by

Bekraf Bidik Aksara Incung Kerinci Kuno

Aksara incung tengah dibidik Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) RI menjadi ciri khas atau identitas lokal Kerinci. Andalan untuk rebranding pariwisata dan semua produk unggulan Kerinci.

——————————

Damayanti, Mentor Desain Kemasan untuk Create 2019 Kerinci, menjelaskan diperlukan strategi rebranding untuk memperkuat identitas lokal berbagai produk asal Kerinci.

Menurutnya, aksara Incung pun menjadi inspirasi rebranding.

“Rebranding dilakukan dengan memanfaatkan potensi yang ada di Kerinci, seperti pembuatan tas dari limbah kayu manis dan juga logo yang terinspirasi dari aksara Incung,” kata dia, seperti dikutip dari siaran pers.

Aksara Incung diperkirakan digunakan secara luas pada abad ke-4 masehi oleh masyarakat Kerinci. Penggunaannya pun menyebar ke wilayah Lampung dan Rejang.

Aksara Incung ditulis dengan menggunakan benda runcing yang guratannya mirip dengan tulisan paku pada aksara Babilonia Kuno.

Penelitian Dr. P. Voorhoeve bersama isterinya N. Coster tahun 1941 menyebutkan tulisan incung digunakan rakyat Kerinci sebelum datangnya tulisan Arab-Melayu.

Aksara Incung mempunyai ciri khas dan berbeda dengan tulisan Rencong Rejang dan tulisan-tulisan Melayu Tengah. Ini menunjukkan hasil karya nenek moyang orang Kerinci telah berumur ratusan tahun.

Aksara incung merupakan sesuatu yang bernilai tinggi dan amat berharga dalam konteks peradaban manusia.

Menurut Voorhoeve, untuk mengenal kembali karya peradaban suku Kerinci masa silam, maka dimulai dengan melacak asal mula aksara Incung itu.

“Karena tanpa mengetahui historis aksara yang digunakan masyarakat Kerinci zaman dulu, kita tidak dapat mempelajarinya dengan benar dan tepat,”jelasnya seperti dikutip di halaman web Kemendikbud RI.

Menurutnya, salah satu peninggalan peradaban masa silam yang terdapat di Sumatera adalah aksara Incung Kerinci. Di Sumatera ada 4 wilayah induk penyebaran aksara daerah yaitu Batak, Kerinci, Rejang dan Lampung.

Kerinci satu-satunya daerah yang memiliki aksara sendiri di Sumatera bahagian tengah.

Ini dibuktikan dengan adanya naskah-naskah kuno menggunakan aksara incung. Umur naskah kuno itu sudah ratusan tahun lebih.

Bahasa yang dipakai dalam naskah itu adalah bahasa Kerinci Kuno, yaitu bahasa lingua franca suku Kerinci zaman dahulu.

Ia mengatakan bahasa Kerinci Kuno merupakan bagian dari bahasa Melayu tua yang penyebarannya meluas dari Madagaskar sampai ke lautan Fasifik.

Karena itu, aksara Incung pada hakekatnya merupakan sastra Indonesia Lama.

Orang Kerinci diperkirakan telah menggunakan tulisan Incung sejak zaman prasasti Sriwijaya abad ke 7 di Karang Berahi (Kabupaten Merangin).

Yang jelas aksara Incung sudah dipergunakan oleh orang Kerinci selama berabad-abad sesudah aksara Pallawa dikenal oleh bangsa Melayu Sumatera.

Inspirasi lahirnya aksara Incung oleh Orang Kerinci Kuno didasari pada pentingnya pendokumentasian peristiwa kehidupan, kemasyarakatan, sejarah, tulis-menulis dan lain-lain.

Penulisan sastra Incung juga dipengaruhi oleh Islam. Seperti adanya naskah-naskah kuno Kerinci aksara Incung bertuliskan arab. Seperti pada kata pengantar : basamilah mujur dan assalamualikun.

Ini menunjukkan bahwa orang Kerinci saat peralihan masuknya aksara Arab atau Islam, tidak menghilangkan aksara Incung dari kehidupan.

Tapi mereka memperkaya karya sastra Incung dengan nuansa Islam. Nenek moyang Kerinci Kuno menulis naskah-naskah Incung dengan memasukkan unsur-unsur ajaran Islam.

Zeni Nugroho, Mentor Batik untuk Create 2019 Kerinci mengatakan pihaknya juga akan membantu pengembangan batik bermotif aksara incung itu.

Menurut dia, batik dengan motif aksara Incung memiliki sejarah yang kuat.

Namun, tidak banyak pengrajin yang masih memahami aksara Incung.

“Kami berupaya untuk membangkitkan lagi batik dengan pendekatan yang lebih kontekstual. Targetnya batik Kerinci akan ditampilkan dalam event kopi internasional di Jambi, dimana pewarna kain akan menggunakan kopi,” terang Zeni

Saat ini, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) memilih kabupaten Kerinci, Jambi sebagai satu dari lima daerah penyelenggaraan program Creative, Training, and Education atau Create 2019. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kepariwisataan daerah.

Direktur Edukasi Bekraf Poppy Savitri mengatakan Kerinci terpilih lantaran adanya permintaan dari pemerintah daerah untuk bimbingan teknis.

Selain itu, pihaknya melihat banyak potensi lokal yang bisa dikembangkan mulai dari produk seperti kopi, kayu manis, dan batik hingga alam yang indah.

Ia berharap program Create bisa membantu Kerinci mengembangkan berbagai potensi tersebut. Salah satunya pengembangan aksara incung tersebut.

“Apalagi Kerinci akan menjadi salah satu daerah yang dilewati saat Tour de Singkarak,” kata dia seperti dikutip dari keterangan resmi yang dipublikasikan di web Bekraf.

Program Create bisa dikatakan sebagai mini IKKON (Inovatif dan Kreatif Melalui Kolaborasi Nusantara).

Dalam program ini, Bekraf bekerja sama dengan program pascasarjana Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk pelatihan kepada pelaku ekonomi kreatif daerah.(*)

 

Editor: Awin

News Feed