by

Kemelut Unaja, Sidang Akhir 87 Mahasiswa Terancam Gagal

Mereka kini dalam kondisi ketakutan. Beberapa orang tak dikenal terlacak sering mengintai. Untuk jaga-jaga, para mahasiswi Unaja itu merahasiakan lokasi persinggahan. Sebagian terpaksa pulang kampung.

———————————————

“Kami takut bang. Ado yang ngikutin kami ke kosan,”ujar salah satu Mahasiswi yang meminta namanya dirahasiakan.

Sejak seteru dengan pihak rektorat pecah pekan lalu, semua mahasiswi kabur dari asrama Unaja. Mereka berpencar ke beberapa tempat.

Sebagian ada yang tinggal di kontrakan teman. Ada pula yang numpang di rumah kerabatnya. Sebagian lain terpaksa pulang ke kampung halaman.

Kepada Jambi Link, mereka meminta alamat persinggahan sementara itu dirahasiakan.

Alasannya, mereka takut dan kerap diikuti orang tak dikenal.

“Jago-jago diri bae bang. Ini situasi yang sulit,”ujar mahasiswi itu sambil tersungut-sungut.

Entah sampai kapan kondisi seperti ini berlangsung. Sebagian mahasiswi mengaku menyesal.

Mereka berharap kemelut di tubuh Unaja segera berakhir.

Apalagi, kini, ada 87 mahasiswa terancam gagal mengikuti sidang akhir.

Data yang diperoleh Jambi Link, rincian 87 mahasiswa itu antaralain, 33 Mahasiswa D3 Kebidanan, 21 Mahasiswa D3 keperawatan dan 33 mahasiswa S1 kesehatan masyarakat.

Setumpuk beban kini menghantui mereka. Yang membuat mereka lebih khawatir adalah munculnya ancaman drop out dan skorsing dari pihak kampus.

Dilansir dari koran Jambi One, Badan Pengurus Harian (BPH) UNAJA, Eko Kuswandono mengatakan pihaknya menskors tujuh mahasiswa karena diduga telah memprovokasi massa untuk demo.

Menurut dia, surat skorsing tersebut  dikeluarkan, Kamis 4 Juli 2019 lalu. Salah satu yang diskor adalah presiden Mahasiswa, Hery atau UNAJA Creatif (UC).

Hery di skors selama 1 tahun.

Padahal, mereka mengklaim gerakan itu murni demi memperbaiki kampus. Agar pihak rektorat menyediakan fasilitas mantap untuk perkuliahan mahasiswa.

Tapi, niat baik itu justru ditanggapi negatif rektorat.

“Kami sangat sedih bang. Juga kecewa lah. Kita kan mau menyampaikan aspirasi, tapi kok malah mau di skorsing,”kata mahasiswi lainnya.

Beban lain yang mendera mereka ketika tragedi buruk ini sampai ke telingan orang tua mereka di kampong-kampung. Bahkan, beberapa orang tua jatuh sakit mendengar kabar anaknya bakal di skorsing.

“Maklum lah orang tuo bang. Khawatir kalo-kalo anaknya di keluarkan. Ini jadi beban,”katanya.

Hery pun melawan. Ia terus menggalang kekuatan dan dibantu aliansi BEM se Kota Jambi. mendukung langkah Hery, para BEM se Jambi itu mengancam akan aksi besar-besaran.

” Kalau kami diam, ke depan pihak kampus,  apapun itu kampusnya bisa saja melakukan hal serupa untuk membungkam mulut mahasiswa,” ujar Ari Kurniadi, Presiden BEM UIN STS Jambi.

Wakil Rektor II UNAJA, Ade mengatakan mahasiswa tak berkoordinasi saat melakukan demo.

“Sebelum turun demo harusnya ada audensi terlebih dahulu, baru demo. Ini tidak,”katanya.

Mengenai tunutan mahasiswa, Ade mengatakan pihaknya akan mencari jalan keluar. Dia pun membantah telah mengancam orang tua mahasiswa.

“Sebagai orang tua di kampus kami melalukan koordinasi dengan orang tua mahasiswa,” ucapnya.

Dia mengimbau seluruh mahasiswa yang meninggalkan asarama segera kembali lagi.(*)

 

Penulis : Ardy Irawan

Editor  : Awin

 

News Feed