by

Jejak Hatta dan Kedigdayaan Minyak Bajubang

Kisah Ikhtiar Dagang Minyak untuk Republik

Semasa negara ini dikuasai Belanda, Nederlandsch Indische Aardolie Maatschappij (NIAM) menemukan Lapangan Jambi lewat pemboran pertama Sumur Bajubang-1 (BJG-01) pada tahun 1922. Puncak kedigdayaan minyak terjadi ketika NIAM berhasil menembus produksi di angka 30 Ribu barel minyak per hari (BOPD). Jejak Jambi bahkan dikenal sebagai produsen utama avian turbin, bahan bakar pesawat terbang di masa revolusi. Sebagai cikal-bakal perusahaan negara Pertamina, NIAM sukses membangun peradaban sekaligus kota modern pertama di Jambi, dengan fasilitas mentereng.

Kini, lewat baju Pertamina EP Asset 1 Field Jambi, masa keemasan itu hendak digapai. Sumur-sumur sepeninggalan NIAM diremajakan. Sejumlah terobosan digulirkan. Berbagai inovasi diluncurkan. Lewat tim yang digawangi anak-anak muda, Pertamina EP Field Jambi memeras keringat membangun peradaban baru, membina warga eks kampung narkoba hingga mendidik anak-anak rimba. Bersiap mengoptimalkan produksi gas untuk memenuhi kebutuhan listrik seantero Jambi.

Sejarah minyak Jambi bukan hanya soal Pertamina. Di dalamnya ada jejak “penjajahan” Belanda, cerita sosial kaum peradaban modern, kisah ikhtiar dagang minyak untuk republik. Berikut reportase wartawan Jambi Link, Muawwin sejak September 2019 lalu.

———————————————-

TINGGAL KENANGAN : Bioskop Batanghari yang dibangun oleh NIAM–Cikal bakal Pertamina–, pada dekade tahun 30an. Inilah simbol kemajuan dan kedigdayaan minyak Pertamina Bajubang, Batanghari, Jambi.

 

SATU

Dikenal sebagai anak “menteri ukur”, Mardan mudah saja menerobos bioskop Batanghari itu dengan cuma-cuma. Padahal, biaya masuk kala itu dikenakan tarif 5 perak per orang. Para penjaga Batanghari emoh berurusan dengan Mardan, anak pegawai Pertamin–cikal-bakal Pertamina–, yang sehari-harinya bekerja sebagai juru ukur jalan itu.

“Karena saya orang sini. Lahir disini. Jadi dak katek urusan (tidak ada problem),” Mardan terkekeh mengingat kenakalannya di masa lalu saat bercerita kepada Jambi Link di kediamannya komplek Pertamina Bajubang pada Sabtu 28 September 2019, lalu.

Bajubang begitu makmur ketika itu. Dibangun NIAM pada dekade tahun 30an, Batanghari– nama Bioskop di komplek Pertamina Bajubang–, menjadi satu diantara simbol kemajuan sekaligus kedigdayaan. Bajubang mendadak menjadi sentra ekonomi. Orang-orang luar berduyun-duyun merapat.

Seingat Mardan, Batanghari memutar film tiga kali dalam sepekan. Film india adalah favoritnya kala itu. Kalau film India yang diputar, Mardan bisa berjam-jam nongkrong di Batanghari. Film diputar selepas Maghrib. Sehari ada dua sesi.

“Kalau film india, saya bisa nonton sampai dua sesi. Nggak bosan ngulang-ngulang nonton, kisahnya sedih,”tutur Mardan sembari tersenyum.

MARDAN : Pria sepuh ini adalah anak seorang pegawai Pertamina lahir tahun 1950. Mardan termasuk saksi sejarah kedigdayaan minyak Bajubang.

Batanghari rupanya bukan satu-satunya bioskop di komplek Bajubang itu. Menurut Mardan, ada bioskop khusus untuk kalangan bos-bos. Tempatnya di rumah dinas pimpinan Pertamin. Orang-orang menyebutnya gedongan. Lokasinya berada di ujung kaki bukit, persis di depan lapangan golf, kawasan elit komplek Pertamina Bajubang.

Di gedongan itu, tersedia alat pemutar film, laiknya Batanghari. Bahkan, alat-alatnya jauh lebih canggih dan modern. Di zaman NIAM, gedongan adalah tempat persamuhan orang-orang Belanda. Budaya itu menurun hingga era Pertamin.

Di sinilah tempat nongkrong petinggi Pertamin golongan 9 kebawah. Sementara, bioskop untuk mereka para warga kampung dan pegawai Pertamin golongan 10 ke atas, tempatnya ya di Batanghari itu.

“Setengah jalan film di Bioskop Batanghari diputar, lalu gulungan kasetnya diangkut ke gedongan. Saya pernah sesekali diajak petugas ngantar film ke gedongan,”cerita Mardan.

Pria berusia 69 tahun itu turut mencecap masa jaya Pertamina Bajubang. Kata Mardan, Batanghari adalah bioskop pertama dan termodern di Jambi. Belakangan, nama Kabupaten Batanghari, lanjut Mardan, terinspirasi salah satunya dari nama Bioskop itu.

