by

Seteru Cabang Beringin Kian Panas

Kubu Bambang mendesak rapat pleno untuk mengevaluasi kinerja Ketua Umum Airlangga Hartarto.

—————-

Perseteruan dua kubu antara Airlangga Hartarto–Ketua Umum Golkar– dan Bambang Soesatyo, Wakil Koordinator Bidang Pratama DPP Golkar, kembali menimbulkan ketegangan baru di lingkup internal Golkar. Hubungan kedua kubu memanas lagi setelah Majelis Etik Golkar memanggil Darul Siska, fungsionaris Golkar yang juga pendukung Bambang. Pemeriksaan Darul dijadwalkan hari ini.

Darul mengatakan surat panggilan Majelis Etik terbit setelah dirinya melayangkan surat terbuka kepada Wakil Ketua Dewan Kehormatan Golkar Akbar Tandjung dan Ketua Dewan Pakar Golkar Agung Laksono. Selain menilai Majelis Etik tak ada dalam AD/ART Golkar, ia menganggap surat pemanggilan itu salah sasaran.

“Yang seharusnya dimintai keterangan lebih dahulu adalah Ketua Dewan Pakar dan Wakil Ketua Dewan Kehormatan. Kalau Majelis Etik ini memang berfungsi,”ujarnya dilansir dari Koran Tempo edisi Rabu 7 Agustus 2019.

Ia mengirim surat terbuka kepada Akbar dan Agung setelah kedua tokoh senior Golkar itu terang-terangan menyatakan dukungan kepada Airlangga untuk maju kembali sebagai calon Ketua Umum Golkar dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa, Desmeber mendatang. Akbar menyatakan dukungan itu pada 31 Juli lalu.

Darul menganggap sikap AKbar dan Agung ini yang seharusnya menjadi perhatian Majelis Etik.

“Saya tidak akan membuat surat terbuka jika mereka tidak menunjukkan pemihakan,”katanya.

Pemanggilan Darul memanasakn rivalitas antara Airlangga dan Bambang. Keduanya sama-sama ingin maju sebagai kandidat Ketua Umum Golkar dalam munas partai mendatang. Munas diagendakan pada Desember 2019. Tapi, kubu Bambang berupaya mempercepat pelaksanaan Munas menjadi bulan depan. Munas merupakan forum tertinggi Golkar, yang salah satu agendanya adalah memilih Ketua Umum.

Sebelum pemanggilan terhadap Darul, kubu Bambang lebh dulu mendesak Airlangga agar menggelar rapat pleno. Tujuannya untuk mengevaluasi hasil pemilu dan menyusun program periode mendatang. Desakan itu dituangkan dalam surat yang diteken 189 pengurus partai–diantaranya anggota Bidang Pemuda DPP Golkar, Nofel Saleh Hilabi–kepada Airlangga.

“Pleno itu menentukan segalanya,”kata Nofel.

Nofel dan pengurus lainnya menganggap ketiadaan rapat pleno sejak awal 2019 membuat kepemimpinan Airlangga dianggap melangngar ADART Golkar.

Menanggapi desakan tersebut, Sekretaris Jenderal Golkar Lodewijk Fredrich Paulus mengatakan partai masih membahas penyelenggaraan rapat pleno.

“Itukan rapat biasa. Tidak ada hal yang urgen dan kepentingannya apa. Kan tidak ada,”ujar dia.

Adapun Ketua Majelis Etik Golkar Muhammad Hatta mengatakan pemanggilan Darul tidak berhbunan dengan surat terbuka dia kepada Agung dan Akbar, melainkan merupakan pemanggilan rutin terhadap kader Golkar.

“Kami mengundang Kader. masalah rumah tangga partai kan banyak. kita lihat saja nanti,”katanya.(*)

Editor : Awin

News Feed