by

Indonesia Ku; Multikulturalisme dan Pluralisme serta Demokrasi dan Demo Aksinya

Oleh Misda Mulya

KATA pemilu tentu merupakan asas penting bagi negara yang mengakui penganut sah sisitem demokrasi; dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Demokrasi sendiri hampir tak terpahamkan tanpa pemilu. Untuk itu, Indonesia dengan sistem demokrasinya itu pula kembali mengadakan pemiihan umum lima tahunan yang akan terus diselenggarakannya. 17 April yang hampir berlalu lebih dari satu bulan dan mengahasilkan aksi demonstrasi berlebihan yang dikenal dengan Aksi Pople Power 22 Mei yang lalu.

Hal ini tentu terjadi karena kerancuan yang di hadirkan dan ditayangkan untuk masyarakat, oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan-kepentingan tersendiri baik itu informasi real maupun hoax yang tersebar dari berbagai sendi-sendi kesalahan yang tersuguhkan dengan hangat. Yang pada intinya ketidaksiapan untuk menerima kekalahan oleh beberapa pihak karena memandang adanya kecuranga tadi.

Pada dasarnya KPU akan benar dimata pihak yang menang dan sebaliknya KPU akan salah dimata orang-orang yang menanggung kekalahan. Disini penulis hadir untuk menyebarkan pesan-pesan kedamaian teruntuk negeri yang sama-sama kita cintai baik pendukung Paslon 01, 02, 03, 04, dan nol nol lainnya. Karena apa yang terjadi, demonstrasi atau dikenal aksi Pople Power tersebut sangat kurang memberikan manfaat bahkan menimbulkan mudhorat dengan berjatuhnya korban-korban jiwa.

Dengan terganggunya masyarakat-masyarakat sekitar, terlebih menjelang hari kebesaran ummat muslim yaitu Idul Fitri dimana pasti lebih banyak masyarakat untuk menggunakan akses jalan padat yang bertambah padat tersebut, baik untuk rutinitas keseharian maupun akses untuk pulang kekampung halaman. Bahkan mungkin, tak heran akan banyak masyarakat yang menunda kepulangan untuk bertemu keluarga.

Disini penulis sama sekali tidak menuliskan nama, agama, ataupun partai politik. Juga tulisan ini sekali lagi bukan untuk memprovokasi perbedaan, bahkan tulisan ini penulis hadirkan jauh setelah hari panas lagi ganas tersebut. Sesuai dengan Firman Allah di Al-Qur’an dalam surah Al-Hujurat ayat 13 mengenai perbedaan. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. Perlu kita renungi kembali bersama, bahwa perbedaan merupkan cara Tuhan untuk kita bisa saling mengenal dan bersaudara tentunya. Khususnya pada bulan perenungan diri yang sempurna (Ramadhan), betapa berpecahan, emosi, sikap egois, takkan mampu dibendung oleh negeri yang amat multikulturalisme untuk menuju kesempuranaan sikap tuk menerima perbedaan, Pluralisme yah ‘Sikap Plural’.

Perlu kita tahu, secara istilah multikultural juga bisa berarti istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang mengenai ragam kehidupan di dunia ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya yang ada dalam kehidupan masyarakat yang menyangkut nilai-nilai, sistem, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.

Sedangkan menuju masyarakat yang benar-benar Plural berarti kesediaan untuk menerima keberagaman (pluralitas), artinya, untuk hidup secara toleran pada tatanan masyarakat yang berbeda suku, gologan, agama,adat, hingga pandangan hidup. Pluralisme mengimplikasikan pada tindakan yang bermuara pada pengakuan kebebasan beragama, kebebasan berpikir, atau kebebasan mencari informasi, sehingga untuk mencapai pluralisme diperlukanadanya kematangan dari kepribadian seseorang dan atau sekelompok orang.

Benar, bahwa kita harus menyuarakan jika terjadi kecurangan, tapi mulailah menjadi diri yang tidak hanya bergabung menyuarakan namun cobalah lihat apa, darimana, dan untuk apa aksi dan suara-sura kita, kita berada pada zaman teknologi yang tidak luput pada kebohongan (hoax) yang bertebaran. Dan kita kadang luput misalnya saja, pemilihan Presiden dimana kedua pasangan calon tersebut tentulah merupakan anak bangsa terbaik yang berkesempatan untuk memimpin ummat Indonesia, jangan biarkan hanya persoalan memilih terbaik diantara yang terbaik yang ada membuat kita yang menjadi terburuk dan menjadi bangsa terpuruk.

Hey, kita ini berada dinegara Demokrasi dan dinegara hukum. Mari kita gunakan kesempatan ini dengan cara terbaik, dengan jalan hukum dengan jalan yang “ber-adab”. Bangsa ini benar akan maju, tapi berada ditangan kita semua dengan nama persatuan, dengan nama pengetahuan. Hey teman orang-orang KPU dan BAWASLU takkan bisa menjabat sebagai anggota dari KPU dan BAWASLU tanpa kompetensi diri dan pengetahuan yang baik dimilikinya, mereka adalah orang-orang pilihan, jikapun terdapat kesalahan banyak jalan aksi yang ditawarkan, namun pilihlah jalan yang tak menyia-nyiakan suara anda, saya, dan kita semua. Bukan untuk menyelamatkan beberapa tokoh saja, buka gedjet kita dan jadilah manusia yang berkualitas!.

Hey teman kita harus sadar, orang-orang yang berkoar-koar ditelevisi, di media-media yang ada dan memenuhi setiap layar yang kalian punya, itu semuanya punya kepentingan, dan kitapun sesungguhnya mempunyai kepentingan, kepentingan kesejahteraan bersama karena pada dasarnya kita adalah manusia-manusia politik. Namun jangan luput dengan dosa-dosa politik kalian. Salam sejahtera dari ku. (***)

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Jambi | Wakil Ketua Riset Pena

News Feed