by

Saat Ombudsman Menjadi Pusat Mediasi

Mereka yang tengah berurusan dengan Ombudsman kerap menggunakan segala cara untuk menyelesaikan masalah.

——————————–

Mengenakan setelan jas lengkap warna gelap, Prof Amzulian Rifai berjalan cepat masuk aula lantai enam Gedung Ombudsman Republik Indonesia ketika jarum jam mengarah tepat pukul sepuluh pagi. Seorang pria berpakaian batik berlabel Ombudsman tegak di belakangnya sembari memegangi dua buah map–warna biru dan merah.

Pagi itu, mantan Dekan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya ini dijadwalkan melantik 4 Kepala Perwakilan Ombudsman daerah–Jambi, Sumbar, Papua Barat dan Jawa Tengah. Prof Amzulian juga melantik 5 Sistem Utama dan 5 Asisten Madya Ombudsman RI.

Dr Jafar Ahmad tegak diantara 4 pejabat Kepala Perwakilan yang dilantik Prof Amzulian Rifai. Akademisi jebolan Universitas Indonesia itu kini resmi menyandang status Kepala Ombudsman Perwakilan Jambi masa bakti 2019-2024.

“Saudara akan berhadapan dengan kementerian dan lembaga di tingkat Daerah. Itu butuh ketrampilan yang tak sederhana,” kata Prof Amzulian Rifai berpidato tanpa teks dihadapan para Kepala Perwakilan dan asisten yang baru saja dilantik.

Ia mengingatkan, kerja kaper di daerah cukup berat. Tantangan tak hanya muncul dari eksternal melainkan pula dari internal. Karena itu, Prof Amzulian berpesan kaper semestinya menjadi tauladan. Mampu mengayomi dan mengkonsolidasi para asisten di daerah.

Yang tak kalah penting, kata dia, kemampuan menghadapi tantangan yang datang dari eksternal. Ia mencontohkan, acapkali mereka yang berurusan berusaha keras menegosiasi agar masalahnya cepat beres.

“Sesuai dengan keinginan mereka. Ini perlu kerja yang tak sederhana,” ungkapnya.

Karena itu, Prof Amzulian mengingatkan para kaper untuk Istikomah menjaga Marwah Ombudsman. Tetap konsisten berada dijalurnya. Jangan bengkok.

 Kami tak sungkan hentikan yang keluar jalur. Jateng belum genap setahun, dengan berat hati kita berhentikan,” tegasnya.

Ia lantas mengharap para kaper menggores sejarah.

“Kami tunggu karya anda,” ujarnya.

Diwaktu yang sama, Prof Amzulian juga melantik 10 asisten ombudsman yang naik pangkat. Dihadapan mereka, Prof Amzulian meminta para asisten terus berkarya.

“Kembangkan ombudsman menjadi pusat mediasi,” tegasnya.

Ombudsman merupakan lembaga negara yang khusus menangani masalah-masalah pelayanan publik. Kehadiran Ombudsman diharap menjadi mediator agar institusi negara maupun lembaga swasta memberikan performa terbaiknya ihwal pelayanan. Tidak  menggangu kepentingan publik ataupun merugikan mereka.

Karena itu, kata Amzulian, sudah semestinya ombudsman hadir menjadi rujukan semua orang, rujukan semua instansi ataupun lembaga, ihwal mediasi.

“Orang musti datang kesini untuk belajar. Bukan malah kita yang kursus ke luar,” katanya.

Turut menghadiri pelantikan itu wakil Ketua Ombudsman RI Lely Pelitasari Soebekty dan sederet asisten dan ASN kesekjenan.

Editor : Awin

News Feed