by

Mantan Direktur Petral Terima Suap Rp 40,7 Miliar

Mantan Direktur Utama PT Pertamina Energy Trading Limited (Petral), Bambang Irianto, diduga menerima suap sebesar US$ 2,9 juta atau setara dengan Rp 40,7 miliar terkait dengan jual beli minyak mentah dan produk kilang di Pertamina. Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Laode Muhammad Syarif mengatakan uang suap yang diterima Bambang diduga sebagai imbalan atas jasanya mengamankan jatah alokasi kargo Kernel Oil pte Ltd-perusahaan perdagangan minyak yang berbasis di Singapura- dalam tender pengadaan minyak mentah dan produk kilang di Pertamina.

“Tersangka Bambang membantu mengamankan jatah alokasi kargo Kernel Oil dalam tender pengadaan minyak mentah atau produk kilang. Sebagai imbalannya, ia diduga menerima sejumlah uang melalui rekening bank di luar negeri,” kata Laode, kemarin.

Laode mengatakan Bambang menerima uang dugaan suap tersebut pada periode 2010-2013 lewat rekening SIAM Group Holding Ltd, perusahaan cangkang yang didirikan Bambang. Perusahaan yang berbasis di British Virgin Island ini ditenggarai sengaja dibuat untuk menampung uang dugaan suap yang diperoleh Bambang.

Saat Menerima suap, Bambang menjabat Direktur Utama Pertamina Energy Service Pte Ltd, anak usaha petral yang bergerak dibidang perdagangan minyak. Adapun Petral, yang dibubarkan pada 2015, menginduk kepada PT Pertamina.

KPK mengumumkan penetapan tersangka terhadap Bambang kemarin. Ia disangka dengan pasal berlapis, yaitu pasal 12 huruf a atau b dan Pasal 11 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Bambang belum dapat dikonfirmasi mengenai penetapan  tersangka ini.

Menurut Laode, kasus ini berawal ketika Bambang menjabat Wakil Presiden Pemasaran Pertamina Energy Service pada Mei 2009. Dengan jabatan tersebut, ia bertugas membangun dan mempertahankan jaringan bisnis, mencari peluang dagang, mengamankan ketersediaan suplai, serta melakukan perdagangan minyak mentah dan produk kilang untuk kepentingan Pertamina.

Atas persn tersebut, Bambang mulai mengundang sejumlah perusahaan untuk menjadi rekanan Pertamina Energy Service dalam kegiatan jual-beli minyak mentah. Perusahaan yang ikut diundang adalah Emirates National Oil Company (ENOC). Perseroan ini diduga sebagai perwakilan Kernel Oil. “Tersangka diduga mengarahkan untuk tetap mengundang NOC tersesebut meskipun mengetahui bahwa perusahaan itu bukanlah pihak yang mengirim kargo ke Pertamina,” kata Laode.

Laode menceritakan, jauh sebelum Bambang terlibat jual-beli minyak mentah, Pertamina memang sejak awal menargetkan untuk menciptakan ketahanan nasional di bidang energi dengan membentuk Integrated Supply Chain (ISC). ISC bertugas melaksanakan kegiatan perencanaan, pengadaan, tukar menukar, penjualan minyak mentah, intermedia, serta produk kilang untuk kegiatan bisnis dan operasional.

Lalu Pertamina mendirikan beberapa anak perusahaan untuk mendukung target ini, seperti Petral yang berkedudukan di Hongkong dan Pertamina Energy Service Pte ltd yang berbasis di Singapura. Adapun Petral tidak mempunyai kegiatan bisnis aktif di bidang pengadaan dan penjualan minyak. Sedangkan Pertamina Energy Service bergerak di bidang pengadaan dan penjualan minyak mentah serta produk kilang.(*)

[AWIN, KORAN TEMPO]

News Feed