by

Panglima Telpon Dansat Minta Anggota tak Bergerak

Sambil menenteng parang, bambung runcing, kayu dan senjata laras panjang rakitan, sekelompok massa itu beringas merusak rumah, memecah kaca dan menghajar aparat berpakaian loreng TNI. Video amatir, pecah amuk massa itu terjadi di area PT Wira Karya Sakti (sinarmas group) di Distrik Delapan, Tanjung Jabung Barat.

————————————

Pria berpakaian loreng ini dihajar lima orang hingga tak berdaya. Ada yang memegangi tangannya, sebagian lain memegangi kepalanya. Adapula yang memegangi kakinya.

Pria berkaos biru dan mengunakan pengikat kepala warna merah kelihatan paling brutal menghajar.

“Tembak be..,” teriak massa dalam video amatir berdurasi 3 menit 12 detik itu.

Setelah puas menghajar, pria berpakain loreng itu dibiarkan terkapar di semak-semak. Sejenak, ia berusaha bangun dan berjalan ke sebuah rumah.

Sambil mengangkat dua tangan, ia bertemu sekelompok massa yang menghardiknya.

“Duduk kau….,”.

Beberapa meter dari sana, seorang pria dengan bawahan loreng tak berbaju tampak dihajar massa. Entah kemana bajunya.

Tangan kanan pria itu terlihat berlumuran darah.

Setidaknya dua orang terlihat memukuli pria bercelana loreng TNI itu.

Ia terbaring lemah tak berdaya di jalanan bertanah dan berdebu ketika sekelompok massa itu memecahkan kaca rumah dengan beringas.

Salah satu Intel TNI Komando Resor Militer 042 Garuda Putih membenarkan video amatir ini.

Menurutnya, kejadian itu berlangsung Sabtu pekan lalu.

“Anggota kita lagi tugas padamkan api, eh… kok malah ikut di keroyok massa,”ujarnya.

Penyerangan terhadap anggota TNI membuat anggota lain ikut bergejolak. Koleganya sesama TNI sempat naik pitam.

Tapi,

“Panglima cepat telpon para Dansat. Supaya tahan anggota,”katanya.

Kasus penyerangan dan pengeroyokan itu kini sudah ditangani Polda Jambi.

“Saat ini tim sedang bekerja menangani masalah ini. Mohon doanya,”ujar Kapolda Jambi Irjen Pol Muchlis AS kepada Jambi Link, siang ini.

Informasi yang dirangkum Jambi Link, penyerangan ini diduga dilakukan oleh sekelompok orang yang tergabung dalam Serikat Mandiri Batanghari (SMB).

Yang diserang dan dirusak adalah Kantor PT Wira Karya Sakti (WKS) di Distrik Delapan, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi.

Massa beringas dan ikut mengeroyok kepala desa beserta tiga anggota TNI dan dua anggota polisi. Polda Jambi tengah mengejar para pelaku.

Pemicunya diduga terkait keributan kelompok SMB dengan pemilik Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Rakyat (IUPHHK-HTR) di Desa Belanti Jaya, Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari, Jambi.

Perseteruan antara PT Wira Karya Sakti (WKS) melawan petani yang tergabung dalam Serikar Mandiri Batanghari (SMB) itu terus berkobar.

Setahun yang lalu, Kamis 21 Juni 2018, Pos pengamanan milik PT WKS yang berlokasi di Distrik VIII, Kabupaten Batanghari pernah dibakar massa. Insiden ini juga buntut dari perseteruan antara WKS dan SMB.

Pos yang di bakar tersebut juga berada di Distrik Delapan yakni Pos 801.

PT WKS dan SMB memang sudah terlibat perseteruan sejak lama.

SMB pada Rabu 25 April 2018 silam juga sempat menduduki lahan yang berada di Kecamatan Mersam Kabupaten Batanghari.

Lahan itu, versi petani SMB adalah merupakan eks lahan perusahaan Indotani, bukan milik PT WKS.

Tapi, lokasi itu tumbuh pepohonan akasia yang ditanami oleh PT WKS.

Versi WKS, lahan itu memang bukan milik mereka. Tapi, pohon akasia itu memang WKS yang menanam.

Dasar hukum penanaman akasia dilokasi itu karena mereka mengklaim sudah menjalin kemitraan dengan beberapa koperasi.

WKS menyebut lokasi tersebut masuk dalam lahan yang dikelola oleh Koperasi Rimbo Karimah Permai (KRP).

Tapi, versi SMB, itu ada kepemilikan lain. Bukan milik PT WKS.

Secara perizinan, areal itu adalah kawasan hutan. Para pengelola mendapat izin dari Kementerian Kehutanan dalam bentuk Hutan Tanaman Rakyat (HTR). Ada Lima Koperasi yang mengelola lahan itu.

WKS mengklaim, karena akasia itu ditanami WKS, maka itu menjadi aset WKS dan Koperasi. Apalagi, antara PT WKS dan lima koperasi sudah bermitra.

Bara ini tak pernah berujung.

Waktu itu, ratusan warga berasal dari dua kecamatan, yakni Maro Sebo Ulu (MSU) dan Mersam sempat melakukan aksi pendudukan lahan.

Mereka mendesak WKS hengkang dari lahan sengketa itu.

Dalam aksi tersebut ada 10 poin yang dituntut massa.

Pertama, meminta kepada pihak pemerintah agar lahan yang pernah digarap warga sejak 1999 sampai tahun 2006 dan digusur oleh PT WKS pada tahun 2007 hingga 2009 dikembalikan ke petani.

Kedua, PT WKS harus mengganti kerugian petani senilai Rp. 5,8 miliar.

Ketiga, meminta kepada Menteri Kehutanan agar mencabut izin PT WKS, karena menimbulkan masalah yang berkepanjangan.

Keempat, meminta kepada TNI, Polri tidak melarang, mengusir, menangkap mayarakat berdasarkan PP Nomor 88 Tahun 2017 Pasal 30 huruf B.p

Kelima, meminta kepada Menteri transmigrasi agar merealisasikan program TSM ( Trans Swakarsa Mandiri) di Batanghari.

Keenam, meminta kepada Menteri Kehutanan untuk menghentikan program HTR karena diduga mementingkan diri sendiri dan kekayaan pribadi.

Sementara, amuk massa di distrik delapan itu merusak sejumlah kendaraan seperti mobil dan sepeda motor milik Tim Satuan Tugas Monitoring Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Akibat penyerangan tersebut, sejumlah korban luka-luka.

Kapolda Jambi menegaskan, saat ini pihaknya tengah mengidentifikasi para pelaku penyerangan dan perusakan dari kelompok SMB.

Selain itu, polisi mengumpulkan barang bukti dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP).

“Kami sedang lakukan mapping terhadap beberapa pelaku,” kata Kapolda.

Kapolda mengatakan, pascapenyerangan dan pembakaran lahan, Polda Jambi dan Korem 042 Gapu Jambi telah menurunkan 100 anggota TNI dan 230 anggota Polri untuk mengamankan lokasi kebakaran dan penyerangan tersebut.(*)

 

Penulis : Ardy Irawan

Editor : Awin

 

News Feed