by

Spot Ekstrim dan Ciamik, Terjun Bebas dari Gunung Kerinci Pecah Rekor Nasional

Mereka nekat terjun bebas di ketinggian 3200 Mdpl dari Puncak Gunung Kerinci. Olahraga ekstrim itu memecahkan rekor nasional.

—————————–

Setelah dua hari mendaki Gunung Kerinci, Ronny Sudarno dan Budi Aryanto bersiap terjun bebas. Cuaca pagi itu, Ahad 23 Juni 2019 berkabut embun.

Take off dari Tugu Yuda Selter Tiga Puncak Gunung Kerinci itu baru bisa terlaksana menjelang pukul 10.30 pagi. Disaat cuaca dan arah angin mulai bersahabat.

Budi Aryanto berusaha membuang rasa takut. Ini pengalaman perdananya terbang dari spot tertinggi.

Biasanya, personil Kerinci Aero Club itu hanya bermain dari Bukit Semancik Tower Telkom.

Sama seperti Budi, Ronny Sudarno, pria asal Tangerang itu baru kali ini terjun dari ketinggian ekstrim. Biasanya, ia hanya bermain di Puncak Bogor yang tingginya berkisar 500 Meter-1000 Meter saja.

Spot di puncak Gunung Kerinci ini memang tertinggi di Indonesia. Karena itu, atraksi Budi dan Ronny berhasil memecahkan rekor nasional.

“Belum pernah sekalipun setinggi ini. Pengalaman seru,”ujar Budi kepada Jambi Link.

“Gunung Kerinci bisa dijadikan Alvin nya Indonesia. Karena punya Take Off tertinggi di Indonesia,”imbuh Ronny Sudarno.

Menurut Ronny, spot di Kerinci sangat ekstrim dan menarik. Ditambah pemandangan alam nan ciamik. Bila kondisi cuaca bersahabat, para olahragawan terjun bebas itu bisa bermain lama.

“Disini bisa untuk ajang red Bull Dunia loh. Karena tempatnya bagus dan tingkat ekstrimnya sangat memuaskan,”kata Ronny sembari menyatakan bakal memboyong koleganya di Jakarta dan Luar Negeri untuk bermain di Kerinci.

Josse Chua, Sekretaris Hike and Fly Kerinci Volcano 3805mdpl menjelaskan, agenda ini dimulai dari pendakian Gunung Kerinci sejak Jumat 21 Juni 2019, pukul delapan pagi.

Dua penerjun itu ditemani tim pendukung—komunitas pendaki dan Kerinci Aero Club—. Mereka bergerak dari pintu rimba Gunung Kerinci dan menginap di Shelter 1.

Esoknya, mereka bergerak ke Camp terakhir, Selter 3 Gunung Kerinci. Setelah istirahat seharian, pagi Ahad mereka bergerak lagi ke Tugu Yudha, spot penerjunan.

“Awalnya kita jadwalkan terbang pukul 7 pagi. Tapi, karena cuaca, baru bisa terjun pukul setengah sebelas,”kata Josse Chua.

Menurut Josse, take off dari Tugu Yuda ini berada di ketinggian 3660Mdpl. Ini, kata dia, adalah spot tertinggi dan rekor baru di Nasional.

“Biasanya para penerjun hanya Take Off dari ketinggian 2500- 3000 saja,”katanya.

Atraksi ekstrim dua penerjun ini membetot perhatian warga Kerinci. Mereka antusias menyaksikan dua penerjun landing di Lapangan Sepak Bola Lindung Jaya Kersik Tuo.

Tim pendukung seperti ambulan, dokter, tim basarnas dan tim landing ikut stand by disana.

Josse mengatakan, Hike N Fly adalah olah raga sekaligus wisata minat kusus mendaki dan terbang dari ketinggian tertentu.

Hike N Fly pertama kali digeber pada 2018. Saat itu diikuti dua peserta dari Australia dan Sumbar.

Tapi, kedua pilot itu hanya terbang dari ketinggian 3200Mdpl.

Kali ini, mereka kembali menggagas kegiatan serupa.

Muncullah ide untuk terjun dari spot lebih tinggi lagi. Karena puncak Gunung Kerinci memungkinkan untuk itu.

“Dari pengalaman 2018, kami dari komunitas Kerinci Aero Club (KAC) dan Sungai Penuh Aero Club (SPAC) kembali membuka Oven Trip Hike N Fly 2019,”katanya.

Josse menyebut olahraga ini di prakarsai oleh Letnan Kolonel Infantri Eko Prayitno. Ketika menjabat Dandim Kerinci, tentara dengan dua melati dipundak itu menggagas olahraga terjun bebas ini. Eko melihat potensi Kerinci cocok untuk olahraga terjun bebas berparasut itu.

Mulanya, Hike N Fly 2019 banyak peminat. Ada sembilan pilot yang mendaftar, 7 Pilot Luar dan 2 Pilot lokal.

“Karena ada kejuaraan di tempat lain, mereka banyak mengundurkan diri,”katanya.

Suguhan keindahan alam serta spot tertinggi di kaki Gunung Kerinci itu memang belum banyak yang tahu. Karena itu, boleh jadi inilah yang memicu banyak pilot ogah datang kesini.

“Promosi menjadi tantangan kita kedepan. Semoga pemerintah turut membantu mensosialisasikan,”katanya.

Menurut Josse, olahraga ini pastilah membantu meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kerinci. Selain menyediakan spot tertingi nan ekstrim, Gunung Kerinci sudah pula mendapat sertifikat dataran tertinggi dan terpopuler.

Josse berharap olahraga ini menjadi tujuan wisata minat khusus bagi para pecandu terbang paralayang.

“Nanti, Gunung Kerinci bukan lagi sebatas tempat mendaki. Tapi menjadi destinasi wisata terjun bebas,”ujarnya.

Hike N Fly turut melibatkan beberapa komunitas seperti Kodim, Balai TNKS, Basarnas, Puskesmas, Komunitas Penggiat Alam, dan komunitas porter dan pemandu.

Antusiasme para komunitas mendukung program ini terlihat ketika mereka memenuhi Camping Ground di puncak Gunung Kerinci.

Mereka mendirikan tenda dan tidur di Puncak Gunung sambil menunggu pilot terjun bebas.

“Insya alloh tahun 2020 kami akan buat lagi Hike n Fly 3 di tempat yang sama,”ujar Josse.

“Kami berharap pemerintah ikut mensupport agar kegiatan ini supaya menjadi event tahunan di Gunung Kerinci. Bila perlu event bulanan,”katanya.(*)

Berikut Foto-fotonya :

Detik-detik menjelang penerjunan
Suasana di Selter Tiga Gunung Kerinci
Perjalanan mendaki Gunung Kerinci
Fose bersama Tim Basarnas

 

Penulis : Awin

 

News Feed