Unita, seorang pedagang nasi di komplek Bajubang juga turut menjadi saksi kedigdayaan minyak di sana. Kendati baru masuk Bajubang di era tahun 80an, Perempuan paruh baya itu masih ingat ketika saban hari dagangannya selalu ludes. Bahkan, di akhir pekan, ia acapkali tak membuka kedai.

Kenapa?

“Karena jualan selalu habis diborong,”kata Unita ditemui Jambi Link di kedainya komplek Pertamina Bajubang, RT 19 Kelurahan Bajubang, Sabtu 28 September 2019, lalu.

Biasanya, kata Unita, si pemborong adalah bos-bos Pertamina. Mereka kerap bersedekah untuk jamaah gereja yang bersembahyang di komplek Pertamina itu.

“Zaman itu makmur nian pak,”ujarnya.

GEREJA OIKUMENE : Inilah rumah ibadah peninggalan Pertamina tempo dulu yang masih terus di gunakan hingga sekarang.

Puncak kejayaan Bajubang, menurut Jambi Field Manager Pertamina EP Gondo Irawan, memang ditandai ketika NIAM sukses memproduksi minyak secara besar-besaran di Lapangan Jambi.

Gondo–begitu pria kelahiran Jambi itu disapa–, mengatakan produki minyak melimpah-limpah terjadi di era tahun 1948 hingga 1960. Angka produksi bahkan pernah mencapai puncak pada tahun 1954. Kala itu, NIAM sukses memproduksi minyak di angka 30 ribu barel per hari.

“Disitulah masa kejayaan. Produksinya terbesar kedua setelah Pangkalan Susu,”ujar Gondo di komplek Pertamina EP, Kenali Asam Atas, diwawancara pada 26 September 2019, lalu. Lihat grafis di bawah.

Sumber : Pertamina EP Asset 1 Field Jambi.

Bajubang seketika menjadi kota modern. Bule-bule Belanda yang bekerja di NIAM ramai-ramai memboyong istrinya ke sana.

Semua fasilitas mentereng dibangun. Mulai dari gedung Bioskop, kolam renang, lapangan golf, gedung pertemuan, gereja, masjid, hingga rumah sakit.

Konon, Rumah Sakit Pertamina Bajubang adalah satu-satunya yang tercanggih dan termodern. Semua orang, dari berbagai daerah datang berobat.

SANG surya mulai meninggi ketika Jambi Link menyambangi rumah sakit Pertamina di komplek Pertamina Bajubang, pada Sabtu 28 September 2019 lalu. Komplek ini berjarak 31 kilometer atau sejam perjalanan dari pusat Kota Jambi. Bangunan berkelir putih yang mulai memudar itu tampak kokoh berdiri. Walaupun di kiri-kanannya terlihat semak belukar menyergap.

Terhampar di lahan sekitar dua hektar, laiknya rumah sakit masa kini. Disana ada ruang perawatan, ruang IGD, ruang ICU bahkan ruang VIP. Petak-petak ruangan itu masih terlihat jelas.

Ruang perawatan untuk kelas bawah misalnya, bisa ditengok dari dinding bangunan yang terbuat dari kayu. Rumah sakit itu kini tak bertuan. Hanya gedung bagian paling depan sempat dipakai sebagai poliklinik Pertamina.

RUMAH SAKIT PERTAMINA : Potret Rumah Sakit Pertamina tempo dulu. Rumah sakit ini termoderen dan tercanggih di kala itu. Bule dan noni Belanda berobat di sana.

JEJAK SEJARAH : Foto Rumah Sakit Pertamina Bajubang yang di potret pada 29 September 2019. Rumah sakit bersejarah ini sempat dipakai menjadi poliklinik. Lihat perbandingan foto atas dan bawah.

Berjarak 500 meter dari sana, berdiri tegak Gereja Oikumene. Gereja itu diresmikan pada 16 September 1973 oleh Kepala Lapangan Jambi, S Soekadis. Bangunan ini juga terlihat kokoh. Jambi Link sempat masuk ke dalam. Kursi-kursi yang berasal dari kayu jati pilihan itu masih terlihat utuh dan kinclong. Sampai sekarang, gereja ini masih dipakai.

“Tiap Sabtu saya bersih-bersih. Karena Minggu akan dipakai sembahyang,”kata Butet, salah satu penjaga gereja.

GEREJA BERSEJARAH : Butet mengajak Jambi Link masuk dan melihat suasana di dalam gereja Oikumene. Meja dan kursi gereja itu terbuat dari kayu jati pilihan. Masih awet hingga sekarang.

Gedung persamuhan bernama Manggris itu dibangun tak jauh dari gereja. Gedung ini dibangun Marjolun Van Bilderbek–orang Belanda bos NIAM–, pada 29 Mei 1955. Jejak bangunan ini terlihat jelas, bahkan prasasti peletakan batu pertamanya masih terpampang terang dalam bahasa Belanda.

