas ikon Gentala Arasy itu berkilah, justru fisiknya tak sekuat dulu.

Menjadi Gubernur, kata HBA, butuh energi dan fisik yang kuat. Selain mobilitas yang tinggi, lanjut HBA, waktu istirahat Gubernur itu amat terbatas.

“Jam dua malam masih melayani tamu. Jam lima pagi, sudah antri lagi tamu yang nunggu. Mereka semua mau ngadap,”katanya diiringi gelak tawa para Pemred.

Disamping fisik yang kuat, lanjut HBA, menjadi Gubernur itu kudu siap mengelola stres. HBA lantas bercerita pengalamannya semasa menjabat Gubernur periode 2010-2015 itu.

“Kalau ada gubernur lain muncul di TV. Saya jadi kepikiran. Knapa kita tidak bisa begitu?. Ini yang selalu saya hadapi,”ujar HBA yang tetiba menunjuk ke arah Syahrasaddin, Tenaga Ahli nya di DPR sekaligus mantan Sekda Provinsi Jambi itu.

“Sadin tahu betul kerjo sayo,”ujarnya.

Belum lagi, saban hari ia mesti membereskan surat-menyurat yang masuk ke meja kerjanya. Tumpukan surat itu, kata HBA, bahkan….

“Sampai setinggi ini,”ujar HBA sembari menunjuk tumpukan surat hingga setinggi pinggangnya.

Disposisi Gubernur diperlukan secepatnya–supaya anak buah bisa bekerja–. “Kalau dakdo disposisi, bagaimana mereka mau begawe,?”kata HBA.

Rumah dinas, lagi-lagi HBA berseloroh, acapkali mirip pasar. Orang ramai-ramai bertandang.

HBA, memang sosok yang terbuka kepada siapa saja. Selagi tak dinas ke luar kota, HBA selalu membuka pintu bagi semua orang yang datang bertamu. Sementara, dari balik dapur, istrinya Yusniana, sibuk menyiapkan makan dan minum bagi tetamu yang datang.

Begitulah, menurut HBA, suasana yang saban hari dihadapi.

“Untuk mulai yang gitu-gitu lagi, rasanya berat. Walaupun banyak yang datang ke saya, mendorong dan memberi harapan. Saya pikir itu sah-sah saja. Tapi, mohon maaf. Batas saya cuma kemaren itulah,”kata HBA.

Keputusannya  telah bulat. Bahkan, sang istri pun ikut memahami sikap politiknya itu.

“Menjadi gubernur memang capek. Saya merasa nanti tak sanggup, tak kuat begitu lagi. Jadi, saya putuskan tidak maju,”ungkap HBA.

Kendati tak ikut berlaga, bukan berarti HBA absen di Pilgub nanti. Kemana arah dukungan berlabuh?

Dihadapan para komandan redaksi, HBA mengatakan,

“Saya orang Golkar. Banyak calon-calon dari golkar. Siapapun itu, kita lihat siapa yang di usung Golkar,”ujarnya diplomatis.

Mengawali persamuhan, anggota komisi V DPR RI dengan nomor anggota A 275 itu mengenalkan satu- per satu staf yang membantunya di Senayan. Dari Syahrasadin, mantan Sekda itu hingga M Rum–mantan Kepala Samsat–, sebagai Tenaga Ahlinya di DPR.

HBA pun mengenalkan Suheri, mantan wartawan yang kini membantunya sebagai sekretaris pribadi. Tak ketinggalan HBA mengenalkan sejumlah anak muda yang membantunya di lapangan, seperty Dedi Afransyah dan Hari Kurniawan.

Acara ditutup dengan tanya jawab yang di moderatori Syahrasaddin. Sejumlah Pemred tampak berswafoto sebelum beringsut dari lokasi persamuhan.(*)

[AWIN]

News Feed