by

Pembobol Rumah Ketua KPU Berkeliaran

Penyamun itu membobol rumah Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kerinci dengan cara mengendap-endap masuk lewat lubang akses menuju plafon. Sejumlah uang termasuk data penting di android raib.

——————

Malam mulai menyergap ketika Kumaini baru saja pulang kerja dari kantor KPU Kerinci, Rabu 30 Oktober 2019 lalu. Seusai memarkirkan mobil, Kumaini bergegas naik ke rumahnya –Desa Pungut Hilir Kecamatan Air Hangat Timur–, yang berdesain panggung itu. Mantan wartawan Tribun Jambi ini sempat sholat Isya sebelum rebahan sambil menonton TV.

Sementara, istrinya –Riswanti– masih menjahit di ruang bagian belakang, Kumaini terlelap di depan layar TV di ruang keluarga itu. Sejumlah telepon genggan termasuk android miliknya teronggok di atas kotak digital prababola.

Kumaini mendadak terjaga ketika istrinya membangunkan dan meminta pindah tidur ke kamar. Berjalan sempoyongan karena disergap kantuk, Kumaini beringsut ke kamar pada pukul satu dini hari. Tidak ada firasat atau tanda-tanda mencurigakan malam itu.

Menjelang Fajar, istrinya terjaga duluan. Seperti lazimnya, begitu bangun ia langsung menanak nasi dan menyiapkan sarapan pagi. Riswanti mendadak curiga ketika menengok gembok pintu bagian samping terjatuh ke lantai.

Ia bergegas menghampiri Kumaini yang baru saja usai subuhan.

“Bang, dakdo orang masuk rumah kito?,”ucap istri kepada Kumaini.

Ia lantas menceritakan sejumlah kejanggalan yang menyergap. Kumaini bergegas mengecek sekeliling pintu dan jendela, rupanya tak ada yang aneh. Semuanya masih tertutup dan terkunci rapat.

Gudang tempat penyimpanan barang-barang dan kendaraan itu juga masih tergembok. Tapi, ia heran ketika gembok pintu samping rumah, eh… tiba-tiba sudah tertukar dengan gembok pintu gudang. Kecurigaan rumahnya dibobol maling mulai membumbung.

Seketika ia teringat sejumlah uang dan dompet yang tersimpan di saku celanya. Dari gudang, Kumaini bersegera beranjak ke kamar belakang, persis di samping dapur itu. Di kamar khusus penyimpanan kain ini, ia langsung mengecek dompet yang terselip di saku celana.

“Dompet masih ada, sementara isinya raib,”kata Kumaini.

Ia kembali merogoh-rogoh saku celana dan mendadak menghela nafas panjang.

“Sejumlah uang di saku juga raib,”ujarnya.

Ia lagi-lagi teringat sejumlah HP yang teronggok di ruang keluarga itu. Kumaini hanya geleng-geleng ketika menengok andoridnya ikut raib. Tapi, tak semua HP diangkut penyamun. Pencuri, kata Kumaini, hanya memboyong android miliknya.

“HP Zoya (anaknya) dan HP lain idak diambek. Cuma HP abang bae yang diangkut,”tuturnya.

Kumaini haqqulyakin rumahnya telah disatroni maling. Ia memperkirakan pelaku beraksi antara pukul 01.00-04.00 dinihari. Seperti sudah paham peta rumah dan kebiasaan ahlul bait. Pelaku ditengarai kenal dekat dengan korban. Kumaini emoh menduga-duga siapa pelakunya.

Ia memilih melaporkan kejadian itu ke polisi. Kepada penyidik korps Bhayangkara, Kumaini membawa sejumlah barang bukti. Selain, misalnya masih ada jejak sidik jari, Kumaini juga menyerahkan sebuah kunci L yang ia temukan tergeletak dekat dapur.

“Benda retel L itu terikat dengan banyak kunci,”kata Kumaini.

Mencoba menghilangkan jejak, pelaku ditengarai masuk lewat lubang akses menuju plafon. Pelaku tak merusak pintu ataupun jendela. Ia masuk ke plafon lewat gudang yang terletak di bagian belakang.

“Dia sepertinya ingin menciptakan situasi seolah-olah barang hilang dewek. Bukan karena ada maling,”ujar Kumaini.

II

Pelaku Orang Profesional

Penyamun yang beraksi di rumah Ketua KPU Kerinci itu ditengarai orang profesional, bukan amatiran. Ia menyelusup masuk ke rumah korban tanpa merusak pintu atau jendela. Pelaku pun sepertinya seorang spesialis. Ia mencuri barang-barang berharga yang mudah diangkut, misalnya HP, uang, emas dan benda berharga lain.

Kumaini adalah korban kesekian di kampungnya, Desa Pungut itu. Kasus serupa kerap terjadi di sana. Sejumlah rumah yang pernah dibobol misalnya milik Muhammad Sun. Pelaku sempat menggondol kayu manis dari rumahnya.

Supiarto pernah kehilangan sejumlah ternak ayam. Sementara Apianto alias pak Wendi pernah kehilangan sebuah gerobak. Beberapa warga desa lain seperti Antodi alias Pak Dela, Zamren alias Pak Om, Rahmanuddin alias pak Levia Caya Thalib dan Andri alias pak Pajar juga pernah disatroni penyamun.

Pelaku yang diduga masih warga desa itu sepertinya bebas berkeliaran. Sebab, sejumlah korban selama ini enggan melaporkan kasus pencurian ini ke polisi. Seusai Kumaini melaporkan peristiwa di rumahnya, sejumlah warga berduyun-duyun ikut membuat laporan.

Setidaknya tiga warga melaporkan rumahnya dibobol. Beberapa benda yang raib antaralain cinsaw atau mesin potong kayu, mesin pemotong rumput, tiga buah HP dan sebuah laptop.

“Pencurian ini sudah sangat meresahkan. Masyarakat menjadi takut meninggalkan rumah,”kata Zamzari, Kepala Desa Pungut Hilir. Selain rumah warga, kata Zamzari, kotak amal masjid pun kerap dibobol.

Seperti sudah terlatih, pelaku tidak merusak dan menggondol kotak amal itu. Ia hanya mengambil uang di dalamnya.

“Kotak tetap terkunci. Yang diambil uang pecahan besar. Nominal kecil tidak diambil,”katanya.

Dalam menjalankan aksinya, pelaku tentu tidak sendirian. Masyarakat berharap korps Bhayangkara segera menangkap kawanan pelaku ini.

Kepala Kepolisian Resor Kerinci Ajun Komisaris Besar Polisi Dwi Mulyanto membenarkan laporan tersebut. Dia telah menurunkan anggotanya untuk melakukan penyelidikan.(*)

[AWIN]

 

 

News Feed