Di sebelahnya, ada sebuah kolam renang yang dibangun dan diresmikan pada 20 April 1984 oleh Pimpinan Unit EP II Soentoro S. Kolam renang ini sempat menjadi daya tarik. Dulu, orang luar ramai-ramai ke Bajubang demi bermain air di sana.

Berbelok ke arah timur komplek Bajubang, berdiri tegak dan kokoh Hall Badminton. Di bagian dinding tengah gedung berkelir hijau itu terlihat tulisan agak sedikit buram “PDSI-Club Sumbagteng”.

Ali Harahap, salah satu penjaga komplek Bajubang itu, menyebutkan gedung tersebut dulunya dipakai para karyawan dan petinggi Pertamina untuk olahraga Badminton. Bahkan, sejumlah kompetisi kerap digeber di sana. Menurutnya, hall ini menyediakan fasilitas super lengkap, termasuk makanan dan ruang istirahat.

Tak jauh dari situ, sebuah rumah dengan halaman besar berdiri kokoh persis di depan lapangan golf. Menurut Ali Harahap, rumah inilah yang dulu oleh warga sekitar disebut sebagai gedongan itu.

Selain sebagai rumah dinas, gedongan di era NIAM, memang dipakai orang Belanda sebagai tempat persamuhan sembari menonton bioskop hingga fajar menyinsing. Sementara helipad–landasan Helikopter–, dibangun persis di samping lapangan golf.

Lapangan golf Pertamina itu sempat menjadi satu-satunya lapangan golf terbaik di Jambi. Banyak pejabat dari berbagai daerah datang bermain golf di sana. Pertamina pun punya lapangan sepak bola sendiri. Namanya gelora patra. Letaknya persis di pintu masuk komplek Pertamina Bajubang. Di sinilah berbagai kompetisi ataupun kegiatan rakyat kerap digeber.

“Dulu, ketika hari besar, misalnya 17-an, Pertamina sering ngadain lomba di gelora patra. Kadang jalan sehat. Hadiahnya keren-keren,”imbuh Unita.

Di era keemasannya, Pertamina Bajubang bahkan mendirikan yayasan pendidikan dengan fasilitas paling lengkap. Semua jenjang sekolah, mulai dari tingkat dasar, menengah pertama hingga menengah atas, dibangun di bawah naungan Yayasan Kesejahteraan Pegawai Pertamina (YKPP). Semua sekolah milik Pertamina itu, kini sudah diambil alih pemerintah dan beralih status menjadi sekolah negeri.

SD YKPP : Salah satu sekolah peninggalan yayasan Pertamina.

Lewat petunjuk Mardan, Jambi Link berhasil menemukan jejak NIAM di depan bangunan Bioskop Batanghari. Kata NIAM tertulis jelas pada patok besi yang ujungnya berbentuk lempengan tipis itu.

“Ini sebagai tanda batas. Besi ini susah nyabutnyo. Ditarik pake mobil be dak bakal copot,” tutur Mardan.

PATOK NIAM : Jejak NIAM di Bajubang masih bisa ditemukan dari sejumlah patok besi yang tertancap di sejumlah titik di komplek Bajubang.

Bangunan bioskop bersejarah itu kini kondisinya rusak parah sejak dilahap si jago merah tiga tahun silam. Sementara ratusan rumah yang pernah di huni bule dan noni Belanda maupun pegawai Pertamina itu kini ditinggal tak bertuan. Semua fasilitas berkelas yang menyejarah itu sudah disergap semak belukar. Kendati demikian, saban sore muda-mudi ramai berswafoto.

“Mereka bilang tempatnya indah,”kata Ali.

Warga menaruh harap, pemerintah memoles kembali kawasan itu sebagai destinasi wisata sejarah. Ali, Mardan, Unita dan warga sekitar setuju kalaulah komplek ini dijadikan ikon Batanghari, bahkan Provinsi Jambi.(*)

MERIAM BELANDA : Jejak Belanda masih tersimpan di komplek Perumahan Pertamina Bajubang. Meriam Belanda ini masih utuh hingga kini.

 

DUA

Meremajakan Sumur NIAM Hingga Membangun Sumur Injeksi

Menguasai wilayah kerja 5.751 kilometer persegi, Pertamina EP Asset 1 Field Jambi berikhtiar mengembalikan masa keemasan era NIAM. Bukan mustahil, digawangi anak-anak muda, Gondo Irawan optimis bisa menggenjot jumlah produksi minyak di Lapangan Jambi. Kini, ikhtiar itu mulai menampakkan wujudnya.

————————-

Diwawancara Jambi Link akhir September 2019 lalu, Gondo Irawan menjelaskan berbagai strategi dan terobosan yang dilakukan.

Menurut Gondo, salah satu langkah menggenjot jumlah produksi, misalnya mereka meremajakan sumur-sumur sepeninggalan NIAM itu.

Hingga September 2019, kata Gondo, Pertamina EP Field Jambi telah mengelola 843 titik sumur. Nah, sebanyak 189 sumur diantaranya berstatus aktif. Sementara 366 titik lainnya masih berstatus suspend–ditutup sementara tapi masih bisa diproduksikan kembali–.

