by

Aksi Bungkam Muhamadiyah dan Asiang

Terik sang surya siang itu memaksa Muhamadiyah dan Joe Fandi Yoesman mengernyitkan dahi. Dengan langkah gontai, keduanya berjalan menyusuri lorong samping kanan gedung merah putih dengan tangan di borgol dan mengenakan rompi orange.

———————-

Muhammadiyah dan Asiang ketika tiba di pintu depan gedung KPK

Mantan Ketua Fraksi Gerindra DPRD Provinsi Jambi dan Asiang terlihat masygul ketika berpapasan dengan para juru warta di halaman depan gedung KPK, pada Senin 5 Agustus 2019, kemarin.

Asiang—pengusaha kakap itu—justru buru-buru melengos dan lalu menunduk ketika melihat wartawan foto tengah membidik kamera ke arahnya. Tak ada senyum apalagi kata-kata yang terlontar. Pria berkacamata tebal itu bergegas masuk gedung merah putih diiringi Muhammadiyah dibelakangnya.

Hari itu, keduanya diperiksa perdana setelah menjalani masa tahanan selama 20 hari.

“Untuk melengkapi berkas,”ujar Juru Bicara KPK Febridiansyah, dikonfirmasi Jambi Link, Rabu 7 Agustus 2019.

Febri tak merinci materi pemeriksaan keduanya.

Sehari berselang, KPK mengagendakan pemeriksaan Sufardi Nurzain, Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi. Sorenya, Sufardi langsung ditahan. Ia menempati sel yang sama dengan Muhammadiyah dan Asiang.

KPK terus menggali informasi dari para tersangka untuk mengembangkan kasus ini.

Dari Muhamadiyah, KPK hendak mempertebal bukti dan menelusuri siapa saja dewan yang berkemungkinan ikut terlibat. Toh, KPK sudah menyebut 53 nama dewan penerima suap secara terang di dalam dakwaan Zumi Zola, setahun lalu.

Lewat Asiang, KPK tengah menelusuri kemana saja uang suap mengalir.

Siapa Asiang?

Pengusaha keturunan itu dikenal sebagai konglomerat tersohor di Jambi. Bidang usaha utamanya adalah konstruksi. Ia banyak mengerjakan proyek-proyek pemerintah, entah bersumber dari APBD Kab/kota, provinsi ataupun nasional. Fokus proyeknya adalah infrastruktur jalan.

Sebagai Direktur Utama PT Sumber Swarnanusa, hari-harinya ia selalu berkantor di Jalan Lingkar Barat, Pal 10 Kota Jambi. Asiang membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), persis disebelah kantornya.

Kini, sepeninggal Asiang, perusahaan itu dikelola putranya.

Asiang dikenal pengusaha licin. Tengok saja, ditengah ruwetnya proses tender dan rumitnya birokrasi, Asiang justru sukses memboyong proyek pemerintah bernilai puluhan bahkan ratusan miliar. Bagi Asiang, persoalan gampang menjinakkan birokrasi pemerintah.

Ia mengamalkan istilah “ ada uang abang disayang”.

Kasus OTT suap ketuk palu itu membuktikan jati diri Asiang dan keandalannya menyetir dewan dan birokrasi pemprov, termasuk gubernur. Eksekutife dan legislatif dibuat kompak bersekongkol meloloskan APBD—yang didalamnya terdapat proyek Asiang.

Sebagai konglomerat, Asiang juga dikenal royal. Mereka dari berbagai profesi kerap bertandang ke kantornya. Bukan sebatas silaturahmi biasa. Ketika pulang, ahlul bait kerap menitip buah tangan.

Semakin tinggi jabatan si tamu, semakin gede uang saku. Apalagi menjelang lebaran. Tamu-tamu berseliweran.

Dalam kasus suap APBD itu, Asiang tentu tidak sendirian. Pengusaha lain juga ikut terlibat.

KPK diperkirakan bakal memboyong para tersangka ke meja hijau pada akhir Agustus atau awal September 2019 mendatang. Drama suap ketuk palu belum berakhir.(*)

[ARDY IRAWAN, AWIN]

 

Berikut Foto-fotonya :

News Feed