by

Dituduh Maling HP, Saiful Tewas Dikeroyok

Saiful Ansori meregang nyawa dengan luka serius di bagian kepala. Jejaka 23 tahun itu sempat dihakimi massa seusai kepergok mencuri dua buah telepon android. Keluarga Saiful balik mempolisikan pelaku penganiaya.

——————-

Sesosok anak muda tergeletak tak berdaya di tepi jalan dengan nafas terengah-engah. Kedua tangannya terikat ke belakang. Pria lain berkemeja batik mengenakan sarung berdiri tepat disampingnya dan lalu melempar air dalam sebuah gayung ke muka si pemuda naas itu. Seketika si anak muda itu terlihat megap-megap. Ia kesusahan mengumpulkan nafas.

Video amatir tersebut viral di jejaring instagram. Sejak di unggah oleh akun IG kabar_batanghari_kito pada Minggu 11 Agustus 2019 lalu, video tersebut banjir komentar.

Mulyadi, warga Mayang Kota Jambi mengaku pemuda di video itu adalah keluarganya. Pria bernama lengkap Saiful Ansori itu, kata Mulyadi, kini sudah meninggal dunia.

Suasana Pemakaman Saiful Ansori

Menurut Mulyadi, Saiful meninggal dengan luka serius di bagian kepala. Ia sempat koma ketika menjalani perawatan di Rumah Sakit Siloam, Kota Jambi. Dokter menyebut cedera berat membuat Saiful tak tertolong.

“Kami sudah lapor polisi,”kata Mulyadi.

Selain kehilangan nyawa, motor Saiful juga di bakar massa.

Apa masalahnya?

Akun IG kabar_batanghari_kito itu mengungkap kronologis kejadian.

Saiful disebut-sebut sebagai pelaku pencurian HP. Ia dilaporkan mencuri dua buah telepon genggam milik Sunaryo, 40 Tahun, warga RT 01 Desa Mekar Jaya Kecamatan Bajubang, Batanghari.

Begini kronologisnya.

Menjelang pukul enam pagi, Minggu 11 Agustus 2019, Saiful mengendarai motor matic mengendap-endap masuk rumah Sunaryo. Aksi Saiful, rupanya, kepergok istri Sunaryo. Sontak, perempuan itu menjerit keras.

“Maling…maling…,”teriaknya.

Pagi itu, Sunaryo tengah tertidur pulas di sebuah kamar. Ia terjaga ketika medengar istrinya menjerit. Seketika ia loncat dari tempat tidur dan buru-buru mengejar Saiful.

Sunaryo dan Saiful sempat terlibat duel. Gara-gara itu, Sunaryo dikabarkan mengalami luka gigit di dada sebelah kanan dan luka lecet pada bagian kaki.

Gaduh di kediaman Sunaryo terdengar keluar. Warga ramai-ramai datang dan ikut berjibaku menangkap Saiful. Saat itulah Saiful menjadi bulan-bulanan massa.

Dari beberapa video yang beredar, dua warga terlihat memegangi kedua kaki Saiful dan lalu mereka menyeretnya. Sementara kedua tangannya diikat ke belakang. Warga lain dengan beringas menghantam sepeda motor milik Saiful dengan sebilah kayu. Beberapa orang menyiram sesuatu ke arah sepeda motor dan mecoba menyalakan api.

“Bakar be dakmau, nak aku nian. Orang mano kamu nih. Cubo punyo kamu di maling gini,”ujar seorang pria dalam video itu dengan nada meninggi.

Di video lainnya, seorang pria berkaos singlet terlihat hendak menyeret Saiful ke arah kobaran api.

“Bakar….,”teriak warga dalam video itu.

Suara Saiful tedengar lirih meminta ampun.

“Ampun kak..idak lagi..tobat aku,,”katanya terengah-engah.

Beruntung polisi cepat tiba ke lokasi. Saiful yang sudah sempoyongan langsung di boyong Polisi ke rumah sakit umum Muara Bulian.

Mulyadi mengimbuhkan, luka serius membuat kerabatnya itu mesti di rujuk ke rumah sakit siloam. Malang tak dapat ditolak, Saiful wafat setelah sempat koma beberapa jam.

Tak terima tindakan main hakim sendiri, Mulyadi menyebutkan, keluarga Saiful terpaksa mempolisikan pelaku penganiaya ke Polres Batanghari pada 11 Agustus 2019 pukul sepuluh malam. Laporan diterima langsung Aiptu Ali Hasan dengan nomor LP/B-66/VIII/2019/SPKT/Res Batanghari. Kasus ini tengah diusut dan disidik korps Bayangkara.

Menurut Mulyadi, Polres Batanghari telah menunjuk empat anggota penyelidik untuk menangani perkara ini. Mereka antaralain Brigadir Zulherdinata, Brigadri Angga Afrinaldo, Briptu Try Wantono Bawono, dan Bripda Hengki.

Salah seorang saksi HR telah diperiksa polisi pada Kamis 15 Agustus 2019, kemarin.

“Kami meminta polisi segera menangkap para pelaku penganiaya. Kita sudah serahkan bukti video kepada polisi,”ujarnya.

Mulyadi sadar, kasus pencurian merupakan perbuatan pidana. Tapi, menganiaya hingga menghilangkan nyawa manusia justru perbuatan pidana yang jauh lebih besar.

“Tak setimpal nyuri HP dibayar nyawa,”katanya.(*)

 

[ARDY IRAWAN, AWIN]

 

News Feed