“Kita bekerja siang malam menyervis dan meremajakan sumur-sumur suspend,”kata Gondo Irawan.

Tahun ini saja, mereka menarget peremajaan di 60 titik sumur suspend. Data terbaru, sudah 30 titik sumur diremajakan. Tapi, bukan berarti proses peremajaan selalu berjalan mulus. Berbagai hambatan tentu saja datang menghadang. Misalnya terjadi kegagalan akibat permukaan bawah tanah, eh..rupanya tak ditemukan lagi cadangan minyak. Kendati demikian, dari 30 titik yang diservis,

“Alhamdulillah 30 persen sudah berhasil,”kata Gondo.

PEREMAJAAN SUMUR : Jambi Field Manager Pertamina EP Gondo Irawan (Tengah) memaparkan proses peremajaan sumur Kenali Asam 292 (KAS-292), lokasinya di RT 40, Kenali Asam, Kota Baru, Jambi.

Hambatan lain, imbuh Hatmantyo Sardana–Workover Well Service Enginer–, ketika mereka kerap bentrok dengan masalah sosial. Sumur-sumur di Kenali Asam memang banyak berdampingan dengan pemukiman penduduk. Dalam proses peremajaan, kata dia, semestinya tim yang berjumlah 21 orang itu bisa bekerja selama 24 jam penuh, tentu secara shift. Apalagi mereka kudu mengejar target 15 hari kerja.

Tapi,

“Terkadang ada saja warga protes. Ada warga yang sakit dan mereka merasa bising. Jadi, terpaksa kita stop untuk beberapa jam,”ujarnya diwawancara di lokasi peremajaan sumur di RT 40 Kenali Asam, Kota Jambi.

Masalah sosial itu bukan lantas menjadi sandungan bagi Pertamina EP Field Jambi. Mereka tak pernah lelah berkomunikasi dan menjelaskan betapa kerja-kerja itu demi meningkatkan jumlah produksi dan pendapatan negara.

“Kita bangun komunikasi yang baik dengan warga. Walaupun sebenarnya keberadaan sumur-sumur minyak ini jauh lebih dulu ada dari pemukiman penduduk,”katanya.

Inovasi merupakan upaya lain yang dilakukan untuk mengerek jumlah produksi. Menurut Gondo, Pertamina EP Field Jambi misalnya menerapkan upaya pengambilan minyak tahap kedua (secondary recovery).

Apa itu?

Adalah membangun sumur-sumur injeksi.

Lewat sumur injeksi, menurut Gondo, air yang disuntik ke dalam sumur minyak akan mendesak minyak menuju sumur produksi–yang letaknya di sekitar atau dekat dengan sumur injeksi itu.

Nah, sumur injeksi membantu penyapuan minyak yang nantinya diproduksikan melalui sumur produksi (ESP, PCP, SRP). “Strategi ini berhasil meningkatkan produksi minyak,”kata Gondo.

Kini, sudah 70 sumur injeksi dibangun. Dimulai sejak tahun 1993. “Dan masih terus berlangsung hingga sekarang,”ujar Gondo.

Terbukti, produksi minyak yang dulunya cuma 2000 barel perhari, menurut Gondo, kini merangkak naik dan akan terus digenjot hingga menembus angka 5000 barel minyak per hari.

“Cara ini sangat efektif meningkatkan produksi,”katanya.

CARA KERJA SUMUR INJEKSI : Inilah proses kerja sumur injeksi, sebagai salah satu terobosan Pertamina EP Asset 1 Field Jambi untuk mengenjot jumlah produksi minyak.

Cara-cara lain terus digulirkan. Misalnya mengebor sumur baru, seperti di Sungai Gelam (SGC-X4). Sumur baru ini, kata Gondo, akan tajak pada pekan kedua Oktober 2019, mendatang.

Mereka tak kenal lelah berinovasi. Terbaru, Pertamina Field Jambi menggagas dan menerapkan teknologi tepat guna. Mereka sukses merancang program kerja Sand Control, sebuah teknik untuk mengatasi masalah kepasiran. Lalu penggunaan tubing anti korosi dan anti kerak (scale) pada pipa-pipa minyak. Dua teknik itu terbukti cemerlang menggenjot angka produksi. Berikut penjelasannya.(*)

 

TIGA

Dari GA Ulir, Scale Bum hingga Drip Pan

Sebuah ulir terbuat dari besi di desain menyerupai spiral. Ulir spiral itu dipasang kedalam pipa-pipa sumur minyak. Alat ini bekerja secara otomatis membentuk gaya sentrifugal dan gaya inersia. Efeknya, partikel–campuran Fluida cair, gas dan padatan (partikel pasir)–, yang masuk kedalam pipa akan terlempar ke arah luar dan membentur dinding. Lalu partikel bergerak turun ke penampung pasir (Mud Anchor).

