by

Sapi-sapi Keberuntungan

Dari Kunjungan ke Desa Eks Transmigran Tebing Jaya

 

Warga eks Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Tebing Jaya I, II, III dan IV Kabupaten Batanghari dirundung nestapa. Sejak bermukim tahun 2004 silam, janji mendapat Lahan Usaha dari pemerintah tak kunjung ada titik terang. Beruntung, pemerintah melalui Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Sosnakertrans) Provinsi Jambi menggulirkan program bantuan  ternak sapi sebagai kompensasi Lahan Usaha (LU) II.

———————————–

 

Mudiasih tak pernah berhenti bersyukur. Bibirnya selalu mengucap “Alhamdulillah” begitu menengok sapi peliharaannya yang kini gemuk-gemuk dan berjumlah enam ekor. Sapi-sapi itu tabungan masa depan biaya sekolah anaknya. Mudiasih adalah satu diantara 684 warga Tebing Jaya Kecamatan Maro Sebo Kabupaten Batanghari penerima bantuan ternak sapi.

Bantuan sapi adalah program kompensasi pengganti Lahan Usaha (LU) II yang tidak diterima warga eks transmigran Tebing Jaya. Sapi diberikan pada tahun 2016 silam. Masing-masing Kepala Keluarga (KK) memperoleh seekor sapi bali untuk dipelihara. Sapi-sapi itu untuk dikembangbiakkan sebagai usaha.

Rabu Tiga April 2019 kemarin Jambi Link menengok langsung kehidupan warga Tebing Jaya itu. Perjuangan menuju desa ini sungguh berat. Dari desa Tebing Tinggi, kita harus naik ketek sekitar 10 menit menyeberangi Sungai Batanghari.  Karena akses ini belum ada satupun jembatan penghubung. Dan ini satu-satunya jalur yang memungkinkan.

Penulis saat menggunakan ketek menuju Desa Tebing Jaya

Sesampai di seberang, Agus Rusdianto alias Wito menyapa ramah. Ia bersama koleganya Riyanto dan Jahari rupanya sudah menunggu lama.

 “Kita harus naik motor pak. Disini ndak biso pakai mobil,”ujar mas Wito.

Sejak kampung transmigran dibuka tahun 2004 silam, jalanan di sini memang tak pernah tersentuh perbaikan. Boro-boro tersentuh aspal. Kondisinya sangat memprihatinkan. Sepanjang jalan penuh lubang dan lumpur. Listrik pun baru masuk dua tahun belakangan.

Jarak antara unit I, II, III dan IV sebenarnya tak begitu jauh. Tapi untuk tiba di masing-masing unit bisa memakan waktu sampai satu jam. Karena akses dan medan jalan sangat jelek, jarak tempuh menjadi lama. Waktu banyak tersita di jalanan. Sepeda Motor jadi satu-satunya transportasi paling pas.

 “Beginilah kondisi kami pak,”keluh Wito.

Kondisi jalan Tebing Jaya yang sangat memprihatinkan

Warga yang masuk kawasan ini beragam. Ada yang datang dari Jogja, Bandung maupun Bogor. Mereka awalnya berjumlah 115 KK. Pemerintah kemudian memberi akses bagi 115 warga Batanghari untuk juga ikut mengelola dan bermukim bersama warga transmigrasi di desa ini.

 “Jadi awal-awalnya total penduduk kita disini  sekitar 230 orang. Ada yang dari jawa ada yang dari penduduk asli sini,”ujar Kawan Wiyono, Kadus Tebing Jaya II.

Bertransmigrasi, mereka di janjikan lahan oleh pemerintah. Bantuan lahan itu dalam bentuk Lahan Usaha (LU) I dan Lahan Usaha (LU) II.

LU I merupakan lahan palawija. Artinya lahan yang diperuntukkan bagi pemukiman dan cocok tanam. LU I dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek (untuk makan). Luas yang diterima sekitar ¾ hektar.

