by

Pengganggu dan Pengabdi: Dua Kubu dalam Demokrasi

Oleh Wahyu Hidayat

BEBERAPA bulan yang lalu bangsa Indonesia berhasil menyelenggarakan pesta perebutan kekuasaan, pemilihan pemimpin sebuah Negara. Dalam sistem demokrasi pemimpin dipilih melalaui jalan demokrastis (dipilih langsung oleh rakyat). Mengaplikasikan sistem politk demokrasi, tentunya ndonesia siap atas konsekuen dari sistem tersebut, yaitu terbentuknya mayortias dan minoritas. Hanya kedewasaan berpolitiklah yang mampu meredam fenomena politik yang demikian.

Dalam sebuah Negara demokrasi kita selalau menemukan dua istilah yang membatasi antar pengampu kekuasaan, pemerintah dan oposisi. Biasanya dua unsur ini wajib ada dalam sebuah negara demokrasi, agar ada check and balance. keduanya selalau bermanuver antar satu dengan yang lain dengan tujuan nantinya mempengaruhi elektabiltas masing-masing kubu.

Tahun 2019 adalah pemilihan Presiden Indonesia. Jauh sebelum hari H, dua kubu sudah terbentuk. Dimana masing-masing calon sudah mulai mengagitasi rakyat dengan paradigma dan frame yang dimilki. Tentunya rakyat selalu disajikan dengan konten politk yang berdinamika. Begitu banyak isu-isu yang dikembangkan masing-masing kubu. Mula dari agama, ras dan lain sebagainya.

Buntut panjang dari kisruh yang terjadi anatar kubu sebelum hari H, akibatnya masing-masng saling melaporkan atas isu dan tuduhan yang kadang-kadang tidak sesua dengan fakta. Saling lapor, dan saling menyalahkan. Itulah tontonan yang selalu muncul dalam media demokrasi. Tuntunan yang seharusnya kita harapakan malah jadi tontonan yang tidak terdidik, lagi-lagi rakyat diciderai karena dirampasnya khitah demokrasi yaitu edukasi.

Negara itu adalah suatu kelompok yang terorgansasi, yaitu suatu kelompok yang mempunyai tujuan-tujuan yang sedikit banyak dipertimbangkan, pembagian tugas dan perpaduan kekuatan-kekuatan, begitu disebut Prof Hoegerwef. Atas dasar itu terbukti bahwa dalam sbeuah negara, selalu ada kelompok yang masing-masing mempunyai jalan yang berbeda dalam mewujudkan kekuasaan.

Kembali pada demokrasi, secara de facto rakyat adalah pemegang tertinggi kekuasaan, namun berkembangnya demokrasi saat ini menjadikan rakyat sebagai objek untuk melenggangkan kekuasaan. Yang pada akhirnya terbentur dengan kawan dan lawan dalam politik suatu negara, rakyat yang mengalami itu semua.

Dua calon yang maju dalam pesta demokrasi indonesa, sehingga membuat rakyat terbelah dua, antara kubu calon Adan kubu calon B hanya sedikit yang memilih Golongan Putih (Golput). Antara petahana dan penantang beradu kekuatan memperebutkan hati rakyat, yang satu jual kinerja yang satunya menjanjikan lebh baik.

Kita bisa melihat sendiri bagaimana fenomena itu berkembang, rakyat seolah adu jotos, reverent power antar calon menjadi senjata baru untuk mempengaruh rakyat. Walaupaun kita tahu bahwa daya tarik tidak menjadi faktor utama memperebutkan kekuasaan, setidakanya daya tarik antar calon dimanfaatkan oleh antar kubu. Ada yang memlih karena kekagumannya dan ada yang memilih karena kepentingan, hakekatnya seperti tu dalam proses pemilihan.

Semua proses telah dilalui. Pemilihan pun telah usai, tentu kita berharap semua akan selesai dan dinamika antar kubu juga berakhir. Tinggal bagaimana kita merawat hubungan antar pemerintah dan oposisi. Pemerintah yang dalam hal ini petahana tergabung dalam beberapa koalisi partai poltk, tentunya kue yang didaptakan hares dibagi secara merata sesuai dengan kemampuan dan kontribusi, hal ini tidak bisa kita pungkiri.

Oposisi dan koalisi petahana semkain hari semakin menunjukkan titik terang, dimana sikap kedewasaan terlihat seteleh penetapan dari KPU. Ucapan selamat yang disampakan oleh pihak oposisi terucapkan dengan lapang dada.itu menunukkkan bagaiamana dewasanya tokoh politk kita.

Pengabdi dalam hal ini koalisi petahana akan menjalankan kekuasaannya dengan baik, penganggu dalam hal in oposisi kita harapkan menjalankan tugasnya sebagai controlling dengan baik. Memang keduanya tidak bisa dipisahkan, keduanya wajib ada dalam sebuah Negara demokrasi. Pertemuan antar petinggi partai mengisyaratkan bahwa demokrasi itu sebenarnya adalah jalan suci mencapai tujuan. Lepaskan ego masing-masing, kita saling mengawasi dan mendukung setiap kebijakan yang berorentasi pada rakyat.

Mudah-mudahan fenomena saat ni menjadi edukasi politik anak muda kedepan agar nantinya sejarah akan menjadi dasar utama kemajuan peradaban politik bangsa indonesia. Dengan demikian sumber daya manusia dan kemampuan yang berkualtas akan menghasilkan produk-produk poltik yang tentunya juga berkualitas.

Harapan besar kita harapkan pada tokoh bangsa, agar senantiasa merawat demokrasi, perpecahan hanya terjadi waktu pemlihan itu wajar, setelah pemilihan kita kembali pada persatuan, karena itu falsafah bangsa indonesia. (***)

Penulis adalah Anggota DPD IMM Provinsi Jambi

News Feed