Campuran Fluida itu akan dipaksa bergerak dari intake yang letaknya di atas. Sehingga memicu terjadinya aliran dari atas ke bawah. Adanya ulir menyebabkan aliran akan bergerak secara spiral. Sehingga cairan yang masuk ke pompa sudah bersih dari pasir.

Inovasi ini bernama GA Ulir.

Sebuah terobosan yang di rancang tim Pertamina Field Jambi sebagai penangkal pasir. Terobosan ini dirancang khusus demi meningkatkan jumlah produksi.

Alip Triwanto, Jambi Engineering dan Planning Assistant Manager menjelaskan, prinsip kerja inovasi GA Ulir hampir mirip dengan prinsip kerja Cyclone Separator. Ulir Spiral diciptakan untuk membentuk efek siklon. Menurutnya, GA Ulir menciptakan aliran berbentuk spiral.

“Pompa-pompa sumur minyak seringkali mati akibat masalah kepasiran. Nah, untuk mengatasinya, salah satu Tim PC-Prove Gaul berhasil melakukan inovasi alat penangkal pasir itu,”ujarnya diwawancara di halaman Central Facilities Pertamina EP Jambi Field, Kenali Asam, 26 September 2019 lalu .

GA ULIR : Alip Triwanto ketika memaparkan mengenai temuan tim Pertamina EP Field Jambi. Temuan bernama GA Ulir ini berfungsi sebagai penangkal pasir.

Inovasi lainnya adalah Scale Bum. Menurut Alip Triwanto, prinsip kerja Scale Bum adalah mengatasi sumbatan akibat korosi dan kerak. Alat ini, kata dia, diciptakan oleh tim PC-Prove Scaler in the Sky. Scale Bum sudah diaplikasikan ke Sumur BJG-122 dan beberapa pipa penyalur (flowline). Inovasi itu, lanjut Alip terbukti sukses mengatasi masalah kerak.

“Sebelum ada inovasi ini, sumur BJG-122 perlu dilakukan perawatan sebanyak 3 kali dalam setahun. Tapi, sejak bulan Maret 2019 hingga saat ini sumur ini belum pernah dilakukan perawatan sama sekali,”ujarnya.

Prinsip kerja alat ini adalah mereaksikan antara ion karbonat dan bikarbonat yang terkandung dalam air formasi. Ion-ion inilah biasanya yang memicu terbentuknya gumpalan kerak dengan tembaga.

SCALE BUM : Salah satu inovasi yang diciptakan tim Pertamina EP Field Jambi untuk mengatasi korosi dan penyumbatan pada pipa-pipa minyak.

Nah,

Scale Bum yang dirancang dari bahan kawat dan tembaga dimaksudkan untuk mendapatkan reaksi. Reaksi ini menyapu semua kerak yang menempel itu.

“Tembaga untuk Scale Bum di dapat dari material bekas kabel ESP yang banyak tersedia di Field Jambi,”katanya.

Inovasi berikut adalah Drip Pan.

Drip Pan merupakan besi lempeng berbentuk petak ukuran 1×1 meter. Alat ini dipasang di ujung pipa bor. Besi petak itu berguna menangkis semburan minyak dan melokalisir limbah agar tak tercecer kemana-mana.

DRIP PAN : Jambi Field Manager Pertamina EP Gondo Irawan saat menunjukkan cara kerja Drip Pan (besi lempengan warna hijau).

Willy Zulkifli Jambi Workover Well Services Assistant Manager mengatakan, Drip Pan adalah inovasi baru yang dicetuskan oleh Pertamina Field Jambi. Sebagai satu-satunya temuan di seluruh jawatan Pertamina, menurut Willy, Drip Pan telah diuji pada 5 sumur.

“Sukses bekerja secara efektif. Alat ini mampu menjawab masalah ceceran limbah,”katanya sembari menunjuk ke arah Drip Pan ketika diwawancara di lokasi sumur bor Kenali Asam 292 (KAS-292), pada 26 September 2019 lalu.

Sementara, Gondo Irawan mengatakan GA Ulir telah diaplikasikan sejak Januari 2019 pada sumur KTT-25 di Ketaling. Alat itu terbukti meningkatkan lifetime sumur. Sampai kini belum ditemukan pompa mati akibat masalah kepasiran.

“Sebelum ada inovasi GA Ulir ini, sumur-sumur harus dilakukan perawatan setiap dua bulan sekali,” tutur Gondo.

Begitupula Scale Bum. Menurutnya, inovasi Scale Bum sukses mengatasi permasalahan kerak pada sumur-sumur minyak Pertamina Field Jambi. “Inovasi selalu dibutuhkan sebagai upaya mempertahankan dan meningkatkan produksi di Field Jambi,”katanya.(*)

 

EMPAT

Jejak Hatta di Kilang Kenali

Potret kejayaan minyak di Lapangan Jambi juga tercatat ketika Permiri–cikal-bakal Pertamina yang lahir pada dekade 1946–, berhasil memproduksi avian turbin alias Avtur, bahan bakar minyak untuk pesawat terbang.