Sedangkan LU II merupakan lahan yang pemanfaatannya bersifat jangka panjang. Misalnya untuk berkebun atau tempat mencari nafkah. Luas yang diterima sekitar 1 Hektar.

Dalam perjalanannya, bantuan  LU II macet. Warga lantas berinisiatif datang ke pemerintah daerah (Pemkab Batanghari).  Tapi tak ada titik terang.

“Ke Pemkab tidak tembus. Perwakilan kami lalu ramai-ramai datang ke Kementerian untuk meminta kejelasan,”kata Kadus Kawan Wiyono.

Kebetulan pula, saat mereka mengajukan protes di kementerian, disaat bersamaan sedang ada kunjungan anggota DPR RI komisi IX. Bak gayung bersambut, tuntutan mereka langsung direspon.

Rupanya, Desa Tebing Jaya satu-satunya daerah transmigrasi di Indonesia yang belum memperoleh LU II. Tahun 2012, sejumlah anggota DPR komisi IX sempat berkunjung ke desa ini. Namun sayang, aspirasi mereka tak juga berbuah manis.

Juni hingga Agustus 2015, sejumlah petinggi mulai dari Ketua DPRD, Ketua Komisi, Kepala Dinas Sosnakertrans dan petugas dari Dit Pelayanan Pertanahan Transmigrasi bolak-balik ke daerah ini. Mereka berusaha mencari solusi. Muncullah ide meminta bantuan ternak sapi sebagai kompensasi tidak diberikannya LU II itu.

Akhirnya, Bupati Batanghari, Sinwan menerbitkan surat nomor 595/2164/Sosnakertrans perihal usulan kompensasi LU II berupa ternak sapi ke Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI pada tanggal 24 Agustus 2015. Isi surat meminta sebanyak 684 sapi untuk 684 KK. Rinciannya, Tebing Jaya I ada 184 KK, Tebing Jaya II ada 229 KK, Tebing Jaya III ada 121 KK dan Tebing Jaya IV ada 150 KK.

Syukurlah, setahun kemudian (2016) program kompensasi itu direalisasikan. Pemerintah pusat melalui APBN mengucurkan dana Rp 10 M untuk program bantuan sapi sebagai kompensasi pengganti LU II yang diperuntukkan bagi 684 KK itu. Semuanya dapat sapi. 684 Sapi betina dan 69 sapi jantan. Sapi jantan untuk peranakan. Sapi-sapi itu dibeli dari Lampung dan diserahkan kepada warga lewat Dinas Sosnakertrans Provinsi Jambi.

Meski tak mendapat LU II, tapi warga merasa bersyukur karena diberi sapi.  Dengan begitu mereka memperoleh sumber hidup dengan nilai tambah lebih.

Seperti pengakuan ibu Mudiasih, yang kini sudah memiliki enam ekor sapi dari bantuan tersebut.

“Kalau dijual per ekornya sekarang, bisa sampai Rp 15 juta. Dari modal satu sapi, kami sudah bisa punya tabungan puluhan juta. Lebih besar dari kompensasi lahan. Bisa beli mobil,”ujarnya.

Mudiasih berharap program bantuan seperti itu terus digulirkan. Karena ia merasakan manfaat yang nyata.

“Daerah sini memang pas untuk penggemukan sapi. Rumputnya bagus-bagus,”katanya.

Jahari berpendapat sama. Ia mendapat nilai lebih dari bantuan sapi itu. Menurutnya, perkembangbiakan sapi di daerah ini relatif cepat. Selain itu, warga juga mendapat manfaat tambahan dari kotoran sapi.

“Kotorannya bisa dipakai buat pupuk mas,”ujar Jahari yang sehari-hari menaruh sapi di bawah pohon-pohon sawit.

