by

Gelar Depati di Kerinci Terikat Sumpah Karang Setio

Penulis :

A Murady Darmansyah

(Gelar Depati Sempurno Bumi Putih )

 

Gelar Depati mulai hangat dibincangkan ketika Gubernur Jambi Fachrori Umar dianugerahi gelar Depati Susun Negaro Pemuncak Alam Jambi lewat ritual Kenduri Sko Masyarakat Tigo Luhah Semurup di Desa Balai Kecamatan Air Hangat, Kerinci. Gelar depati boleh saja diturunkan kepada Non Kerinci dengan syarat-syarat tertentu. Tapi, para Depati terikat sebuah sumpah, “Sumpah Karang Setio”.

—————————–

 

Adat kerinci sebenarnya mengadopsi adat Minang Kabau. Ciri khasnya mengikuti garis ibu ( Matra Linial). Menganut ajaran adat yang bersandi syara’ dan syara’ bersandi kitabullah. Kitabullah itu maksudnya Quran dan Hadis.  Syarak mengata, adat pemakai.

Gelar Depati itu sebenarnya untuk orang yang mumpuni  dari Luhak dan kalbu salah satu dari depati yang  berempat.

Tiap Dusun berbeda sebutan  depati. Tapi fungsi dalam praktek tugasnya sama.

Tugasnya cukup berat. Maka depati sudah disetarakan dengan seorang “ raja”.

Dia sangat dihargai di tengah masyarakat. Melangkah dulu selangkah, duduk di luwak, ucapannya harus disimak .

Depati itu punya kembang rekan atau yang mewakili jika berhalangan .

Depati dibantu staf pelaksana yang disebut Ninik mamak. Ninik mamak berhubungan langsung sebagai teganai yang mengatur kegiatan anak batino.

Sesuai garis ibu itulah tempat keluarga mengadu.  Dalam hal ini teganai bekerja dengan tanpa pamrih, bila ada yang sifat ajun arah maka Ninik mamak minta saran pada Depati. Dengan mengisi adat, semua masalah diselesaikan dalam kontek musyawarah yang mengasyikkan.

 

WILAYAH DEPATI

 

Sejarah mencatat kerinci adatnya  banyak “ prosesinya”. Ini akibat kebiasaan yang turun temurun. Bahwa tiap Dusun punya ego atau rasa bangga sendiri-sendiri.

Mungkin saja Belanda membiarkan perbedaan gaya ini demi kepentingan penjajah terakomodir.

Berbeda dengan daerah lain, misalnya Batak, Aceh  dan Jawa. Kerajaan mereka tertata rapi. Belanda sulit membelah kecil seperti kerinci. Dusun atau wilayah  kerapatan adat dipimpin Depati Empat yang sebutan berlainan.

 

Dulu, sesuai legenda populer dengan pemegang adat di tiap wilayah atau desa.

Tidak banyak peneliti senang mendalami sejarah kerinci . Prof DR Indria Jafar dalam disertasinya, menjelaskan ihwal adat KErinci. Meskipun belum tuntas.

Lieteratur sejarah dalam Laporan Menteri Seberang  kepada Raja Belanda Juliana  1911 menyebut bahwa kerinci merupakan suatu dataran tinggi yang subur. Penduduknya berpencar dalam kelompok atau kampung dan umumnya tertutup. Mereka tidak mau berkomunikasi dengan pendatang. Jadi kerinci tidak ter expose alias ekslusife.

Beberapa ratus tahun lalu kerinci dikenal dengan istilah kerinci bawah  yang di dataran rendah meliputi Kabupaten Merangin dan kabupaten Sarolangun. Lalu ada istilah kerinci  dataran tinggi  disebut Kerinci atau puncak andalas.

 

KUNJUNGAN  SULTAN JAMBI KE KERINCI

 

Sejarah mencatat kunjungan raja yang berkedudukan di wilayah Tabir (sekarang ) ingin berkunjung kearah hulu yang lebih bersifat politik. Ia ingin mengetahui lebih dalam apakah kerinci itu dibawah kerajaan Jambi atau kah Inderapuro, Bengkulu.

Dalam perjalanan singgah dan bermalam di rumah penduduk setelah berjalan seharian, ia selalu diberi tanda mata tanda hubungan baik berupa  sepotong sutera. Maka dari itu kerinci  dikenal juga dengan istilah 8 helai kain.

Tercatat lah legenda :

– Depati Muara Langkap Dusun Tamiai

– Depati Rencong Telang Wilayah Pulau Sangkar

– Depati Biang Sari di Dusun Pengasih

– Depati  Atur Bumi di Desa Hiang

– Depati  Tujuh,  Desa Kemantan

– Depati Kepalo Sembah , di Dusun Semurup

 

Dalam adat kerinci sangat populer  ungkapan 3 hilir 4 Tanoh Rawang dan 3 Mudik 4 Tanoh Rawang .

 

Menariknya, di Kerinci sudah berlaku demokrasi. Disaat wakil raja Jambi Temenggung Kebal Dibukit akan memberi  hadiah kain sutera  kepada depati atur bumi di Hiang, beliau mengatakan ini potongan kain tinggal 1. Sedang beliau masih punya 3 kawan yaitu depati kepalo sembah di semurup, depati 7 Kemantan , Seleman  bagian dari Hiang dan tanah Rawang.