————————–

Jejak avtur Jambi terekam dalam sebuah buku berjudul Mohamad Isa–Pejuang Kemerdekaan yang Visioner. Tersebut kilang-kilang minyak Permiri memproses minyak mentah menjadi bensin, solar dan minyak tanah. Selain kilang di Kenten, Sumsel, Permiri rupanya juga mengoperasikan kilang minyak di Kenali Asam, Jambi.

Gondo Irawan mengatakan, selain Bajubang dan Tempino, Kenali Asam adalah temuan terbesar sepanjang sejarah di Lapangan Jambi.

Nah,

Kenali Asam merupakan kilang minyak ketiga yang dibangun kala itu. Kapasitas produksinya mencapai 40 Ton minyak tanah dan 20 Ton solar perhari. Kilang Kenali Asam pimpinan R Soedarsono itu rupanya juga memproduksi avtur. Avtur Jambi adalah bahan bakar pesawat terbang hasil karya Sugiman dan kawan-kawan di Divisi Teknis Permiri.

Uji coba avtur kali pertama dilakukan di bulan Maret 1948. Saat itu sebuah pesawat Avro Anson datang ke Jambi.

OMU-2 Sutan Aswar yang ditugaskan komodor udara Halim Perdana Kusuma memprakarsai peracikan avtur di Kenali Asam. Ia memberanikan diri bahwa bensin udara itu siap dipakai. Mutu Avtur yang telah disempurnakan OMU-2 Sutan Aswar, Sugiman, dan kawan-kawan, di kilang Kenali Asam itu ternyata memenuhi standar. Pesawat berhasil terbang tinggi tanpa hambatan.

KILANG KENALI : Inilah jejak kilang Kenali Asam yang dibangun era Permiri. Kilang ini pernah memproduksi avian turbin, bahan bakar pesawat terbang di era Revolusi.

Sejak itu, avtur produksi Jambi terus dipakai oleh jawatan minyak seantero nusantara. Keberhasilan ini menjadikan Jambi sebagai pusat pengisian bahan bakar pesawat terbang di masa revolusi. Berbagai pesawat yang ditumpangi para pemimpin republik di masa revolusi singgah di Jambi untuk mengisi bahan bakar.

Tercatat antara lain C-47 Dakota RI 001 Seulawah, Pesawat Angkut pertama milik Republik Indonesia yang dibeli dari uang sumbangan rakyat Aceh. Dengan pesawat yang juga dikenal sebagai DC-3 ini, bulan November 1948 Wakil Presiden Mohammad Hatta mengadakan perjalanan keliling Sumatera dengan Rute Maguwo-Jambi-Payakumbuh-Kutaraja-Payakumbuh-Maguwo. Pesawat yang ditumpangi Hatta singgah di Jambi untuk mengisi bahan bakar.

Jejak kilang kenali ini masih utuh dan tersimpan di belakang kantor Pertamina EP Field Jambi, Kenali Asam Atas, Kota Jambi. Monumen bersejarah itu masih berdiri tegak dan terlihat kokoh diantara semak-belukar. Sebuah prasasti tertulis di bawah kilang menyebutkan kilang minyak avigas itu didirikan pada tahun 1946 oleh Perusahaan Minyak Republik Indonesia (Permiri). Kilang kenali diresmikan pada 1966 oleh Presiden Suharto sebagai monumen perjuangan atas hasil produksi avigas.

Lain dulu lain sekarang. Dulu avtur sekarang gas.

Andrew, Pjs Asset 1 Legal dan Relation Manager mengimbuhkan, terobosan yang digagas Pertamina EP Field Jambi di Kenali Asam era kini adalah pengolahan gas. Menurutnya, saat ini produksi gas Jambi telah mencapai 4.2 MMSCFD (juta kaki kubik feet perhari).

Gas hasil proses pemisahan pada Central Facilities Pertamina EP Jambi Field itu dipakai untuk memasok kebutuhan listrik internal. Seperti untuk eletrifikasi perumahan dan menggerakkan generator-generator Pertamina.

“Dipakai untuk pasokan listrik internal sebanyak 1 MMSCFD. Sisanya untuk keperluan own use lainnya,”kata Andrew. (*)

 

LIMA

Membina Warga Eks Kampung Narkoba dan Anak-anak Rimba

Potret peradaban modern yang pernah dibangun NIAM mendorong Pertamina EP Asset 1 Field Jambi ingin berbuat serupa. Menyisihkan sebagian rizkinya membangun peradaban warga eks kampung narkoba dan membina anak-anak rimba lewat program Corporate Social Responsibility  (CSR). Berikhtiar untuk publik untuk republik.

———————–

RUMAH BATIK : Pertamina EP Field Jambi membangun rumah batik persis di tengah jantung perkampungan eks narkoba. Program CSR untuk mengerek ekonomi warga setempat.

Tinah baru saja melahap sarapan pagi ketika kabar bahagia itu datang dari Pertamina EP Asset 1 Field Jambi, awal April 2018 lalu. Memboyong timnya ke Legok, Andrew mengabarkan bahwa Pertamina bakal membangun rumah batik di Legok, Kota Jambi. Dipercaya mengelola rumah batik, perempuan berusia 42 tahun itu mendadak kegiringan. Tinah sempat menyangka Pertamina EP Field Jambi sedang guyon.

