by

HBA Juru Kunci Duet CE-Muchlis

WACANA duet Cek Endra (CE) dan Irjen Muchlis di Pemilihan Gubernur Jambi 2020 nanti mulai ramai disuarakan. Mantan Gubernur Jambi Hasan Basri Agus (HBA) diperkirakan bakal menjadi patron pertautan antara Bupati Sarolangun dan Kapolda Jambi itu.


Karikatur CE-Muchlis [Syahril Hannan]
Cek Endra lagi sibuk-sibuknya hari itu, Jumat 17 Mei 2019. Aktivitasnya di bulan puasa kali ini memang menguras energi. Ia hanya beberapa jam saja tidur. Selebihnya harus aktivitas; melayani tamu, urusan pemerintahan, safari Ramadon dan Subuh keliling.

Siang itu CE baru saja rebahan melepas lelah. Tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Mantan Gubernur Jambi HBA rupanya yang mengontak. Lewat sambungan telepon, HBA menyampaikan mau mampir ke rumah.

Begitu tiba di Sarolangun sore itu, HBA langsung ke rumah dinas Bupati Sarolangun. Pertemuan HBA-CE­­­ berlangsung empat mata.

Membahas Apa ya?

“Bang HBA mendukung dan mensupport CE maju di Pilgub,”ujar Adri SH MH, pengacara kawakan itu.

Catatan Jambi Link, sejak awal CE sudah menunjukkan keseriusannya berlaga di Pilgub mendatang. Meski terlihat masih malu-malu.

Sepertinya CE sudah siap moril maupun materil. Meskipun begitu, CE tetap saja menanti sinyal HBA.

Dimata CE, Mantan Gubernur Jambi itu adalah abang sekaligus mentor politik. CE besar karena HBA. CE adalah sosok yang sangat menghormati dan takzim kepada HBA.

Ia merintis karir di pemerintah berawal bersama HBA. Keduanya sukses menjadi pasangan Bupati-Wakil Bupati Sarolangun Periode 2006-2011. Ditengah perjalanan CE naik menjadi Bupati karena HBA terpilih sebagai Gubernur Jambi.

Karir CE sejak itu terus cemerlang. Ia sukses dua kali berlaga sebagai Calon Bupati.

Ia sadar. Kesuksesannya tak lepas dari peran HBA.

Peta relasi HBA-CE ini bisa dijelaskan lewat teori Patronase, Scot.

Menurut Scot, Patronase politik merupakan konsep kekuasaan yang lahir dari hubungan yang tidak seimbang antara ptron dan klien. Patron adalah seorang yang memegang pucuk kekuasaan, dan memimpin pelaksanaan kebijakan. Klien diidentikkan sebagai pengikut setia yang mematuhi aturan-aturan patron. Dalam analogi lain, patron adalah majikan (bos), dan klien adalah anak buah.

Maswadi Rauf dalam bukunya Konsensus dan Konflik Politik menjelaskan kesetiaan klien timbul karena ada resources yang diberikan oleh Patron. Resources itu bisa berupa pemberian ekonomi, kedudukan dan sebagainya.

Resources yang diberikan Patron kepada klien menimbulkan hubungan timbal balik berupa kesetiaan.

Dalam konteks ini, HBA bertindak sebagai patron sementara CE adalah klien. CE memperoleh kekuasaan dan kedudukan atas resources yang diberikan HBA.

Karena itu, untuk sebuah keputusan penting apalagi sekelas Pilgub, CE tetap saja meminta petunjuk HBA. Meski banyak yang terus mendesaknya, CE tetap sabar menanti sinyal HBA, mentornya itu. Ia ragu, jangan-jangan HBA juga bakal ikut berlaga.

Jika itu yang terjadi, CE tentulah tak mungkin ikut berlaga. Ia tak mungkin berlawanan dengan patronnya.

Kesetiaan CE bisa dibuktikan dengan penolakannya terhadap pinangan Zulkifli Nurdin untuk menjadi pendamping Zola di Pilgub 2015 lalu. Tiga kali ZN melobi CE, tetap saja ia bergeming. CE menolak jika harus menjadi rival HBA.

Pertemuan keduanya sepekan lalu membuat CE lega. HBA sudah menyampaikan dukungan dan memastikan tak maju di Pilgub mendatang. Ia kini sudah bebas bergerak.

