by

Mengalir Darah Seorang Guru Agama

Asafri Jaya Bakri bergegas menuju Kantor Walikota seusai menghadiri pelantikan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Sungai Penuh masa tugas 2019-2024, Rabu 28 Agustus 2019 lalu. Di ruang kerjanya lantai dua, Asafri–begitu ia disapa–, tampak sibuk menerima panggilan telepon. Sesekali ia membolak-balik dan meneken setumpuk dokumen yang terusun rapi di atas meja kerjanya.

Selepas zuhur, Asafri bergerak lagi ke beberapa tempat. Hari itu, agendanya begitu padat.  Janji wawancara bersama Jambi Link terpaksa dilayani di atas kendaraan dinas, Alphard berkelir hitam plat BH 1 RZ, disela-sela perjalanan melipir ke rumah koleganya–anggota dewan yang baru saja dilantik–, itu.

———————-

“Saya lahir di sebuah kampung bersahaja. Rakyatnya bertani sawah,”kenang  Walikota Sungai Penuh dua periode itu.

Asafri adalah anak kelima dari delapan bersaudara. Terlahir dari keluarga ekonomi sederhana, ayahnya, Haji Bakri Rasul hanyalah seorang guru agama di sebuah madrasah di Kota Sungai Penuh. Sementara, ibunya, Samsiah, hanyalah ibu rumah tangga.

Sesekali sang ibu terpaksa turun ke sawah demi menambal kekurangan ekonomi keluarga. Asafri dan saudaranya acapkali ikut bertani. Mulai dari membajak, menanam sampai memanen padi. Decuran keringat tak dihiraukan demi sesuap nasi.

“Saya hidup dalam keluarga besar. Dengan kondisi ekonomi sederhana. Saya dan kakak beradik ikut bertani. Semua yang dilakukan petani, kami lakukan. Kami tekuni itu. Kita sungguh-sungguh. Mulai mencangkul, merumput, membajak hingga ikut memanen,”tutur Asafri.

Ayahnya, memang tak pernah bosan mengingatkan Asafri, agar tekun demi masa depan yang cemerlang. Kondisi seperti itu memantik Asafri gigih bekerja dan belajar. Karena itu, saban hari, usai nyawah, Asafri dipaksa ayahnya belajar kitab kuning.

Di bimbing guru ngaji, Muhammad Rusli, Asafri mulai mendalami ilmu agama, tata bahasa arab dan kaidah ushul fiqih.

Wajar, di usia terbilang belia, Asafri tumbuh dalam kultur keagamaan yang sangat kuat. Kendati tak pernah bersekolah di madrasah, alih-alih mengenyam bangku pondok pesantren, di usia terbilang muda, Walikota Sungai Penuh dua periode ini sudah disapa buya.

“Basis itu membuat saya berkembang hingga bersekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA),”kata pria yang kini akrab disapa AJB itu.

AJB tak pernah membayangkan bisa seperti sekarang–menjadi rektor ataupun walikota. Jangankan bercita-cita, mimpi saja tidak pernah. Menjadi buya, berceramah dari dusun ke dusun, laiknya sang ayah, itulah cita-citanya. Tapi, seiring waktu, dari PGA inilah jalan suksesnya terbentang.

Berbekal tekad dan kegigihan, Asafri nekad merantau jauh ke seberang pulau jawa. Meninggalkan kedua orang tua, tanpa sanak saudara, seorang diri ia berkelana di negeri orang. Semasa di perantauan , Asafri bergaul dengan sederet pesohor.

Ia berkenalan dengan sejumlah tokoh, seperti Mantan Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsudin, Mantan Menteri Agama Surya Darma Ali dan pentolan Himpunan Mahasiswa Islam Azumardi Azra. Kelak, Asafri mengikuti jejak sukses mereka hingga menjadi Rektor dan kini menjabat Walikota Sungai Penuh dua periode.(Bersambung)

[AWIN]

News Feed