“Kaget dan hampir tak percaya,”tutur Tinah, diwawancara di Rumah Batik Legok, RT 21 Danau Sipin, Kota Jambi, pada 26 September 2019 lalu.

Menggeluti dunia batik sejak muda, Tinah memang menggantungkan hidup dari sana. Pendapatan suaminya–sebagai seorang buruh–, tak cukup memenuhi kebutuhan keluarga. Apalagi sejak ketiga anaknya mulai beranjak dewasa–dua bersekolah di SMA dan satu SD–, kebutuhan ekonomi kian meninggi.

Tinah mau tak mau mesti putar otak mencari uang tambahan. Punya sedikit skill membatik, Tinah pernah bekerja di rumah batik kawasan pasar.

“Kadang-kadang saya bawa pulang bahan dari toko. Saya membatik di rumah. Sejak dibantu Pertamina, sekarang saya bisa lebih mandiri. Pendapatan juga jauh lebih besar,”tutur Tinah.

Merintis rumah batik sedari nol, Tinah mulanya melibatkan 25 ibu rumah tangga. Seiring waktu, anggotanya menyusut menjadi 19 orang. Semuanya warga Legok.

“Saya dan ibu-ibu di rumah batik betul-betul bersyukur,”ujar Tinah.

KETUA KELOMPOK : Tinah, ketua kelompok rumah batik di bawah binaan Pertamina EP Field Jambi.

Hampir separuh anggotanya, menurut Tinah, dulu adalah pengangguran. Saban hari, mereka hanya di rumah saja dan sesekali terpaksa membantu kerja suami meracik sabu. Itu dilakukan demi menambal ekonomi keluarga.

Legok dulunya memang dikenal sebagai kampung narkoba. Sebelum di bumi hangus kepolisian dua tahun silam, kawasan ini menjadi sarang obat candu. Lebih separuh warganya adalah penjual sabu, mulai dari paket kecil sampai paket besar.

Ibu-ibu rumah tangga terpaksa membantu kerja suaminya berdagang sabu. Karena memang tak ada pilihan lain.

Kehadiran Pertamina EP Field Jambi lewat program CSR, telah membuka jalan dan membantu mengerek ekonomi sebagian warga Legok itu. “Dari ekonomi kurang maksimal, sekarang bisa menambah pendapatan keluarga,”kata Tinah.

Rata-rata perbulan, para pembatik bisa mengantongi uang dari Rp 600 Ribu, bahkan sampai Rp 2 juta. “Sesuai dengan jumlah penjualan dan kerja mereka,”kata Tinah.

Kegiatan membatik ini, menurut Tinah, dilakukan mulai dari membuat pola, lalu mencanting, mencolet, menembok hingga melorot. Masing-masing dibayar sesuai banyaknya pekerjaan.

Tarif mempola misalnya, dihitung Rp 25 Ribu per meter. Mempola adalah proses menggambar motif di kain polos.

Vera Pebri Arora, mulanya awam dengan dunia membatik. Sejak diboyong pelatihan Pertamina EP Field Jambi setahun silam, hanya berselang dua pekan ia sudah mahir membatik. Mencanting adalah spesialisasi perempuan berusia 25 tahun itu.

“Kami mulai dari nol. Dilatih selama dua minggu, sampai bisa,”katanya.

Menurut Vera, mencanting merupakan proses ter-rumit dan memakan waktu paling lama. Sekali mencanting untuk bahan sepanjang dua meter misalnya, bisa memakan waktu 3 sampai 5 hari. Tergantung motif dan tingkat kesulitan. Semakin rumit, bisa lebih lama lagi. Mencanting, kata Vera, memang perlu kehati-hatian dan kesabaran.

“Kalau tak fokus dan gemeteran, bisa tercecer warnanya. Hasilnya jadi tak bagus,”ujar Vera.

MENCANTING : Vera Pebri Arora, salah satu pengrajin batik di bawah binaan Pertamina EP Field Jambi ketika menjelaskan cara membatik kepada Jambi Field Manager Pertamina EP Gondo Irawan.

Memiliki tiga anak, Vera mengaku sangat terbantu dengan usaha membatik ini. Sebulan, ia bisa mengantongi uang 1,5 juta hingga 2 juta. Asap dapur pun mengebul. “Cukup untuk menambah kebutuhan keluarga. Dari pada dakdo kegiatan dan ngerumpi?,”kata Vera.

Andrew, menjelaskan alasan memilih Tinah untuk mengelola rumah batik itu.

“Kita memilih dia lewat proses assesmen yang cukup ketat dan lama,”tuturnya.

Diawali dengan memetakan potensi tiap daerah. Pertamina EP Field Jambi akhirnya menemukan potensi batik di daerah Legok. Toh, Legok termasuk kawasan yang warganya memang perlu di support.

