by

Menelisik Asal-Muasal Pusat Sriwijaya di Jambi

Beberapa ahli meyakini ibu kota Sriwijaya tak pernah di Palembang, tapi di Jambi.

————–

Sejumlah ahli meyakini pusat Kedatuan Sriwijaya bukan di Palembang, melainkan di Jambi. Arkeolog R. Soekmono mengemukakan pendapatnya dalam dua seminar berbeda.

Pada 1958, Soekmono menyampaikannya lewat tulisan “Tentang Lokasi Sriwijaya” yang terbit dalam Laporan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional I. Pendapatnya kembali dia perkuat pada 1979 lewat tulisan “Sekali Lagi Tentang Lokasi Sriwijaya” di Pra Seminar Penelitian Sriwijaya.

Berdasarkan kajian geomorfologis, dalam tulisannya itu, dia menyimpulkan kalau Sriwijaya tak tepat berlokasi di Palembang sekarang. Namun, lebih tepat di Jambi, di tepian Sungai Batanghari. Menurutnya, letak Jambi istimewa. Lokasinya ada di dalam teluk yang dalam dan terlindung. Namun, ia langsung menghadap ke lautan lepas tempat persimpangan jalan pelayaran antara Laut Cina Selatan di timur, Laut Jawa di Tenggara, dan Selat Malaka di barat laut.

“Maka dibanding dengan Palembang dahulu. Jambi memiliki unsur-unsur yang lebih menguntungkan untuk menjadi pusat kegiatan kerajaan maritim Sriwijaya itu,” tulis Soekmono.

Pendapat Soekmono sepertinya tak mendapat pembuktian lebih lanjut. Banyak ahli yang kemudian tetap percaya bahwa ibu kota Sriwijaya berada di Palembang. Padahal, bukan hanya Soekmono yang berpendapat bahwa Sriwjaya berlokasi di Jambi. Sejarawan O.W. Wolters berpendapat Sriwijaya sempat berpindah ibu kota dari Palembang ke Jambi. Berdasarkan kajian ulang terhadap sumber-sumber yang ada, Wolters berkesimpulan bahwa antara 1079 dan 1082 pusat Sriwijaya pindah ke Jambi sekarang.

Sementara pemikiran yang terbaru meyakini kalau ibu kota Sriwijaya berada di Jambi sejak awal berdiri hingga keruntuhannya pada abad ke-12. Dengan kata lain, ibu kota Sriwijaya tak pernah berpindah. Arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Kaladesa menjelaskan, hipotesis itu sebenarnya mendukung pendapat Soekmono.

Pendapat Agus didasarkan pada catatan biksu Tiongkok, I-Tsing. Ketika singgah di Sriwijaya, dia menyaksikan ada ribuan biksu yang belajar di kota Foshi. I-Tsing pun menganjurkan agar para pendeta Tiongkok untuk belajar terlebih dulu bahasa Sanskerta di Sriwijaya sebelum melanjutkan ziarah ke India.

Berita I-Tsing itu didukung oleh temuan arkeologis di situs Muarojambi. Di sana, terdapat gugusan monumen Buddhis dengan kolam buatan, saluran air, bukit buatan simbol Mahameru (Bukit Perak), fragmen arca pantheon Buddha, dan ribuan pecahan keramik Tiongkok.

Kesaksian I-Tsing menunjukkan adanya aktivitas agama Buddha yang luas dan ramai. Menurut Agus, ribuan biksu itu harus meminta sedekah makan sehari dua kali kepada penduduk desa. Artinya, di dekat pusat keagamaan Muarojambi harus ada permukiman penduduk yang ramai atau kota sehingga dapat menyongkong kegiatan para biksu.

“Kota besar itu tidak lain adalah Sriwijaya,” tulis Agus.

Di Sriwijaya pun, menurut I-Tsing, seseorang yang berdiri tidak mempunyai bayangan. Itu berarti matahari tepat di atas kepala. Sementara di Palembang, seseorang masih punya bayangan jika berdiri di tengah hari.

“Tidak ada bayangan apapun, apalagi jika orang itu berdiri di situs Bukit Perak yang terletak di ujung rangkaian paling barat gugusan monumen Buddha di situs Muarojambi,” tulis Agus.

Jambi, lanjut Agus, merupakan kawasan pilihan dalam konsep Buddhisme. Beberapa toponimi dapat dikaitkan dengan konsep keagamaan. Misalnya, Sungai Batanghari yang berarti sungai milik Avalokiteswara. “Kata hari berasal dari mantra pemujaan kepada Avalokiteswara yang berbunyi ‘hrih…’,” lanjutnya.

Salah satu aspek Awalokiteswara ialah Hariharihariwahanodhbawa-Lokeswara. Ia merupakan Dhyani Bhoddisattwa dalam agama Buddha Mahayana yang dipuja oleh kaum Tantra. Nama Sungai Batanghari jelas berasal dari pemujaan Awalokiteswara Dhyani Bhoddisattwa yang welas asih.

“Dapat diibaratkan bahwa aliran Sungai Batanghari yang tidak pernah berhenti mengalir seakan-akan mantra yang terus menerus dikumandangkan untuk memujanya,” tulis Agus.

Adapun kata jambi atau jambe adalah nama lain tanaman pinang. Dalam kajian relief candi Jawa Kuno, diketahui kalau penggambaran pohon pinang penting dalam pemujaan dewa. Menurut Agus, pohon pinang atau jenis tanaman yang mirip dengan tal sangat disenangi para dewa. Berdasarkan mitologi, kekuatan dewa-dewa dapat bersemayan di daun tal. Karenanya, ketika para pujangga mengguratkan karya sastranya, pohon pinang, enau, kawung, lontar, dan sejenisnya dapat dianggap sebagai penghubung antara dunia manusia dan dewa-dewa.

Dengan begitu, jika suatu daerah banyak ditumbuhi pohon pinang dan sejenisnya, maka daerah itu dianggap akan menjadi kesenangan para dewa. Di daerah itulah kekuatan dewata dapat turun naik dari bumi ke dunia kedewataan.

“Jadi, Jambi merupakan kawasan yang dipilih bagi pengembangan agama Buddha pada zaman Sriwijaya di Sumatra, bahkan di Asia Tenggara,” tulis Agus.

Ditambah lagi, di Pulau Sumatra tak ada kompleks bangunan suci Buddha seluas Muarojambi. “Karenanya, pusat Sriwijaya haruslah berlokasi di Jambi, tak jauh dari pusat keagamaan, Situs Muarojambi,” tulis Agus.

Sementara itu, Palembang kedudukannya pada masa itu sama dengan Bangka, Lampung, dan daerah Merangin, Jambi. Semuanya didatangi oleh balatentara Sriwijaya untuk kemudian dikuasai dan ditancapkan prasasti Jayastambha. Isinya, kutukan bagi siapapun yang coba-coba melawan raja.

“Raja Sriwijaya tidak pernah mengeluarkan Jayastambha yang mengutuk penduduk kotanya sendiri,” tulis Agus.

[AWIN (HISTORIA)]

News Feed