Solihin warga Tebing Jaya I justru berharap pemerintah mengajarkan mereka cara membuat Biogas. Menurutnya, jumlah kotoran sapi yang dikelola warga sangat banyak. Selama ini, kotoran sapi hanya dimanfaatkan untuk pupuk.

“Mungkin kedepan bisa dipakai untuk biogas. Karena potensi disini besar. Kami perlu belajar,”katanya.

Solihin mengaku kompensasi lahan dalam bentuk sapi ini sangat bermanfaat. Tidak sia-sia. Menurutnya, sapi yang diberikan gemuk-gemuk, sehat dan sudah melewati proses karantina.

“Kami di beri tahu Dinas Sosial. Jangan diterima kalau tidak sesuai. Alhamdulillah bantuan sapinya sesuai dan Gemuk-gemuk mas,”katanya.

Solihin saat menunjukkan sapi bantuan pemerintah yang masih dipelihara

Sebelum diserahkan, sapi-sapi itu di karantina dulu selama tiga hari. Kemudian, warga diajak mengukur tinggi dan kondisi sapi. Jika tak sesuai, mereka boleh menolak.

Setelah diterima pun, sapi-sapi itu masih dalam proses pengawasan dan pembinaan selama dua bulan. Kalaulah ada yang sakit, sapi itu segera diganti.

“Memang ada satu atau dua sapi yang sakit dalam masa pengawasan, tapi langsung diganti. Ada dokter hewan juga yang mengawasi selama dua bulan itu,”kata Solihin.

Kepala Desa (Kades) Tebing Jaya I Jaiz mengaku semua warga sudah mendapat kompensasi sapi. Menurutnya, hanya beberapa orang saja tidak menerima karena mereka enggan bantuan lahan diganti sapi. Sehingga nama-nama mereka tidak diusulkan. Kades mengaku semua warga memperoleh sapi dalam keadaan sehat dan gemuk-gemuk. Ia dan warga bahagia karena bantuan itu sangat dirasakan manfaatnya.

“Program sapi itu memang sesuai minat warga,”ujarnya.

Kades mengatakan, dua bulan pasca sapi disalurkan memang ada beberapa warga yang langsung menjual. Gara-gara ada kekhawatiran.

“Ada beberapa warga yang sapinya di tubo (di racun). Karena takut, yang lain ikut menjual. Tapi tidak banyak,”katanya.

Kades menjelaskan ada oknum yang sengaja meracuni sapi warga. Tujuannya, agar warga takut dan menjual sapi-sapi itu. Diluar sana, sudah ada penampung. Karena sapi-sapi bantuan itu gemuk-gemuk dan bagus-bagus.

“Orang nengok dagingnyo segar-segar. Terus ado oknum disini yang sengajo nubo rumput-rumput. Warga yang takut terpaksa menjual sapinya. Tapi masih banyak warga yang tetap memelihara dikandang. Warga sangat senang,”katanya.

Selain itu, Kades mengatakan sapi yang dijual warga diganti dengan membeli tanah sebagai tempat usaha. Sehingga tidak sia-sia.

Kades dan warga menginginkan pemerintah kembali menggulirkan bantuan serupa. Karena daerah ini cocok untuk penggemukan dan pengembangbiakan sapi.

Peran Pemda Batanghari diharapkan dalam pembinaan peternakan khususnya sapi dan pemanfaatan kotoran sapi sebagai pupuk.

Satu masalah tuntas, masalah lain muncul. Warga Tebing Jaya bahagia dengan bantuan sapi. Tapi kini mereka dirundung masalah baru. Sebagian Lahan Usaha (LU) I milik mereka kini digarap perusahaan sawit. Mereka tak berdaya melawan korporate besar yang dibekingi orang kuat. Konflik warga dan korporasi masih berlanjut sampai sekarang.

“Kami butuh pertolongan pak. Tapi untunglah masih ada sapi-sapi ini sebagai tabungan hidup masa depan,”kata Kades. (Muawwin)

 

News Feed