by

Raja Pensil dari Sarolangun

Sarolangun sukses mengolah kayu pulai (kayu gabus) menjadi bahan baku pensil berkelas. Thailand dan Singapura menjadi dua negara pengimpor.

—————————-

Eddy Ramon Torong geleng-geleng kepala ketika Cek Endra meresmikan Pabrik Pengolah Kayu Pulai di pelosok Desa Pelawan Jaya, Sarolangun pada 27 Februari 2019 lalu.

Ia tak pernah membayangkan, industri pengolah bahan baku pensil ini akhirnya terwujud.

Semuanya gara-gara Cek Endra, Bupati yang jago Bahasa Inggris itu.

“Malah kami yang ditantang supaya cepat-cepat beroperasi,”ujar Eddy, Direksi PT Balsa Mandala Persada (BMP) itu terkekeh.

Baru berjalan sebentar, Negara-negara di Asia ramai membidik.

Setidaknya dua negara, yaitu Thailand dan Singapura sudah langsung menjadi pengimpor bahan baku pensil asal Sarolangun itu.

“Pabrik sudah menerima 100 kubik per hari. Ini proyeksi bagus,”kata Eddy, raja pensil ini.

 

Bupati Sarolangun Cek Endra fose bersama usai peresmian Pabrik Pensil

 

Gagasan membangun industri pengolahan bahan baku pensil ini, menurut Cek Endra bukan sekonyong-konyong muncul.

Berawal ketika Cek Endra kerap menengok onggokan kayu pulai menyampah di Sungai Batanghari. Terkadang, dalam jumlah cukup besar.

Kayu-kayu ini seperti terbuang percuma.  Warga sering menganggapnya limbah. Barang tiada guna.

Padahal, potensi kayu itu gedenya minta ampun.

Di Sarolangun misalnya, kayu-kayu ini terserak dan tumbuh liar di belantara hutan.

Cek Endra mulai terfikir bagaimana mengelola kayu gabus ini?

Supaya tidak terbuang percuma?

Supaya tak menyampah di sungai-sungai?

Ia bergegas mencari investor.

Cek Endra bekerja keras mencari pengusaha yang bisa mengolah kayu pulai itu.

Ketemulah PT BMP.

Alhamdulillah…..

Mereka pun menyambut baik.

“Rupanya kayu-kayu itu bisa diolah menjadi bahan baku pensil toh,”kata Cek Endra.

Pabrik pensil inipun dibangun.

Bupati Cek Endra ketika melihat proses pengolahan kayu pulai untuk menjadi bahan baku pensil

Keberadaan industri pensil pastilah mendatangkan kebaikan, bukan saja bagi warga Sarolangun saja, tapi untuk masa depan warga Jambi secara keseluruhan.

Bukankah kayu pulai ini juga tumbuh di daerah lain?

Misalnya seperti di Merangin dan Batanghari?.

Harus diakui, selama ini potensi besar itu memang belum terkelola dengan baik.

Wajar saja kayu pulai sering dianggap limbah.

Karena itu, industri kayu pulai pastilah akan mengerek perekonomian warga.

“Ini satu alternatife loh, untuk meningkatkan ekonomi warga Jambi,”ujarnya

Sejak sekarang, Bupati yang dijagokan menuju Jambi 1 itu mendorong warga Jambi memanfaatkan lahan tidur, terutama lahan di desa-desa dengan menanam kayu pulai.

Gerakan menanam pulai sudah mulai di Sarolangun.

Menurutnya, pabrik pensil akan terus membutuhkan pasokan kayu yang banyak, tidak cukup dari Sarolangun saja, tapi juga butuh pasokan dari daerah-daerah lain.

Apalagi produksi bahan baku pensil ini diincar banyak Negara sahabat. Pensil termasuk kebutuhan penting untuk fasilitas siswa sekolah.

Satu cita-cita Cek Endra, ingin mengembangkan pabrik pengolahan kayu di level Provinsi. Caranya, luasannya di perlebar.

“Kalaulah kapasitas bertambah, tentu tenaga kerja juga bertambah. Misalnya untuk mensortir, pengikat, seleksi. Semuanya perlu tenaga kerja loh,”katanya.

Bupati Cek Endra melihat penangkaran bibit kayu pulai

Ia mendorong Pemerintah Provinsi Jambi turut mengembangkan potensi kayu pulai ini.

Sebab, kata dia, dampak berdirinya pabrik pensil akan memberdayakan masyarakat secara luas.

Kalau satu hektar kayu pulai ditanam 2.500 batang, panennya bisa lima tahun. Dan satu hektare bisa menghasilkan 250 juta.

“Kalau ditanam 10 hektare bakal menghasilkan 2,5 miliar,” katanya menjelaskan betapa besar keuntungannya.

Bisnis ini akan terus berkesinambungan. Karena tingginya permintaan di level dunia.

Barang ini laku. Ayo manfaatkan peluang sejahtera ini dengan mulai menanam.

“Tanpa kita mulai, tidak akan datang rezeki kita,”imbau politisi Golkar itu.(*)

 

Penulis : Awin

News Feed