by

Tokoh Tiga Pergerakan

Dari gang-gang sempit di Jakarta, cakrawala berfikir Asafri muda terbuka. Naluri kepemimpinannya terasah, tumbuh dan berkembang lewat tradisi diskusi. Teman diskusinya pun bukan orang sembarangan. Mereka adalah pentolan aktivis dari pelbagai organisasi seperti Din Syamsudin (Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Surya Darma Ali Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dan Azyumardi Azra, Ketua Himpunan Mahasiswa Islam–yang kelak menjadi tokoh tersohor di negeri ini.

—————

Dari Desa Tanah Kampung, Kerinci–setelah pemekaran desa ini masuk wilayah Kota Sungai Penuh–, Asafri mengembara ke Jakarta untuk kuliah. Semasa di kampus, Asafri tak hanya berjibaku dengan bangku kuliah. Disamping belajar, pria yang akrab disapa AJB itu aktif berorganisasi.

Bergabung ke PMII, AJB bersua Surya Darma Ali–kala itu menjabat Ketua PMII Komisariat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di rumah besar PMII, ia banyak belajar dari Surya Darma Ali–utamanya ihwal Aswaja sebagai basis ideologi. Nilai-nilai Aswaja itu bahkan terus melekat hingga kini. Aswaja menjadi cara berfikir, bersikap dan bertindak bagi Walikota Sungai Penuh itu.

Basis keagamaan yang pernah tumbuh semasa remaja di tanah kampung, membuat AJB haus akan ilmu pengetahuan. Ia terus dan terus belajar.

Sebuah pengumuman pelatihan darul arqom yang tertempel di dinding kampus mengusik perhatiannya. AJB berusaha mendekatkan matanya dan terus memelototi informasi yang tertera di sebuah kertas. Ia mulai bergumam dan langsung tersenyum. AJB bergegas mengeluarkan pena serta secarik kertas.

“Saya langsung daftar dan ikut pelatihan,”kata AJB.

Tak pernah terbayang sebelumnya, kalaulah training yang ia ikuti kala itu rupanya diinisasi oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat UIN Jakarta. Dari situ, AJB kerap bertemu dan banyak berdiskusi dengan Din Syamsudin. Dari Din, ia belajar gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar.

Azyumardi Azra, mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu memang terlihat menonjol sejak mahasiswa. Ia adalah senior AJB di kampus. Keduanya hanya berjarak dua tingkat saja.

Semasa itu, tokoh yang dikenal sebagai cendikiawan muslim itu aktif sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam. Kecemerlangan berfikir Azyumardi Azra memantik AJB untuk banyak belajar darinya.

Saban hari, di luar jam kuliah AJB selalu menyempatkan waktu berkunjung ke kosan Azyumardi Azra. AJB kerap sampai larut malam, terkadang cuma untuk mendengar dan melihat Ayumardi Azra bercerita, berdiskusi bersama aktivis HMI.

Dalam suasana seperti itulah AJB muda tumbuh. Buah fikirnya terbangun secara sistematis lewat diskusi-diskusi. Hari-harinya tak pernah putus belajar, bahkan langsung dari para pentolannya.

“Selama ngekos, tradisi diskusi banyak. Saya sering diskusi dengan mereka,”ujar AJB.

Makanya, wajar AJB menjadi satu-satunya mahasiswa sekaligus aktivis yang lekat dengan tiga organisasi –IMM, HMI dan PMII.

“Saya bergaul dengan beragam organisasi. Umumnya saya dekat dengan mereka. Secara pemikiran, kita banyak belajar dari mereka. Itu membuat khazanah berfikir saya terbuka, bahwa umat sebenarnya punya peran dan cita-cita sama,”tuturnya.

Bergaul dengan beragam idiologi islam membuat AJB tak fanatik kepada salah satu pemikiran. Dari sana ia belajar menghargai perbedaan. Baginya, perbedaan justru merupakan bagian dari khazanah dan kekayaan Islam.

“Itu yang membuat saya senang. Tiga organisasi itu saya terlibat langsung, belajar langsung dari tokohnya. Semuanya saya anggap positif. Ini yang mewarnai kehidupan saya saat ini. Saya tidak pernah mempertajam perbedaan,”jelasnya.

Lalu apa yang mendorong suami Emi Zola itu kuliah di negeri orang?

Sehingga nekat merantau nun jauh dari sanak saudara?

(Bersambung)

[AWIN]

News Feed