by

Perang Sindiran Gubernur-Walikota, Pengamat : Manuver Politik

Sindiran keras Fachrori Umar kepada Sy Fasha ihwal pengelolaan danau sipin dinilai sebagai manuver politik dan perang urat syaraf jelang Pilgub 2020.

—————————–

Pengamat Kebijakan Publik Dr Dedek Kusnadi menilai, sebagai Gubernur sah-sah saja Fachrori mengkritik bawahannya.

Menurut Dedek, secara hirarki Bupati atau Walikota itu merupakan perpanjangtanangan Gubernur di daerah. Sebab, Gubernur adalah perpanjangtangan pemerintah pusat.

Karena itu, menjadi wajar ketika Gubernur menegur Bupati atau Walikota, jika dinilainya berbuat keliru.

Tapi, kata Dedek, teguran sebaiknya disampaikan secara bijak dan ahsan. Tidak diumbar secara terbuka, apalagi di forum umum.

Walau bagaimanapun, kata Dedek, Bupati atau Walikota itu punya marwah dan harga diri.

Dosen Pasca Sarjana UIN STS Jambi itu menilai langkah Gubernur mengkritisi Walilota di acara halal bihalal itu tak elok. Sebab, mereka yang hadir dalam forum itu dari beragam kalangan.

“Dari sudut pandang etika publik, cara seperti itu kurang tepat. Harusnya kritik disampaikan dalam forum-forum tertutup. Atau panggil walikotanya, silahkan marah disitu,”jelas Dedek.

“Tidak etis saja,”imbuhnya.

Meski demikian, Dedek memandang insiden itu merupakan bagian dari perang urat syarat.

Menurut Dedek, Fachrori Umar hampir dipastikan bakal berlaga di Pilgub 2020 mendatang. Sementara Sy Fasha dianggap sebagai penantang.

Karena itu, Dedek menilai kritik Fachrori itu bagian dari manuver.

“Saya kira, ini perebutan panggung politik saja. Event nasional di danau sipin nanti pastilah menjadi panggung politik Walikota. Tentu saja, Fachrori tak mau kehilangan panggung,”katanya.

Dedek mengatakan, kedepan para kontestan sebaiknya menjaga etika dalam berkomunikasi. Perang terbuka tak berdampak baik bagi perkembangan demokrasi. Elit yang berkonflik justru akan membuat basis massa terbelah. Bisa memicu konflik horizontal.

Selain itu, sebagai pejabat publik, Dedek berpesan baik Gubernur maupun Bupati atau Walikota harus pandai-pandai menjaga lisannya.

Sebab, kata Dedek, bahasa menentukan perilaku budaya manusia.

Dedek lantas mengutip Sapir dan Worf (dalam Wahab, 1995). Menurut Dedek, Sapir dan Worf menjelaskan orang yang ketika berbicara menggunakan pilihan kata, ungkapan yang santun, struktur kalimat yang baik menandakan bahwa kepribadian orang itu memang baik.

Sebaliknya, jika ada orang yang sebenarnya kepribadiannya tidak baik, meskipun berusaha berbahasa secara baik, benar, dan santun di hadapan orang lain; pada suatu saat tidak mampu menutup-nutupi kepribadian buruknya sehingga muncul pilihan kata, ungkapan, atau struktur kalimat yang tidak baik dan tidak santun.

Dan kesantunan itu sangat kontekstual. Artinya berlaku dalam masyarakat, tempat, atau situasi tertentu, tetapi belum tentu berlaku bagi masyarakat, tempat, atau situasi lain.

Seperti diketahui, dalam acara halal bihalal Kamis malam lalu, intonasi Fachrori Umar meninggi ketika menyinggung ihwal Walikota dan Danau Sipin. Fachrori merasa dirinya kurang dihargai dan tak dilibatkan dalam persiapan event nasional yang berlokasi di danau sipin itu.

Kritik keras Fachrori itu juga sempat muncul saat halal bihalal internal ASN Pemprov Jambi, awal pekan sebelumnya. Walikota Jambi yang diundang dalam acara tersebut terlihat tak hadir.(*)

 

News Feed