by

Celeng Pembawa Maut di Pendung Kerinci

Samar-samar mereka mendengar suara dengusan, makin lama makin dekat. Nenek Ruh akhirnya meninggal dengan luka gigitan di sekujur tubuh. Kedua pergelangan tangannya koyak. Luka menganga lebar di sepanjang kedua kakinya.

——————

Menjelang pukul tujuh pagi ketika seekor babi hutan alias celeng mengendap-endap masuk ke rumah warga Pendung Tengah, Kerinci, pagi ini. Nenek Ruh tak sempat menoleh ketika si celeng mendekat dan langsung menggigitnya.

Usianya yang sudah sepuh membuat nenek Ruh tak berdaya melawan keganasan babi hutan. Nenek Ruh cuma bisa menjerit minta tolong.

Nurdin (75) dan Nomidan (70) pun tak punya tenaga meladeni serangan babi hutan. Keduanya langsung terpental, belum lagi berdiri kepala dan sekujur tubuhnya langsung digigit.

Sempat dilarikan ke rumah Sakit Umum Daerah MA Thalib Kerinci, tapi nyawa Nenek Ruh tak tertolong.

Camat Air Hangat, Dafrisman mengatakan tragedi tersebut terjadi pada pukul 06.30 WIB. Seekor babi hutan turun gunung, masuk pemukian dan menyerang warga.

Menurutnya, babi yang menyerang warga itu telah tertangkap dan dibunuh di sekitar kolam ikan BBI Pendung Semurup.

Detik-detik para korban dibopong ke rumah sakit itu mendadak viral siang ini. Warga ramai-ramai mendatangi lokasi kejadian, sebagiannya meraung-raung.

Seorang pria berkaos biru tampak tertatih-tatih menggotong Nenek Ruh masuk kedalam mobil. Sekujur tubuh hingga kedua kakinya dibalut selimut tebal. Darah terus mengalir dan menetes hingga ke aspal.

Empat orang pria dengan langkah gontai menggotong Nurdin kedalam mobil. Sekujur tubuhnya berlumuran darah dan luka menganga terlihat di paha sebelah kanan korban. Seorang pria berkaos loreng tampak menutup luka di paha kanan korban dengan tangan. Mereka kelihatan panik.

Kasus serupa pernah menimpa Hardian (40), warga Desa Pulau Tengah, Jangkat Merangin pada Jumat, 24 Maret 2017 silam. Sekujur tubuhnya luka-luka digigit babi hutan sebesar kambing.

“Setelah saya lihat dengan jelas, ternyata itu babi hutan dengan ukuran yang besar,” ujar Hardian saat dirawat di RSUD Kolonel Abundjani, Kota Bango.

Beruntung Hardian sempat berteriak minta tolong. Sejumlah warga yang mendengar langsung mendatangi lokasi. Babi raksasa yang mengamuk itu langsung lari ke dalam rimbunnya semak-semak perkebunan.

Camat Air Hangat mengimbuhkan, disaat waktu yang bersamaan, warga sebelah–Pendung Mudik–, memang tengah melakukan perburuan babi secara masal.

Berburu beramai-ramai kerap dilakukan warga. Tujuannya untuk mengusir atau menangkap kawanan babi hutan yang sering mengacak-ngacak kebun.

Dalam sebulan, ritual berburu babi bisa dilakukan sampai dua kali. Beberapa warga atau petani juga kerap memasang jaring atau jerat babi di perkebunan.

“Babi masuk Desa Pendung Tengah karena ada yang berburu babi di sekitar Desa Pendung Mudik,”kata camat.

Daerah pendung itu memang dekat dengan kawasan hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS)–yang menjadi habitat sejumlah satwa liar.

Tak hanya babi hutan, beberapa satwa lain juga kerap muncul di kawasan perkampungan atau kebun warga. Di antaranya seperti beruang, gajah hingga harimau Sumatra.

Banyak faktor penyebab babi hutan masuk ke permukiman, menyerang, bahkan membunuh manusia.

Catatan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), salah satu faktor penyebabnya adalah datangnya musim kemarau. Bisa juga karena persaingan antar kelompok babi hutan saat mencari pakan. Dimana ada induk jantan yang tersisih, dia akan mencari wilayah baru.

Turunnya babi hutan juga bisa disebabkan karena menipisnya pasokan makanan yang ada di hutan. Akibatnya babi hutan kemudian turun ke perkampungan untuk mencari makanan di lahan pertanian warga.

Selain itu, terusiknya wilayah babi hutan karena masyarakat mulai menggarap kawasan hutan juga menjadi pemicu.  Bahkan bisa membuat babi menyerang warga seperti kasus di Desa Pendung itu.

Camat Air Hangat menuturkan, untuk mengantisipasi serangan balik, ia meminta warga terus menyiagakan siskamling. Sembari membunyikan suara-suara untuk mengusir babi hutan.

“Solusi jangka pendek berupa siskamling, berupa membunyikan suara-suara yang bisa membuat babi hutan terganggu,” ungkapnya.

Ari, warga setempat mengatakan selama ini babi hutan hanya turun dan merusak tanaman warga. Tapi tidak pernah menyerang. Penyerangan terhadap warga di desanya baru pertama kali terjadi.

Sementara menurut Edi, kemunculan babi hutan kali ini sangat berbeda dengan sebelumnya. Biasanya babi hutan turun ke perkebunan atau pemukiman warga pada malam hari.

“Tapi ini siang hari, mungkin karena terdesak atau gimana,” ucapnya. (*)

[ANTONY ROZI, AWIN]

News Feed