 

PEGANGKATAN  DEPATI

 

Menurut adat, pengangkatan Depati punya tata cara yang sudah turun temurun, yang disebut sehari mati sehari berganti. Bila ada depati yang mangkat / meninggal, ada prosedur yang diterapkan untuk memilih depati.

Tiap dusun  punya cara sendiri-sendiri. Belakangan, pola yang digunakan sudah mulai berubah. Gelar depati sudah dapat dianugerahkan kepada mereka yang bukan turunan depati yang asli .

Ini mungkin bisa saja disebut adalah “kembaran “( timbalan ).

Artinya pemberian gelar depati itu ada aturannya.

Diusulkan oleh anak batino dirapatkan dalam Luhak yang diwakili. Dalam istilah sindiran adat  harus yang nyaring kokoknya, simbe ekornya, gebuk awaknyo.

Terkenal karena ilmu agama, pengetahuan dan jabatan/kedudukan,  geguk artinya orang nya kecukupan, kaya ada kemampuan uang untuk tampil, simbe iku orang yang Arif bijaksana berbudi pekerti luhur serasi perbuatan dan perkataan.

Tidak suka berbohong dan dusta , adil  tegasnya  menimbang sama berat mengukur sana panjang , berbagi sama banyak  ter expose .

Dahulu tiap kelompok bahasanya tersendiri. Masih tampak sekerang di kerinci ada 30 bahasa beda kosa kata dan langgam. Depati itu harus mengucapkan sumpah karang detik. Belum mengucap sumpah maka belum bisa bergelar depati.

 

Sumpah Karang Setio

 

Sejarah sumpah karang Setio awalnya anti klimak dari perundingan politik terkait batas wilayah pemerintahan raja kerinci dengan kerajaan inderapuro.

Rapat cukup tegang tapi berhasil menetapkan batas kerjaan kerinci dan wilayah inderapuro. Masing-masing berjanji tidak memindahkan tanda batas /lantak dan bersedia memberitahu anak turunannya masing untuk tetap memegang teguh janji. Dengan berjanji diatas kepala kerbau yang disembelih mereka mengucap sumpah yang selanjutnya dikenal sumpah karang setio :

Begini isi sumpahnya.

“ Bahwa pihak yang melanggar sumpah  makan turunannya akan dikutuk Quran 30 juz , keras tidak ba pucuk kebawah tidak berakar ditangan dirakuk kumbang, kelaut mati tenggelam kehutan dimakan harimau, padi ditanam jadi lalang, ditanam kunyit putih isi Yo , anak dikandung jadi batu.”

Kesepakatan adat itu ditimbang guna memberi daya disiplin pada para depati. Maka hampir tiap Dusun melaksanakan ritual itu dalam mengambil sumpah pelantikan Depati.

Pada dasarnya depati itu orang terpandang dalam negeri.

Ungkapannya makan habis menggal putus , orang adil arif bijaksana tempat batu wik dan batanyo.

Pemberian gelar itu sebenarnya tidak sulit. Yang jadi masalah apa berani mereka melakukan sumpah karang setio?.

Karena punya tanggung jawab yang tidak ringan secara adat.

 

KOTA KUMUN

 

Kumun dahin  negeri kain tinggal atau sehelai kain berbeda negeri di kerinci.

Negeri kumun dikenal kota kumun yang populer tempat nyambung ayam dari seantero Inderapura Bengkulu dan kawasan kerinci bawah.

Lapaknya di Kota Beringin  dekat peninggalan sejarah batu gong ( Niniek Betung) .

Kalah menang umum pasti ribut tarung adu kesaktian.

Taruhan adu ayam serbuk emas / bijih emas yang ditimbang pakai kati.

 

Dusun Kumun terkenal Kumun Debai  batu gong tanah kurnia disebut juga Depati Sehelai  Kain  ( tunggal ). Diberi mandat khusus saat rombongan  depati yang dipimpin depati Galang Negeri kunjung menghadap ke Wakil/ Raja Jambi Temenggung Kebal Dibukit  oleh baginda beri  pusaka “selak  dan piagam “

( sekarang disimpan di rumah Depati Sempurno Bumi Putih sekaku pemegang hak kehormatan  A. Murady Darmabsyah) .

Barang Pusaka kumun berupa Piagam dan Selak itu  adalah  dokumen tertulis di kertas kulit kayu.

SELAK itu yang berisi tata pemerintahan serta ketentuan  tugas depati sedang PIAGAM itu berisi petunjuk batas-batas negeri kumun.

Kumun dikenal dengan depati empatnya  dalam team kolegial memerintah negara kumun :

  1. Depati sempurna bumi putih-pimpinan depati
  2. Depati nyato negaro
  3. Depati Putro negaro
  4. Depati galang negeri

 

Dibawah itu ada depatidepati merupakan kembang rekan yang  ditugaskan bantu kelancaran kerja tugas negara.

 

Seterusnya ada  Ninik mamak yang disebut juga teganai.

 

PENGANGKATAN DEPATI NON TURUNAN

 

Ini jadi rancu karena depati itu menurut sesungguhnya bukan sekedar gelar tapi lebih utama tugas dalam melindungi  keluarga anak batino, dari segala permasalahan atau silang selisih. Antara lain mengawasi hilir sawah , pengatur hukum waris , tentang perdata ( adat) , perceraian dan pidana bila terjadi kelahi atau perampokan. Dan sebaliknya.

Maka, gelar depati bukanlah suatu bentuk gagah-gagahan. Tapi dia terikat sumpah dan tanggungjawab besar memangku gelar Depati.

 

 

News Feed