by

Mentor Politik Obama pun Gagal Boyong Anaknya Kuliah

Dia mentor politik. Dia arsitek dibalik pidato-pidato andal nan menggugah Barack Obama, Mantan Presiden Amerika Serikat (AS). Semasa di Harvard, Cek Endra belajar langsung dari Gerry Oranges, Profesor tersohor itu.

—————————————

“Sate..Bakso…enak ya….”

Inilah penggalan kata saat Barack Obama pidato di Balairung Kampus Universitas Indonesia (UI), 24 Juni 2017 silam.

Pengunjung yang mayoritas para mahasiswa itu seketika histeris. Makanan khas Indonesia ini mendadak mendunia. Semuanya gara-gara Obama.

Unik, khas, terkadang penuh banyolan.

Kemampuan pidato Obama terbilang diatas rata-rata. Siapa saja yang mendengar pastilah terkesima.

Rupanya, skil Obama itu bukan terlahir alamiah. Tapi, didapat melalui proses belajar yang amat panjang dan rumit.

Dialah Gerry Oranges, seorang profesor ternama Harvard University, otak dibalik pidato-pidato Obama itu.

“Obama tidak muncul tiba-tiba. Lebih setahun Gerry Oranges mendampingi,”ujar Cek Endra, menceritakan ihwal hubungan Gerry Oranges dan Obama.

Hari itu, giliran Gerry Oranges mengisi kelas. Mereka para Kepala Daerah itu, termasuk Cek Endra, tentulah sangat antusias.

Paparan materi Prof Gerry memang paling dinanti.

Mentor Obama ini berbagi ilmu tentang cara berpidato dan bagaimana membuat publik terpesona, laiknya Obama.

Yang membuat mereka takjub, materi tidak disampaikan dalam bahasa Inggris. Prof Gerry Oranges memaparkan detail materinya dalam bahasa Indonesia. Hebat bukan?

Sontak saja, para kepala daerah ini makin takjub.

“Kami semua nyimak dengan tekun,”kata Cek Endra.

Perawakannya biasa-biasa saja. Persis seperti bule-bule lain.

Tapi, begitu bicara, Prof Gerry menunjukkan kelasnya sebagai sosok cerdas.

Suaranya lantang. Bicaranya berbobot dan logis. Kalimatnya terstruktur rapi.

Bagaimana piawainya Obama mengaduk-aduk emosi publik melalui mimbar podium, begitulah Gerry Oranges.

“Kami semua seperti di hipnotis,”ujar Cek Endra.

Bupati Cek Endra semasa di Harvard AS

Menurut Cek Endra, lebih setahun Gerry mendampingi Obama. Mengajarkan teknik berpidato dan cara merangkai kata.

Ketika pidato, Obama selalu membuat rekaman TV.

Rekaman ini langsung dikirim ke Prof Gerry, hari itu juga. Dari Harvard, terkadang Gerry langsung mengecek ritme, intonasi serta gaya pidato Obama. Ada yang salah langsung dikoreksi.

Lewat sambungan telepon pintar, Gerry menyampaikan masukan dan menjelaskan sisi-sisi kekurangan, dimana titik-titik yang harus diperbaiki.

Dia mengajarkan kapan saat tepat harus tersenyum, bagaimana intonasi dimainkan, kapan harus menggerakkan tangan kiri dan tangan kanan. Kapan harus menyudahi pidato. Semuanya dibimbing secara detail.

Hal ihwal itu dilakukan tanpa mengenal waktu, siang malam non stop.

“Beliau langsung menonton dan ngasih arahan,”katanya.

Betapa menarik materi yang disuguhkan Gerry, jadwal istirahat siang hampir saja terlewat.

Cek Endra dan para Bupati/Walikota itu sepertinya sengaja melewatkan jam makan siang. Mereka terlalu asyik dan cukup kenyang melahap ilmu Prof Gerry.

Sebelum tutup kelas, Gerry lantas mengakhiri materi dengan menceritakan ihwal putri semata wayangnya. Curhat ini membuat sebagian mereka sedih.

Begini ceritanya.

Satu masa, putrinya sudah tamat SMA. Sebagai guru besar di Harvard, Gerry tentu punya cita-cita tinggi.

Semestinya, sang putri melanjutkan pendidikan ke Harvard. Dialah putri semata wayang yang akan menjadi penerus Gerry kedepan, di Harvard itu.

Tapi, Gerry terhimpit masalah besar. Putrinya ogah lanjut kuliah. Ia maunya kursus gitar dan menjadi musisi terkenal.

“Saya saja, seorang professor, gurunya Obama. Tapi tidak bisa mempengaruhi anak,”keluh Gerry.

Sontak saja, curhat Gerry memancing rasa iba. Dalam hati, mereka bergumam, betapa berat beban sang professor.

Ibarat Nabi Nuh yang gagal mempengaruhi istri dan anaknya ke jalan kebenaran.

Mungkin saja, hal  serupa juga dialami banyak professor di Indonesia, bahkan boleh jadi di belahan dunia lain.

Memang, mempengaruhi anak sendiri tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh perjuangan ekstra keras.

Meski begitu, Gerry tak putus asa.

Sebagai profesor ternama, ia berusaha memutar otak, mencari cara supaya anaknya mau kuliah di Harvard.

Disisi lain, sang anak tetap keukeuh pada pendiriannya; ingin kursus Gitar saja. Dua pendirian yang kontras.

Ala kulihal, sampailah satu ketika pertahanan sang anak mulai goyah. Sang putri bersedia melanjutkan kuliah dengan syarat; tetap diberi waktu untuk kursus gitar.

Gerry pun setuju.

Tapi, Gerry tak lantas bahagia. Kebahagiaannya sirna karena perubahan sang anak justru berasal dari dorongan teman sepermainan di basket. Bukan karena dirinya.

Gerry merasa telah gagal mendidik anak.

“Akhirnya semua kemauan diikuti. Pagi kursus gitar, sore belajar di Harvard,”kata Cek Endra.

Curhat Gerry membuat semua peserta di dalam kelas tercenung.

Mereka nyaris tak percaya, bagaimana ada orang sekelas Profesor di Harvard bisa gagal mempengaruhi sang anak.

Oh, betapa malangnya.

Sebelum menutup kelas , Gerry mengatakan,

“Ini cerita fiksi. Tapi, kalian sudah yakin dengan kejadian itu. kalian terkesima kan,?

Gerry menutup kelas ditengah hiruk-pikuk, kegundahan hati dan kegalauan para peserta.(Bersambung)

 

Penulis : Awin

News Feed