Sejak itu, CE mulai berani memposting video di instragam pribadinya dengan memasang tagar #forjambi1.

“Kami sudah membentuk tim 11 untuk mendukung pemenangan CE. Inilah generasi baru reinkarnasi Jambi Emas,”imbuh Adri, pria yang kerap di sapa Panglima Anjali sekaligus mantan Direktur Pemenangan HBA pada Pilgub Jambi 2010 lalu.

 

HBA Menuju Kursi Menteri

Pilgub Jambi mendatang memang masih dalam bayang-bayang nama HBA. Sebagai mantan Gubernur, nama HBA masih harum. Apalagi, rival kuatnya Zumi Zola tak mungkin lagi ikut kompetisi.

Sejak Zola terseret kasus, kerinduan akan sosok HBA mulai membuncah.

Karena itu, dorongan kuat terus datang, terutama dari lingkaran orang terdekat. Namun, banyak pula publik menaruh harap, agar HBA konsen di level nasional. Menjadi tokoh penting asal Jambi untuk merebut kursi Menteri.

Selama ini, nama Jambi kurang dikenal karena nyaris selalu absen di barisan jajaran kabinet. Sebagai legislator di senayan, HBA diharap bisa menembus akses kursi menteri itu. Paling tidak menjadi tokoh kelas nasional.

Apalagi, HBA merupakan caleg Golkar peraih kursi terbanyak di DPR. Tentu saja ini prestasi besar dan menjadi penilaian khusus di internal Golkar.

Informasi yang diperoleh Jambi Link, sudah muncul wacana HBA bakal di jagokan menjadi calon Ketua MPR atau Wakil Pimpinan DPR dari Fraksi Golkar.

Hanya saja, HBA memang tengah dilema. Desakan kepadanya untuk kembali menjadi Gubernur juga besar. Terutama dari mantan loyalisnya yang masih bercokol di Birokrasi.

Said Pariq, Ketua Korps Alumni KNPI Jambi menilai HBA sebaiknya tidak terpancing desakan pihak yang menginginkannya kembali berlaga di Pilgub.

Menurut Said, HBA sudah pas di posisi sebagai anggota DPR.

“Dengan segala apa yang bapak miliki, saya yakin bapak mampu membawa Provinsi Jambi sebagai salah satu provinsi yang diperhitungan dan sejajar dengan provinsi-provinsi  besar di nasional. Sekarang bapak harus membangun Jambi dari kota besar bernama Jakarta,”jelasnya.

Said mengatakan, keberhasilan HBA menembus senayan tak boleh di sia-siakan. Apalagi selama ini gaung politisi Jambi di senayan kurang terasa.

“Saya yakin walau tidak semua rakyat Jambi sepakat, saya ingin bapak membangun Jambi dari Pusat. Tidak cukup sebagai Anggota DPRI-RI,  tapi kami doakan Bapak masuk dalam jajaran kabinet sebagai seorang MENTERI. Begitu bangganya kami pak,”jelasnya.

Pengamat Kebijakan Publik Dr Dedek Kusnadi menilai langkah HBA mengorbitkan CE sudah tepat. Menurutnya, HBA memang sebaiknya konsen membangun Jambi di level nasional. Ia berharap HBA tak terpancing oleh desakan lingkaran terdekat.

“Toh, CE juga merupakan kader beliau. Saya kira, orang sudah tahu bahwa CE pastilah representasi dari HBA. Kalau ini terjadi, HBA untung banyak,”ujarnya.

Tapi, jika HBA memaksa maju, kata dosen UIN STS Jambi itu, maka secara tidak langsung HBA mematikan peluang regenerasi.

“Tak mungkin CE maju jika HBA ikut berlaga. Dan beliau akan dicatat sejarah telah meninggalkan DPR demi ambisi pribadi,”ujarnya.

Dedek mengatakan cukup sudah Ratu Munawaroh di cap negativ karena mundur dari DPR. Suara rakyat yang telah diamanahkan akhirnya sia-sia.

Menurut Dedek, harapan publik agar HBA bisa menembus level nasional dan menjadi pemain nasional sangat dinanti.

“Makanya, saya yang juga asal Sarolangun sangat mendukung langkah bang HBA itu. beliau sudah tepat mengorbitkan CE di Pilgub,”katanya.

