by

Emoh Terpaku di Menara Gading

Kerap diundang mengisi ceramah, Asafri menolak honor yang disodorkan jamaah. Cemerlang menjadi walikota pertama di Sungai Penuh.

—————-

Seusai ditunjuk Kementerian Agama mengomandoi Sekolah Tinggi Agama Islama Negeri—kini IAIN Kerinci–, Asafri memboyong keluarganya menetap di Kerinci. Sejak itu, ia mulai menempati kediamannya di Tanah Kampung.

Semasa menjadi rektor, Asafri rutin diundang ceramah ke kampung-kampung. Biasanya, Asafri meluangkan waktu bercemarah selepas Maghrib. Sesekali mengisi ba’da ashar. Dihari Jumat, pria yang lantas disapa buya itu punya jadwal mengisi khutbah.

“Jadwal khutbah setahun sudah full,”ujarnya sembari melempar senyum.

Pendapatannya sebagai rektor sudah lebih dari cukup. Karena itu, tiap diundang berceramah atau khutbah, pria yang kini kerap disapa AJB itu emoh menerima honor. Amplop yang disodorkan jamaah selalu ditolak. Bagi AJB, mengisi khutbah atau ceramah merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat.

Dua tahun berselang, tepatnya pada tahun 2011 Kota Sungai Penuh menghelat Pemilihan Walikota. Inilah pilwako pertama sejak daerah ini berpisah dari Kabupaten Kerinci.

AJB terpanggil turun berlaga ketika ia didorong oleh sejumlah tokoh, alim ulama sewaktu mengisi ceramah di pondok tinggi. Seperti biasa, seusai mengisi ceramah, AJB menolak honor yang disodorkan jamaah. Sebelum beringsut dari tempat duduknya, jamaah mendekatinya.

“Buya. Majulah di Pilwako. Kami akan dukung,”ujarnya.

AJB terdiam beberapa jenak. Ia kaget ketika warga justru antusias menyorongnya untuk terjun ke politik. Padahal, ia sama sekali tak terfikir untuk menjamah dunia politik. AJB ingin pensiun dan menikmati masa tua bersama cucu dan anak-anak.

Esok dan seterusnya, dorongan warga makin deras. Mereka, bahkan ramai-ramai datang ke rumahnya di tanah kampung. Meminta AJB bersedia berlaga di Pilwako.

“Tempat dimana saya sering ceramah itulah belakangan menjadi basis,”tutur AJB.

“Alhamdulillah….pada pilwako 2011 kita dapat memenangkan suara. Menjadi walikota pertama hasil pilkada,”imbuhnya.

Memimpin kota di ujung barat Provinsi Jambi itu, AJB berusaha mengaplikasikan teori keilmuan yang didapat semasa kuliah. Bagi AJB, menjadi walikota adalah sarana paling tepat untuk membantu warga.

“Kalau hanya di kampus, kita terpaku pada menara gading,”ujarnya.

Kerja keras dan kepiawaiannya memimpin, membuat AJB menang mudah di periode kedua.(*)

 

[AWIN]

News Feed