by

Peletak Pondasi Utama Universitas Islam Negeri Jambi

Meniti karir tapak demi setapak, Asafri sukses merengkuh tangga tertinggi di Institut Agama Islam Negeri–kini Universitas Islam Negeri Jambi–, bahkan hingga dua periode. Lewat tangan dinginnya, infrastruktur kampus dibangun besar-besaran. Semasanya, program pasca sarjana terlahir. Perpustakaan hingga masjid kampus berdiri tegak.

—————

Dua tahun seusai menjadi dosen, naluri mengembaranya kembali bangkit. Kala itu, yang terfikir adalah lanjut kuliah magister hingga doktoral.

Tapi, ia tak cukup punya fulus buat lanjut kuliah. Apalagi mesti merantau lagi ke negeri orang. Biaya yang dibutuhkan tentu tidak sedikit.

Bak ketiban durian runtuh.

Asafri tersenyum lebar ketika namanya lolos diantara sederet penerima beasiswa pada awal tahun 1986 itu. Asafri kembali ke kampus yang sama, Ciputat Jakarta, melanjutkan studi magister.

Sesusai tamat, Asafri lagi-lagi tersenyum lebar. Baru beberapa jenak menginjak Jambi, Ia sudah dipromosi dan dipercaya menjabat pembantu dekan.

Nah, belum lama menjabat, Asafri kembali terpanggil ke Ciputat, Jakarta. Kali ini ia lanjut studi doktoral, masih di kampus yang sama. Tapi, studi kali ini ia tak pakai beasiswa.

“Setelah tamat studi doktoral tahun 1994, saya baru full berada di Jambi,”tuturnya.

Reformasi 98 pecah ketika Asafri mencoba peruntungan menjadi rektor. Mulanya ia emoh mengejar jabatan itu. Jangankan hendak bercita-cita, mimpi pun tak pernah. Tapi, momentum membuka jalan sukses untuknya.

Asafri beruntung. Karena diantara kandidat yang ada, ia satu-satunya yang sudah bergelar doktor.  Padahal pucuk pimpinan rektorat mestilah dijabat oleh seorang doktor. “Itu yang menyebabkan pilihan jatuh ke saya,”ujarnya.

Terbuka dan kenal dekat dengan semua lapisan kampus, membuat Asafri menang mudah di periode kedua. Lagi-lagi dewi fortuna berpihak padanya. Ia menang mudah karena satu-satunya kandidat yang bergelar profesor.

“Kualifikasi pendidikan mengantar saya menjadi sukses,”katanya.

Sepuluh tahun memimpin IAIN, banyak terobosan dilakukan. Berbagai inovasi dikembangkan. Dialah peletak utama basis terbentuknya Universitas Islam Negeri Jambi.

Semasa itu, Asafri untuk kali pertama menggulirkan program boleh mengajar ilmu umum di kelas-kelas. Lewat jejaringnya di Jakarta, Asafri berhasil mendirikan program pasca sarjana. Padahal, syarat terbentuknya program pasca sangat berat. Apalagi, IAIN Jambi waktu itu belum memenuhi akreditasi.

“Saya yakinkan Kamaludin Hidayat. Sejumlah guru besar saya angkut ke Jambi. Akhirnya kita bisa mendirikan program pasca,”ujarnya.

Dibidang infrastruktur, ia membangun gedung secara besar-besaran. Diawali dari pembangunan gedung rektorat. Kemudian berlanjut ke pembangunan gedung perpustakaan. Dimasa itu, Asafri berhasil membangun Masjid Assadah yang terletak di tengah kampus. Uangnya berasal dari bantuan Arab Saudi.

“Waktu itu komunikasi Marwazi sebagai pembantu rektor bagus ke Arab. Dari bantuan itu kita bangun masjid kampus,”katanya.

Selepas dua periode menjadi rektor, Asafri kembali menjadi dosen pada 2006. Tiga tahun berselang, tiba-tiba datang panggilan dari Kementerian Agama. Ia ditugasi menahkodai Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kerinci–kini IAIN Kerinci–. Padahal, ia tengah bahagianya istirahat dari kepenatan.

“Saya terima amanah itu demi tanah kelahiran,”katanya.

Ditengah perjalanan itulah naluri politiknya terbangun. Sang profesor terpanggil untuk ikut berlaga pada Pilkada perdana di Kota Sungai Penuh 2011 silam. Maka, sejak itu, Asafri mulai dikenal dengan sebutan AJB.

Apa yang memotivasi seorang AJB berbelok ke Politik?

(Bersambung)

[AWIN]      

News Feed