Di era Presiden SBY, nama HBA sempat muncul menjadi kandidat Menteri Pemuda dan Olahraga. Namun, HBA yang waktu itu masih menjabat Ketua Demokrat Jambi ingin konsen menyelesaikan masa bakti sebagai Gubernur hingga 2015.

Kini, publik Jambi kembali menaruh harap, agar HBA sukses menjadi Menteri atau paling tidak berhasil menjadi Ketua MPR atau Wakil Ketua DPR.

Jambi Link berusaha mengkonfirmasi HBA lewat aplikasi WA. Namun belum mendapat respon.

Selama ini, HBA kepada banyak orang menegaskan tak tertarik maju di Pilgub. Dalam berbagai kesempatan, HBA mengatakan akan konsen di senayan sebagai anggota DPR.

Mampukah HBA menolak dorongan dari para loyalisnya?

 

HBA Dibalik Duet CE-Muchlis?

Belakangan ini nama Kapolda Jambi Irjen Muchlis mulai diapung sebagai kandidat calon Gubernur Jambi. Jenderal Polisi bintang dua itu sempat di gadang-gadang berduet dengan HBA.

Muchlis juga kerap dijodoh-jodohkan duet dengan petahana, Fachrori Umar. Nama Muchlis memang santer diproyeksikan untuk posisi nomor dua, bukan nomor satu.

Namun, kepada sejumlah wartawan, putra asli Batanghari itu mengaku belum terpikir terjun ke politik.

“Belum terpikirkan oleh saya,”katanya saat menghadiri pembukaan pleno KPU Provinsi Jambi di Hotel BW Luxury, Rabu 8 Mei 2019 lalu.

Pernyataan Muchlis tersebut memang terkesan jawaban diplomatis. Ia tidak secara gamblang menyebut absen di ajang kompetisi lima tahunan itu.

Sinyal keseriusan Muchlis bisa ditengok dengan ramainya baleho dan billboard yang memajang fotonya. Pemandangan itu bisa dilihat di sejumlah titik, terutama sepanjang jalan Jambi-Merangin.

Menariknya, foto-foto Muchlis terlihat banyak di Sarolangun.

Nama Muchlis kerap juga dikait-kaitkan dengan dukungan PDIP. Ia memang cenderung dekat dengan partai besutan Megawati itu.

Pengamat Politik Asad Isma misalnya mengungkapkan nama Muchlis sangat diperhitungkan dalam laga Pilgub mendatang. Analisis Asad Isma ini pernah di ulas Jambi Link edisi 28 April 2019 berjudul “Manuver Menuju BH 1”.

Muchlis dianggap kuda hitam pada Pilgub mendatang.

Terkait hubungannya dengan HBA itu, Muchlis terlacak kerap bertemu. Keduanya sering berdiskusi tentang pelbagai hal.

Sejak itulah, keduanya mulai digadang-gadang berduet. Meski demikian, baik HBA maupun Muchlis tak pernah menanggapi wacana tersebut.

Sebagai patron, HBA tentulah punya peran besar di Pilgub mendatang. Keputusannya mengorbitkan CE tentulah ada kalkulasi tersendiri. Karena itu, peluang duet CE-Muchlis bisa saja terwujud lewat peran HBA.

Ibarat Megawati yang melepas PDIP untuk ditunggangi Jokowi hingga menjadi RI 1. Begitulah HBA yang boleh jadi akan menjadi patron yang bisa menentukan nasib politik CE kedepan. Kesetiaan CE selama ini akan dibalas HBA dengan memberi resources berupa dukungan politik.

Dan sebagai patron, HBA yang selama ini sudah menjalin komunikasi intens dengan Muchlis akan berperan menduetkan keduanya.

Apapun itu, keputusan politik HBA di Pilgub Jambi mendatang pastilah dinanti.

Lalu, siapakah kandidat penantang CE-Muchlis?

Bagaimana peluang duet Fasya-AJB dan Fachrori-Ratu Munawaroh?

Dimana Posisi Sukandar dan Safrial?

Kemungkinan-kemungkinan ini akan diulas Jambi Link edisi selanjutnya.(*)

 

Penulis            : Awin

Editor             : Awin

News Feed