by

Naik 6,7 Persen; Lonjakan Elektabilitas Cek Endra Tertinggi

Lonjakan kenaikan elektabilitas Bupati Sarolangun, Cek Endra itu tertinggi dari sederet kandidat lain, seperti Fasha, Fachrori Umar maupun HBA. Melesat tajam di angka 6,7 persen dalam tempo beberapa bulan.

——————

Tingkat keterpilihan (elektabilitas) Cek Endra pada survei Idea Institute Indonesia, yang digeber Februari 2019 lalu, memang baru bertengger di angka 2,7 Persen. Tapi, begitu mendeklarasikan diri maju Pilgub dan mulai bersosialisasi sejak Oktober 2019, kemarin, angka elektabilitas Cek Endra langsung melesat tinggi.

Survei Charta Politik pada akhir November lalu menunjukkan, angka elektabilitas Cek Endra melompat jauh di angka 9,4 persen. Dalam tempo singkat, tingkat keterpilihan pria berinisial CE itu naik di angka 6,7 Persen.

Pengamat Kebijakan Publik, Dr Dedek Kusnadi mengatakan, merujuk dua survei berbeda–Idea Institute pada Februari 2019 dan Charta Politika pada November 2019– itu, tampak jelas jika CE menjadi satu-satunya kandidat yang angka elektabilitasnya melompat paling tinggi.

Dedek lantas membandingkan elektabilitas empat kandidat lain yang berada di posisi teratas. Fasha misalnya. Menurut Dedek, elektabilitas Fasha pada Februari 2019, sudah bercokol diangka  14,7 Persen. Begitu di survei pada bulan November, elektabilitas Fasha hanya berada di angka 16 persen.

“Memang Fasha saat ini teratas. Dan angkanya juga naik. Tapi, kenaikannya tidak signifikan. Kalau kita cek dari data survei Februari, kenaikannya hanya 2,7 Persen. Berbeda dengan Cek Endra, yang melonjak tajam di angka 6,7 persen,”kata Dr Dedek Kusnadi.

Kenaikan elektabilitas juga terjadi pada sosok petahana Fachrori Umar. Menurut Dosen Pasca Sarjana UIN STS Jambi itu, elektabilitas Fachrori di Februari 2019 baru di angka 5,3 persen. Begitu survei di November 2019, elektabilitas Fachrori naik menjadi 10, 4 persen.

“Ada kenaikan sekitar 5,1 persen,”ujar Dedek.

Analisis Dedek, merujuk data survei itu, ia yakin Cek Endra berpeluang besar merebut kemenangan. Sebab, lonjakan kenaikan elektabilitas CE sangat signifikan dari kandidat lain. Padahal, Fasha misalnya, sudah running duluan. Sementara, CE baru beberapa bulan saja bersosialisasi.

“Saya lihat, CE baru sebulan ini gencar masang baleho dan sosilisasi. Elektabilitasnya tiba-tiba sudah nyodok jauh. Padahal, waktu pilgub masih panjang. CE juga belum full turun. Masih banyak peluang CE mengejar,”jelas Dedek.

Yang mengherankan adalah HBA.  Menurut Dedek, angka elektabilitas HBA di survei Idea Institute pada Februari 2019 lalu berada diposisi teratas (30 persen). Tapi, begitu survei di bulan November oleh Charta Politika, nama HBA turun drastis.

“Ini mungkin kKarena publik sudah banyak yang tahu bahwa HBA tidak maju di Pilgub. Berbeda kalau HBA tiba-tiba menyatakan maju, angka surveinya pasti akan bergeser lagi,”kata Dedek.

Untuk menang, menurut Dedek, kandidat mesti mengantongi sejumlah syarat. Selain membentuk tim yang solid dan kuat, kemenangan juga ditentukan oleh keunggulan strategi dan marketing politik.

Dari semua syarat itu, kata Dedek, kandidat dengan modal kapital terbesarlah yang berpeluang menang. Mengingat, jadwal pilgub masih cukup panjang.

“Siapa yang nafasnya panjang, dialah pemenangnya nanti. Kita bisa belajar dari banyak pengalaman Pilkada. Terakhir, kita disuguhkan oleh kemenangan Anies Baswedan yang sukses menggulung Ahok di Pilkada DKI. Padahal, dari setiap survei, Ahok selalu unggul. Intinya, faktor kemenangan itu banyak. Kekuatan modal paling utama,”ujarnya.

Dari survei Charta Politika yang dirilis Kamis, kemarin, empat besar kandidat yang memiliki elektabilitas teratas, antaralain Fasha (16 Persen), HBA (13,8 Persen), Fachrori (10,4 Persen) dan Cek Endra (9,4 Persen).

“Jika kita hitung dengan margin error 3,4 persen, maka angka elektabilitas 4 kandidat teratas itu masih kejar-kejaran. Untuk saat ini, kita belum bisa memprediksi siapa yang unggul. 4 orang ini berpeluang menang semua,”kata Dedek.(*)

[AWIN]

News Feed