by

Praktik Lancung Distribusi Minyak ke SPBU

Volume minyak itu kerap minus tiap kali pengiriman, mulai dari 100 liter sampai 200 liter. Sejumlah pengusaha Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) ini diklaim merugi miliaran rupiah.

——————-

Kecurigaan MR–seorang pengusaha SPBU di Kerinci–, itu membumbung sejak tiga tahun belakangan. Tiap kali anak buahnya melapor, ia selalu mengelus dada.

Pendapatan usahanya menurun, makin lama terus menukik.

“Volume minyak yang dikirim kurang lagi pak,”cerita MR menirukan laporan anak buahnya.

Tak ingin terus buntung, MR bergerak senyap mengecek aktifitas distribusi minyak ke SPBU miliknya.

Menjelang malam, sebuah truk tangki PT Elnusa datang dan melansir Bahan Bakar Minyak ke SPBU miliknya, awal tahun lalu. MR terkaget-kaget ketika melihat langsung volume minyak yang dilansir malam itu, tak full.

“Ada kekurangan sekitar 200 Liter,”kata MR.

Ia protes langsung ke Pertamina. Sesuai aturan, kata MR, mereka berhak menolak BBM jika tak memenuhi standar. Tapi,

“Kami pengusaha terkadang dilematis. Kalau dikembalikan, kami tidak bisa jualan. Jadi, ya terpaksa terima aja walau kadang volumenya kurang,”jelas MR.

Seusai protes, distribusi BBM kembali normal. Tapi, itu hanya berlangsung sebentar saja. Ketika kontrol lemah, praktik serupa terjadi lagi.

“Mau sampai kapan begini terus? Pengusaha kan gak mungkin memelototi terus distribusi BBM itu,”ujarnya.

Lain MR lain pula AL.

Pemilik SPBU di kawasan Merangin itu sampai merugi Rp 2 Miliar. Gara-garanya, volume minyak yang dilansir ke SPBU-nya setahun belakangan kerap kurang.

AL menengarai minyak sengaja di kurangi oleh oknum sopir tangki.

“Si Sopir sengaja kencing (mengeluarkan minyak) ditengah jalan,”kata AL.

Ia sedang mempertimbangkan memboyong kasus ini ke ranah hukum.

“Kecurangan sopir ini telah merugikan kita,”katanya.

Praktik curang pelangsiran minyak ke SPBU terkuak ketika dua SPBU menolak kiriman BBM jenis solar, akhir pekan lalu.

Terindikasi oplosan, manajemen SPBU menolak kiriman solar yang diangkut truk tangki PT Elnusa–anak cabang Pertamina penyalur BBM Subsidi ke SPBU.

SPBU itu berada di Sungai Rengas Batanghari dan Durian Luncuk Kecamatan Bathin 24 Batanghari.

Sumber salah satu aparat menyebutkan, penolakan pertama terjadi pada Jumat 16 Agustus 2019. Berawal ketika manajemen SPBU Sungai Rengas menerima kiriman BBM jenis solar sebanyak 16 Ribu liter atau setara 16 Ton.

Menurutnya, BBM diangkut seorang sopir menggunakan truk tangki bermerek PT Elnusa.

“Rupanya minyak solar yang dikirim tidak sesuai spesifikasi solar Pertamina,”ujarnya kepada Jambi Link.

Dua hari berselang, kejadian serupa menimpa SPBU Durian Luncuk, Ahad 18 Agustus 2019. Pengelola SPBU mencurigai ketidakwajaran solar yang di kirim Pertamina. Ketika di cek, mereka menemukan Specific Gravity (SG) atau berat jenis minyak melebihi standar Pertamina.

Warna minyak terlihat keruh kehitaman. Padahal standarnya berwarna kuning kecoklatan dan tetap jernih. Baunya pun seperti bau minyak tanah, bukan solar.

“Karena tidak sesuai, makanya kita tolak,”kata Manager SPBU Durian Luncuk, Fahmi.

Minyak oplosan itu diduga berasal dari gudang-gudang penampungan minyak di Bungku dan Musi Banyuasin.

Pengakuan Fahmi, kasus seperti ini rupanya sudah berulang kali terjadi. Karena itu, mereka menerapkan standar ketat ketika menerima kiriman BBM Pertamina.

“Kita selalu cek dengan alat khusus. Kalau tidak sesuai langsung kita tolak,”kata Fahmi.

Terkuaknya kasus minyak oplosan itu memantik reaksi pengusaha SPBU lain. Mereka rupanya bernasib serupa, menjadi korban kejahatan oknum pelangsir minyak.

Data yang diperoleh Jambi Link, dulu, minyak yang dilansir diangkut langsung oleh pengusaha  SPBU. Pertamina tak menyediakan angkutan.

Tapi, tiga tahun belakangan, Pertamina mengambil alih angkutan minyak itu. Lewat anak perusahaannya—PT Elnusa dan Patra Niaga–, minyak-minyak itu dikirim dari depot kasang, Kota Jambi ke tiap SPBU.

“Sejak itu, kita rugi terus,”imbuh MR, seorang pengusaha SPBU itu.

Ia menyebut, selain sopir truk tangki, praktik curang ini berpotensi dilakukan oknum di internal Pertamina.

“Makanya saya pernah usulkan untuk angkut sendiri,”katanya.

Kepala Ombudsman Perwakilan Jambi Dr Jafar Ahmad SAg MSi, mengatakan Pertamina tentu saja punya Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam proses distribusi BBM ke tiap SPBU.

Semestinya, jika SOP dijalankan dengan benar, praktik pengurangan volume atau melansir minyak oplosan ke SPBU tidak akan terjadi.

“Kita membuka layanan aduan kepada para pengusaha SPBU,”katanya.

Peraturan Ombudsman nomor 26 tahun 2017 menjelaskan tupoksi Ombudsman sebagai pengawas terhadap pelayanan publik yang dilakukan seluruh Kementerian, Lembaga, BUMN/D serta pemerintah daerah, maupun pihak lain yang bekerja selaku vendor inventaris Negara atau kontraktor proyek Negara.

Ombudsman bertugas menyelidiki pelanggaran atau maladministrasi yang meliputi penundaan berlarut, tidak memberikan pelayanan, tidak kompeten, penyalahgunaan wewenang, penyimpangan prosedur, permintaan imbalan, tidak patut, berpihak, diskriminasi dan konflik kepentingan.

Adapun keluhan pengusaha SPBU ihwal distribusi BBM itu, menurut Dr Jafar Ahmad, Ombudsman mendorong mereka segera membuat laporan.

“Jika ada aduan resmi, kita tahu kronologis dan Ombudsman pasti akan mengusutnya,”ujarnya.

Sales Executive Retail VII Pertamina Kasang Jambi, Hendra Saputra meminta Jambi Link mengkonfirmasi kasus itu ke Kepala Depot Jambi.

“Untuk distribusi BBM bisa ke ahlinya kepala depot jambi. dengan pak Junius,”katanya.

Sementara, Junius, Kepala Depot Jambi belum merespon konfirmasi Jambi Link.

 

[ARDY IRAWAN, AWIN]

News Feed