by

AJB dan Perjuangan Membangun Pabrik Cassiavera di Kerinci

Pabrik kayu manis (Cassiavera) itu tidak hanya menampung produk dari Sungaipenuh dan Kerinci saja, melainkan juga dari Merangin, Muko-muko, Solok Selatan dan Renah Lindojati. Asafri Jaya Bakri sukses mengerek ekonomi dan kesejahteraan warga, utamanya para petani kayu manis.

—————————————

Pepohonan dan jalan desa di sepanjang lereng Kumun Debai, Kota Sungai Penuh masih basah setelah diguyur hujan sepanjang malam, awal Januari 2010 silam.

Tapi, warga desa masih tetap sibuk menghampar kulit-kulit kayu berwarna kuning kecokelatan itu di tepi jalan, persis di depan rumah mereka.

“Hasil panen cuma cukup buat makan pak,”keluh Aslan, petani kayu manis itu kepada Asafri Jaya Bakri.

Waktu itu, pria yang akrap disapa AJB ini belum menjadi walikota.

Ia tengah berkunjung ke masyarakat buat sosialisasi. Curhat petani dicatat rapi oleh AJB di buku khususnya.

Setahun berselang, AJB pun dilantik menjadi Walikota Sungai Penuh.

Mantan Rektor UIN STS Jambi ini langsung membuka lembar catatan semasa kampanye dulu. Pada lembaran pertama itulah terpapar curhat Aslan dan para petani kayu manis.

AJB langsung memanggil para anak buahnya.

“Kita harus buat terobosan untuk petani kayu manis,”ujar AJB.

Sebagai penghasil terbesar Cassiavera, AJB ingin para petaninya sejahtera.

Ia terus berikhtiar mencari solusi terbaik, bagaimana mengerek ekonomi warga dan berusaha keras meningkatkan nilai tambah kayu manis.

Kala itu, harga kayu manis memang sedang jatuh. Satu kilogramnya hanya dijual 10 Ribu, bahkan pernah 7 Ribu.

Padahal, Cassaivera merupakan primadona di Kerinci dan Sungai Penuh. Pada masanya, petani kayu manis di Kerinci pernah jaya.

“Kita harus kembalikan masa keemasan dulu,”pinta AJB kepada para anak buahnya.

Dibawah kaki langit senja sore itu, pada medio 2011, AJB kedatangan tamu para konsultan perusahaan kayu manis Co Cassia dari Belanda.

Mereka datang untuk melakukan survei ihwal potensi kayu manis. Rupanya, perusahaan Belanda itu berniat membangun pabrik Cassiavera.

Tim survei turun untuk mengecek potensi dan stok kayu manis yang ada di Kerinci dan Kota Sungai Penuh.

AJB tak perlu lama-lama berfikir. Ia langsung menyambar niat baik perusahaan Belanda itu.

“Ini yang saya harapkan. Inilah solusi bagi petani kayu manis. Ayo kita jalan,”ujarnya.

Menurut AJB, kehadiran pabrik cassiavera akan meningkatkan nilai tambah kayu manis. Dengan begitu, petani kayu manis akan sejahtera, tidak lagi susah, seperti Aslan, warga Kumun Debai itu.

Adrian, General Manager Cassia Co-op kaget bukan kepalang. Ia tak menyangka AJB bakal menyambut baik niatan mereka.

Padahal, semasa survey tahun 2011, mereka sempat menjajaki niatan itu dengan Pemerintah Kabupaten Kerinci.

Dari hasil riset Co-op, lokasi pabrik sebenarnya akan dibangun di Kecamatan Keliling Danau. Tapi, tak direspon positif Pemkab Kerinci.

“Kita berterima kasih kepada Pemerintah Kota Sungaipenuh. Setelah sekian lama proses yang kita tempuh dari Kerinci hingga Sungaipenuh, akhirnya pabrik bisa dibangun di Kota Sungai Penuh, dengan dukungan yang tinggi dari Walikota,” beber Adrian, saat peresmian pabrik pengolahan kayu manis, di Desa Koto Dumo, Kecamatan Tanah Kampung 2013 lalu.

Kini, pabrik kayu manis itu sudah beroperasi.

Co Cassia telah menasbihkan diri sebagai perusahaan pengolahan dan ekspor kayu manis pertama yang berdiri di Sumatra (Kota Sungai Penuh), di tengah-tengah perkebunan kayu manis.

Semasa pabrik ini aktif, mereka sudah menampung kayu manis yang ada di Kerinci dan Kota Sungaipenuh. Mereka membeli kayu manis petani dengan harga yang tinggi.

Sehingga membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sungaipenuh dan Kerinci.

Pabrik kayu manis ini langsung mengolah kayu manis sebelum diekspor ke pasar dunia, seperti di Eropa, Belgia dan Amerika Serikat.

Kehadiran pabrik telah memperpendek mata rantai penjualan yang panjang.

Dengan adanya industri ini, maka semua penjualan tidak pakai perantara lagi.

Jika kualitas bagus, maka pabrik bisa membeli kayu manis dengan harga jauh lebih tinggi lagi.

Toh, harga kayu manis di pasar dunia kini sedang merangkak naik. Satu kilo bisa laku di jual dari 30 Ribu hingga tembus 40 Ribu.

Kayu manis yang dibeli dari petani itu diolah menjadi broken and clean dan stik.

Selain kulit kayu manis, daun dan batang kayu manis pun diolah. Daunnya dijadikan minyak asiri dan batangnya untuk furniture.

AJB sadar, gagasan itu penting didukung karena kayu manis Kerinci dan Sungaipenuh merupakan pengisi 80 persen pasar dunia dan 60 persen pasar Indonesia.

“Jika kita stop penjualan di dunia, bisa nangis mereka,” kata AJB.

“Apa yang dicita-citakan masyarakat, kini sudah terealisasi,”imbuhnya.

Selain menampung kayu manis dari Kerinci dan daerah luar, adanya pabrik kayu manis ini juga menyerap banyak tenaga kerja di Kota Sungaipenuh.

Selain itu, Pemkot Sungaipenuh juga memperoleh PAD melalui retribusi.

Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan hortikultura dan Perkebunan Sungai Penuh, kulit manis atau cassiavera  merupakan tanaman pokok utama di kota sungai penuh dan pernah menjadi tanaman dengan nilai ekonomi tertinggi saat krisis melanda negeri ini.

Produksi kulit manis di Sungai Penuh saat ini berada di Kecamatan Kumun Debai. Produksinya mencapai 52 ton, pesisir Bukit 41 ton, Sungai Bungkal 82 ton dan Pondok Tinggi 50 ton.

Sungai Penuh juga mendapat tambahan pasokan dari daerah sekitarnya seperti Kerinci, Solok Selatan dan Renah Lindojati.

Sebagai kota jasa dan perdagangan, AJB berusaha keras menarik investor dan banyak pelaku usaha untuk mengolah kayu manis menjadi kompetitif.

Kini, ekonomi keluarga Aslan sudah membaik.

Gagasan cerdas AJB itu sudah dirasakan langsung petani kayu manis, bukan hanya petani di Kerinci dan Kota Sungai Penuh, tapi juga dirasakan oleh para petani dari daerah lain.(adv)

 

Penulis : Awin

News Feed