Pertamina EP Field Jambi lewat program CSR lantas membantu modal untuk membangun rumah batik. Termasuk pula penyediaan bahan dan biaya operasional lainnya.

“Target kita mereka bisa mandiri dan sampai punya hak paten,”kata Andrew.

Kini, Tinah dan anggotanya bisa tersenyum lebar. Selain punya pendapatan rutin. Ekonomi keluarga mulai membaik. Mereka tak perlu panik dan merengek lagi ke suami. Kebutuhan sekolah anak bisa ditalangi lewat usaha membatik itu.

“Kehadiran Pertamina membuat kami terbantu. Mereka telah mengubah ekonomi kami, image kampung Legok juga berubah. Orang tak takut lagi kemari,”katanya.

Selain mengerek ekonomi warga eks kampung narkoba, CSR Pertamina Field Jambi diprogram pula untuk menyasar kegiatan peningkatan kapasitas anak-anak rimba.

Menurut Andrew, program pengembangan anak-anak rimba itu mulai digeber sejak tahun 2017 silam. Menyasar warga Suku Anak Dalam (SAD)–anak rimba–, di Desa Pompa Air, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari, yang hidup terbelakang.

Mengutus guru ke sana, anak-anak rimba dididik belajar baca, tulis, hitung sampai mahir. Pendampingan sekolah anak rimba itu dibalut lewat konsep sanggar alam raya.

MEMBINA ANAK RIMBA : TIM Pertamina EP Field Jambi ketika melakukan assesment warga Suku Anak Dalam di Desa Hajram, Kec Batin XXIV, Kabupaten Batanghari tahun 2019.

Orang rimba itu juga dilatih cara memanfaatkan gulma resam hingga punya nilai jual.

“Yang biasanya menjadi parasit tanamanan perkebunan dan pemicu kebakaran hutan, kini diracik menjadi kerajinan tangan yang bernilai ekonomis,”kata Andrew.

Gulma lantas diolah menjadi kerajinan piring, tas, tempat tisu, tempat beras, dan sebagainya.

Menurut Andrew, 15 (lima belas) orang penerima manfaat adalah kaum perempuan. Mereka kini memperoleh pendapatan tambahan dari menjual kerajinan itu.

“Sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Produknya sudah masuk di toko tempoyak dan oleh-olehjambi.com,”kata Andrew.

Hidup di belantara hutan memungkinkan anak-anak rimba tak memperoleh asupan gizi yang layak. Pertamina EP Field Jambi lantas menggulirkan program pemberian makanan tambahan. Tujuannya untuk mencegah stunting (gizi kurang) pada anak-anak rimba.

“Ada 7 (tujuh) anak tergolong stunting, gizi kurang dan gizi buruk sudah menerima manfaat healthy camp dari kita,”kata Andrew.

Selain mendapat asupan makanan tambahan, anak-anak rimba itu dicek pertumbuhannya secara rutin.

“Tiga kali dalam sepekan,”ujarnya. Terbukti, program yang diinisiasi Pertamina EP Field Jambi berhasil menaikkan berat, tinggi dan gizi anak cukup signifikan.

PEMBERDAYAAN ANAK : Dua orang dokter sedang mengukur tinggi badan balita di Desa Pompa Air, Bajubang.

Pertamina juga kerap mengirim dokter ke sana untuk menyuluh orang-orang rimba. Kedepan, CSR akan menyasar warga di Desa Hajran. Di sana,

“Kami akan melaksanakan edukasi terkait tanaman obat keluarga (Toga) dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) melalui rumah sehat alam raya. Sedangkan, bagi bapak dan pemuda akan diberikan program pertanian palawija dengan harapan agar mereka hidup menetap dan tidak berburu lagi,”ujar Andrew.

Berbagai terobosan dan ikhtiar pemberdayaan umat itu akhirnya berbuah manis. Terbukti, ketika Pertamina EP Field Jambi tahun 2019 ini berulang-kali memboyong awards.

Lewat program pemberdayaan anak-anak rimba dan warga eks kampung narkoba itu misalnya, Pertamina EP Field Jambi diganjar Nusantara CSR Awards untuk tiga kategori sekaligus. Antaralain kategori peningkatan mutu pendidikan, kategori pemberdayaan ekonomi komunitas serta kategori peningkatan mutu kesehatan.

Lewat program membatik di kampung narkoba, Pertamina Field Jambi juga sukses menggondol Indonesia Green Awards untuk kategori penyelamatan sumber daya air dan pelopor pencegahan polusi tahun 2019.

Nah, dua tahun berturut-turut–sejak 2018 dan 2019–, Pertamina EP Field Jambi sukses memboyong penghargaan dari Walikota Jambi, atas prestasi membantu program pemerintah lewat CSR itu.

Pelan tapi pasti. Ikhtiar dan perjuangan Pertamina EP Field Jambi telah membuahkan hasil dan berdampak positif bagi masyarakat. Digawangi anak-anak muda, Pertamina EP Field Jambi sukses move on.(Habis)

[MUAWWIN]

 

News Feed