by

Taman Nasional pun Terbakar

Langit merah di kaki langit Kumpeh pada Sabtu 21 September 2019, pekan lalu itu, menggegerkan mayapada.  Rupanya, fenomena alam itu berkelindan dengan tingginya titik api di kawasan Kumpeh.

Titik api atau Hotspot di wilayah Kumpeh menghasilkan asap dan debu yang berterbangan. Partikel terkena pantulan sinar matahari dan berubah menjadi warna merah. Udara di Kumpeh hari itu dalam kategori sangat tidak sehat dan berbahaya.

Sepanjang kemarau, Muaro Jambi memang penyumbang titik api dan asap paling gede. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat titik api di Muaro Jambi pada Sabtu itu–ketika terjadi fenomena langit merah–, mencapai 430 titik.

Rupanya, asap tebal bercampur partikel abu membumbung dari sejumlah perusahaan sawit yang beroperasi di wilayah Muaro Jambi.

“Kebakaran hutan yang terjadi hampir setiap tahun berada di wilayah perusahaan. Maka disini perusahaan mesti bertanggungjawab,”ujar Dwi Nanto, Aktivis Walhi Jambi.

Polisi memang tak tinggal diam. Korps Bayangkara bahkan telah menetapkan 15 orang tersangka pelaku pembakar lahan, sejak 13 September 2019, kemarin. Tapi, polisi terkesan hati-hati mempidanakan para korporasi penyumbang asap itu.

Walhi mencatat, total area terbakar di lahan konsesi tahun 2019 ini mencapai 15 Ribu hektar. Rinciannya 6.579 hektar di lahan restorasi, HPH 1.193 hektar, lahan sawit 4.355 hektar dan HTI 3.499 hektar.

Komunitas Konservasi Indonesia WARSI mengantongi data berbeda. Jumlah perusahaan penyumbang asap, versi Warsi, malah lebih banyak lagi.

Menggunakan analisis Citra Satelit Lansat TM 8 pada 16 September 2019, WARSI mencatat 47.510 hektar kawasan hutan dan lahan terbakar. Lebih separuh kawasan ini–tepatnya 28.889 hektar–, lahan terbakar berada di kawasan gambut.

Rudi Syaf Direktur KKI WARSI, menyatakan lahan-lahan terbakar ini menyumbang kabut asap dan partikel debu yang membahayakan manusia. Menurut Rudi Syaf, kebakaran hutan dan lahan terjadi di hampir semua peruntukan lahan.

Di arelah Hutan Tanaman Industri misalnya, terjadi kebakaran seluas 10.194 ha. Lalu areal HPH 8.619 hektar, areal Perkebunan Sawit 8.185 ha, areal Hutan Lindung 6.712 ha, areal Restorasi Ekosistem 6.648 ha.

Bahkan, Warsi mencatat areal Taman Nasional turut terbakar. Luasannya mencapai 3.395 ha. Adapula kebakaran di lahan masyarakat 2.956 ha, dan Taman Hutan Raya 801 ha.

Untuk menyelamatkan Jambi dari bencana asap tahunan, WARSI menyerukan. “Kembalikan fungsi gambut, atau kita akan selalu mengalami bencana ini setiap kemarau,” pungkas Rudi.(*)

[ARDY IRAWAN, AWIN]

News Feed