by

Cek Endra Peduli Sang Maestro

Cek Endra turut meringankan beban Pak Saidin, Sang Maestro asal Muarojambi itu, dengan memberikan langsung donasi pada penggalangan dana yang diinisiasi sejumlah jurnalis dan seniman, malam ini.

—————————–

Cek Endra baru saja rebahan melepas lelah ketika sebuah pesan masuk ke telpon genggamnya via aplikasi WA, pada Senin malam 24 Juni 2019 kemarin.

Isi pesan WA itu mengabarkan ada agenda Malam Penggalangan Dana untuk Sang Maestro yang digelar di Taman Budaya Jambi, Telanaipura, Kota Jambi, Selasa (25/6) pukul 18.30 WIB.

Cek Endra bergegas mengontak seseorang dan menyampaikan akan ikut memberikan donasi.

Panglima Anjali, Adri SH MH datang langsung ke Taman Budaya Jambi dan hadir kedepan panggung menyerahkan donasi dari Cek Endra.

“Saya menyampaikan amanah dari Bang Cek Endra. Beliau peduli dan turut membantu meringankan beban Sang Maestro kita,”ujar Adri SH MH kepada wartawan.

Pengunjung pun histeris ketika nama Bupati Sarolangun itu disebut. Ia satu-satunya kepala daerah yang mengutus langsung penyerahan donasi.

Adri yang datang mengenakan kemeja batik itu menyatakan sebenarnya Cek Endra ingin hadir dan menyerahkan langsung donasinya.

Tapi, karena banyak tugas penting yang mesti diselesaikan, ia meminta maaf belum bisa meninggalkan Sarolangun.

“Bang Cek Endra menitip pesan dan salam buat kawan-kawan panitia yang sudah menginisiasi gerakan ini,”katanya.

Acara diisi musikalisasi puisi Teater Kerlip dan Teater Alif, happening art Ida Bagus Putra, serta musik tradisi Zikir Beredah dan Tari Topeng persembahan grup seniman Muaro Jambi.

Penggalangan donasi juga melalui lelang lukisan seperti lukisan seniman Djafar Rasuh, Sumardi, dan Fauzi Zubir, serta foto karya Sakti Alam Watir dan sejumlah kartunis. Puncaknya akan dilelang biola tradisional buatan tangan Pak Saidin.

“Rasa kemanusiaan kita merasa terpanggil untuk menggalang dana buat Pak Saidin,” kata Sakti Alam Watir, salah satu inisiator acara.

Ilustrasi

Sejak beberapa hari lalu, Irma Tambunan, jurnalis Harian Kompas, telah membuka dompet kemanusiaan buat pak Saidin di kitabisa.com.

Irma menjelaskan, Saidin merupakan generasi ketiga penerus Teater Komedi Melayu Dul Muluk, kesenian Zikir Beredah, ataupun Lukah Gilo dari Desa Lubuk Raman, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Darah kesenian mengalir dari kakek dan ayahnya. Kakeknya adalah pelakon Dul Muluk, sementara ayahnya penabuh rebana siam dan gendang.

Sejak kecil Saidin tumbuh dengan kesenian khas Muaro Jambi itu. Ia mahir sebagai pelakon dalam teater Dul Muluk. Ia juga piawai sebagai pelakon Zikir Beredah dan Lukah Gilo. Zikir Beredah adalah semacam pertunjukan musik selawat yang melibatkan belasan penabuh rebana siam dan gong.

Pada era 1980-an, ia tampil dari panggung ke panggung hampir setiap pekan di acara hajatan atau syukuran. Namun, memasuki era 1990-an, eksistensi kesenian tradisi itu mulai tergerus kehadiran aneka hiburan modern.

Saidin dan seniman lainnya baru menyadari ancaman besar itu pada tahun 2000. Ia dan kawan-kawannya pun berusaha membangkitkan kembali kesenian tradisi yang mulai redup itu.

Di tengah semangatnya untuk terus merawat teater Dul Muluk, Zikir Beredah, dan Lukah Gilo, Saidin didera penyakit tumor colli yang tumbuh di lehernya. Tumor yang enam bulan lalu baru sebesar kelereng terus membesar hingga melebih ukuran bola tenis. Penyakit itu membuat tubuhnya kurus dan merapuhkan otot serta persendiannya.

Menurut dokter yang memeriksa di Rumah Sakit Bhayangkara Kota Jambi, Saidin harus segera dioperasi dan dikemoterapi. Namun, operasi hanya dapat dilakukan di Palembang. Rangkaian pengobatan inilah yang mengganggu pikirannya.

“Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan para donatur. Salam kemanusiaan,”katanya.

Kepala Taman Budaya Jambi Didin Sirojudin turut mendukung sebagai bentuk solidaritas bagi seniman yang membutuhkan pertolongan. Dari banyaknya seniman yang ikut serta menyumbangkan lukisan untuk dilelang menunjukkan kekuatan panggilan kemanusiaan.(*)

Editor : Awin

 

 

News Feed