by

Agustus Puncak Kekeringan, Perusahaan Diminta tak Bakar Lahan

Badan Meteorologi, Kilmatologi dan Geofisika Wilayah Jambi memprediksi puncak kekeringan di Jambi terjadi pada Agustus 2019 mendatang. Warga dan perusahaan diminta tak membakar lahan.

——————————

Arif, Forecaster Iklim stasium Klimatologi menyatakan wilayah yang paling berpotensi kering berada di daerah timur sampai tengah. Menurutnya, karena disitu banyak wilayah gambut.

“Puncaknya diperkirakan Agustus,”ujarnya di temui diruang kerjanya, Rabu pagi tadi 17 Juli 2019.

Dimusim kemarau, wilayah Gambut paling rawan terbakar. Ia mengingatkan warga dan perusahaan tidak melakukan kegiatan pembakaran di lahan gambit.

Menurut Arif, kemarau merupakan fenomena rutin tahunan. Dan tak berkait dengan beroperasinya industri. Hanya saja, ia mengingatkan perusahaan untuk hati-hati.

“Setiap tahun kemarau memiliki variasi, terkadang lebih kering atau basah,”katanya.

Ia mengatakan, pada musim kemarau tetap ditemukan hujan. Tapi, intensitasnya sangat rendah.

“Biasanya 1-3 hari lalu kering lagi,”ujarnya.

Begitu juga sebalikya ketika musim hujan, tidak selamanya tanpa panas. Ia mengatakan, fenomena iklim yang mempengaruhi itu disebut Intraseasonal Variability.

Semacam venomena yang mempengaruhi curah hujan dalam satu musim.

“Terutama saat ini kami memantau yaitu namanya Madden Julian Oscillation (MJO),”katanya.

Inilah yang mempengaruhi cuaca iklim dalam satu musim, ketika MJO datang, kemarau tetap bisa datang hujan dan sebaliknya.

Saat ini, dari hasil catatan seluruh provinsi Jambi berpotensi kekeringan, namun konsentrasi paling besar ada di wilayah timur.

“Kami akan rapat nasional untuk membahas kapan musim hujan tiba,”imbuh Arif.

Rudi Anuar Yudha Trisaputra S.P, kepala stasiun Klimatologi mengimbau masyarakat waspada dan tidak menebang pohon secara liar.

“Jangan tebang pohon secara liar dan membakar,”katanya.(*)

 

Penulis : Refor Diansyah

Editor  : Awin

 

News Feed