by

Menguak Sistem Kasta Senioritas dalam Dunia Kampus

Oleh Dony Anggara

PASAL 1 ayat 1 tentu sudah tidak asing lagi, pasal yang sangat identik dengan istilah senioritas yang bermakna ” Senior tidak pernah salah” seolah menjadi landasan dari setiap omongan, gerakan, perbuatan oleh senior kepada junior atau juga sering kita dengar istilah “kating” (kakak tingkat) dengan adik tingkatnya. Istilah senioritas sangat terasa sekali keberadaannya di lingkungan perguruan tinggi sesuai apa yang penulis sendiri rasakan. Senioritas seperti sudah menjadi tradisi yang sudah lama ada dalam ranah kehidupan.Senioritas hadir atas dasar siapa yang berpengalaman dan biasanya melalui kapan seseorang masuk atau pun bergabung dalam kelompok tersebut, dalam hal ini kita ambil contoh di kampus. Penulis merasa perlu untuk di bahas mengenai adanya senioritas dan junioritas ini, ada hal yang secara tidak langsung tersirat dan penulis kali ini akan mencoba menguraikannya.

Jika di pandang secara umum tentu saja stigma yang kurang baik langsung timbul ketika mendengar kata senioritas. Dengan fakta yang ada di lingkungan sekitar menganggap bahwa sistem kasta senior dan junior dianggap identik dengan tindak pembulian, Penguasa dan sebagainya lalu kemudian diharapkan untuk tidak ada lagi sistem tersebut. Tentu kita harus paham tipologi tiap-tiap seorang senior itu berbeda dan itu dapat dilihat dari bagaimana sikap mereka dengan keberadaan juniornya. Ada tipe senior yang cuek saja Seakan tidak peduli dengan keberadaan adik tingkatnya, ada juga senior yang langsung peduli dengan adik tingkatnya dan mengingat peran dan fungsinya senior sebagai seorang kakak dari ibu yang berbeda . Penulis dalam hal ini merupakan senior ulung di dunia kampus tentu sebelumnya pernah duduk di posisi seorang junior dan memang sangat terasa sekali dua tipe seorang senior yg telah penulis sampaikan diatas.

Di posisi seorang junior sifat tidak ingin tahu akan keberadaan senior dan sifat ingin bantuan dari senior juga menjadi sebuah tipologi seorang junior. Arogansi serta ego dari seorang senior kadang menjadi momok menakutkan dan menyebabkan timbulnya ketakutan dan berakhir dengan sifat apatis dari seorang adik tingkat. Ditambah lagi ketika masa pengenalan kehidupan kampus yang berubah konsep menjadi Ajang pencarian adik tingkat yang bening-bening, ajang penunjukan Eksistensi dan jati diri seorang kakak tingkat, Serta arena balas dendam seperti pada saat mereka di posisi junor dan mengarah Kepada perpeloncoan. lantangnya teriakan khas “Hidup Mahasiswaaa” Serta diikuti dengan orasi-orasi membuat mahasiswa baru tercengang Seolah menunjukan keperkasaan seorang senior dan mecoba meyakinkan juniornya untuk tunduk dan segan akan keberadaan Mereka. Doktrinisasi dibalut dengan rangkulan dan senyuman manis Kemudian dilancarkan dengan terstruktur oleh mereka untuk Mendapatkan hati para adik tingkat demi kepentingan organisasi. Peran dan fungsi mahasiswa juga begitu keren ketika disampaikan sering diberikan begitu saja dengan mudahnya kepada mereka tanpa peran penting yang pernah dilakukannya sebelumnya bahkan untuk kuliah saja masih butuh bantuan teman untuk minta di absenkan.

Adik tingkat dianggap seperti anak kecil seakan tidak tau apa-apa dan tidak pernah mengenyam pendidikan sebelumnya. Para senior berlomba untuk menjadi seorang guru dan merasa mereka paling benar dengan dasar pasal 1 ayat 1 nya. Penulis disini tidak berusaha untuk membela atau mendukung junior dan mendiskreditkan setiap senior. Penulis tidak juga mencoba minggiring opini yang buruk dan hanya ingin menguak keadaan yang memang benar-benar ada di lingkungan kampus. Dengan realita yg ada itu pasti setiap orang ingin sistem kasta yang telah menjadi budaya ini di tiadakan atau dihilangkan dan itu bukanlah hal yang mudah. Tentu kita harus paham mengenai budaya senioritas ini terlepas dari keadaan dilapangan sebagaian besar hanya di lakukan oleh sekelompok oknum.

Masih ada sebagian kakak tingkat yang mempunyai marwah seorang manusia merdeka yang menginginkan tiap-tiap adik-adik tingkatnya agar dapat mengikuti jejak prestasi mereka dan hal ini juga penulis rasakan. Prestasi yang ditularkan tak harus prestasi akademik, dengan memberikan hal-hal postitif kepada adik tingkat seperti membuka ruang diskusi saling bertukar pikiran berbagi ilmu dengan mengesampingkan status senior dan junior juga merupakan sebuah prestasi tersendiri. Duduk bersama junior di sebuah kedai kopi dengan secangkir kopi panas diiringi dengan hembusan rokok serta argumentasi yang saling beradu kuat atas sebuah buku yang telah di bedah diharapkan dapat menghilangkan jiwa hedonisme yang menjadi telah menjadi penyakit perlahan tumbuh cepat di kalangan mahasiswa baru juga merupakan sebuah prestasi bagi seorang senior apabila hal itu terwujud ataupun terlaksana.

Jika dipandang melalui prespektif penulis sebagai seorang senior ulung tentu sangat berbeda ketika saat berada di posisi junior dengan sebuah tanggung jawab dan beban yang berat sebagai pengawal, pembimbing, dalam hal pembentukan kerangka berfikir seorang adik tingkat. Berbeda ketika masih menjadi seorang junior sehingga merasa wajar ketika adanya batasan senior dan junior. Kita yang masih awam tentang dunia kampus rasanya sangat membutuhkan bantuan berupa bimbingan dari seorang abang atau kakak yang sedikit banyaknya telah lebih dahulu mendapatkan ilmu. Melalui cara seperti itu kader-kader bangsa sebagai pemilik kecerdasan (intelektual) diharapkan nantinya akan lebih siap ikut memberikan andil dalam memberikan perubahan kepada negeri ini sehingga slogan Agent of change tidak hanya sebatas sebutan dimulut saja.

*) Penulis merupakan Kepala Divisi Kajian Strategi dan Geo Politik Himapol Universitas Jambi

News Feed