by

Ditahan KPK, Sufardi Nurzain Bungkam

Sufardi Nurzain akhirnya mengenakan rompi oranye ketika keluar gedung pemeriksaan menuju mobil tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi. Pria berkacamata itu bungkam.

—————

Setelah menjalani pemeriksaan hampir enam jam, KPK memutuskan menahan Ketua Fraksi Golkar DPRD Provinsi Jambi Sufardi Nurzain. Sufardi ditahan selama 20 hari pertama.

“Penyidik melakukan penahanan untuk tersangka SNZ (Sufardi Nurzain) Ketua Fraksi Golkar DPRD Provinsi Jambi Periode 2014 – 2019 DPRD Provinsi Jambi,” kata Kabag Pemberitaan dan Publikasi Humas KPK Yuyuk Andriati kepada wartawan, Selasa (6/8/2019).

Sufardi keluar dari gedung KPK Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan sekitar pukul 17.00 WIB. Sufardi keluar memakai rompi tahanan dengan tangan diborgol.

Ia memilih bungkam ketika dicecar wartawan saat keluar gedung pemeriksaan. Sufardi ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) KPK K4.

“Penahanan dilakukan di Rutan K4,” sebut Yuyuk.

Sebelum Sufardi, KPK sudah menahan sejumlah tersangka dalam kasus ini. Mereka yang telah ditahan adalah Muhammadiyah, Joe Fandy Yoesman atau Asiang, Effendi Hatta, Zainal Abidin, Elhelwi dan Guzrizal.

Jejak Sufardi dalam kasus ini terlacak didalam dakwaan KPK terhadap Saipudin, mantan asisten III Pemprov Jambi. Sufardi Nurzain Ketua Fraksi Golkar itu bertemu Saipudin dan  Arfan–Kadis PU–  di SPBU daerah   Palmerah   Jambi.

Saat   itu Sufardi   mengatakan,

“Pada   prinsipnya  Fraksi Golkar bersedia   hadir  dan menanyakan  bagaimana  dengan kesepakatan fraksi-fraksi”.

Saipudin menimpali akan ada pemberian uang ketok palu RAPBD 2018 setelah paripurna.

Saipudin lalu menanyakan siapa yang akan menerima uang ketok palu. Sufardi menyebut nama M Juber.

Selasa tanggal 28 Nopember 2017 pukul 05.30 WIB, Wahyudi Apdian Nizam dan Ivan–staf Dinas PU Provinsi–mengambil uang ketok palu’ di rumah Wasis Sudibyo–saat itu Kepala Alkal.

Dari sana, uang diboyong kerumah Saipudin. Dibantu Fauzi alias Atong, Saipudin menyerahkan uang ketok palu sejumlah  Rp700 juta kepada M Juber untuk dibagikan kepada 7 Anggota Fraksi Golkar.

Uang diserahkan pada Selasa tanggal 28 Nopember 2017 pukul 06.30 WIB di rumahnya Jalan Kimaja II RT 20 Simpang III Sipin – Kota Baru Jambi.

M Juber  ditelpon  Sufardi  Nurzain pukul  08.00 WIB  dan menanyakan apakah sudah menerima uang dari Saipudin.

Sufardi menugaskan M Juber menyerahkan uang Rp 700 juta itu kepada 5 (lima) orang Anggota Fraksi Golkar dan memotong bagian masing-masing Anggota.

Atas arahan Sufardi Nurzain, M Juber kemudian membagikan uang tersebut kepada Anggota Fraksi Golkar.

Mulanya Juber menelpon Ismet Kahar pada pukul 08.30 pagi. Ismet lantas bergegas kerumah Juber dan menerima uang yang dibungkus kantong plastik sejumlah Rp 99 juta. Uang dipotong Rp 1 juta sebagai upah M Juber.

Rupanya, Sufardi mengontak lagi ketika Juber hendak memberikan uang ke Tartiniah, anggota fraksi Golkar lainnya. Sufardi menyebut jatah masing-masing anggota semestinya dipotong Rp 12 Juta, bukan satu juta. Rinciannya, potongan Rp 2 juta upah untuk Juber dan Rp 10 Juta untuk Ketua Fraksi.

Sufardi ketika itu adalah Ketua Fraksi Golkar.

Usai menerima arahan, M Juber lantas mengantar uang jatah Tartiniah ke rumahnya di Lorong H Ibrahim Jambi. Tartiniah menerima uang sejumlah Rp 88 juta–setelah dipotong Rp 12 juta.

Lalu Popriyanto dihubungi Juber pukul 09.00 dan mereka janjian bertemu di rumah Tartiniah. Disana, Juber menyerahkan jatah Popriyanto Rp 88 Juta sekaligus menitip bagian Mailudin.

Jatah Mailudin itu kemudian diantar langsung oleh Popriyanto ke rumahnya.

Karir Sufardi di politik sebenarnya cukup cemerlang. Diusia yang terbilang muda, ia sudah menduduki jabatan mentereng, sebagai Ketua Fraksi dan Wakil Ketua DPRD. Tapi sayang, karir politiknya itu justru mengantar Sufardi ke bui.(*)

Editor : Awin

News Feed