by

Kader Hambalang Melawan

Pencopotan dua komandan partai menuai kritik. Kader hambalang ikut melawan.

—————————–

Eks pengurus partai menyayangkan kebijakan pencopotan dua komandan partai—Ketua DPC Gerindra Tebo dan Ketua DPC Gerindra Batanghari. Kritik pedas datang dari kader hambalang.

Mantan Bendahara DPC Partai Gerindra Kota Sungai Penuh, Ahdiyet meminta elit partai di DPD menjalankan politik santun dan menjaga marwah partai. Ia menilai, partai Gerindra merupakan organisasi publik. Ruang demokrasi seharusnya tumbuh subur, tidak selayaknya dimatikan.

“Saya mundur sebagai Bendahara partai karena melihat situasi yang sudah tidak bagus. Ini perlu dibenahi,”ujar Ahdiyet kepada Jambi Link.

Ahidyet merasa perlu bicara. Karena ia merupakan salah satu kader hambalang. Menurutnya, kader hambalang adalah orang pilihan. Tidak semua orang Gerindra berasal dari kader Hambalang. Kader hambalang adalah mereka yang digembleng langsung Prabowo Subianto.

Karena itu, kesetiaan kader hambalang tak bisa diragukan. Loyalitasnya kepada partai dan Prabowo Subianto tak perlu disangsi.

“Kader Hambalang itu termasuk massa fanatik. Sebenarnya, pimpinan partai itu adalah kader Hambalang,”katanya.

Menurutnya, struktur inti partai harus diisi oleh kader hambalang. Misalnya untuk tingkat Ketua DPC, wajib diisi oleh kader yang sudah digembleng langsung Prabowo di bukit Hambalang. Namun, Ahdiyet menyebut saat ini banyak Ketua DPC ataupun pengurus inti partai yang bukan berasal dari kader hambalang. Tetapi dipilih berdasarkan faktor kedekatan.

“Makanya, kalaulah pak Prabowo menukar ketua DPD ini, saya akan masuk lagi di kepengurusan. Mungkin pak Prabowo tidak tahu masalah di Jambi,”ujarnya.

Meski telah mundur dari kepengurusan, Ahdiyet menegaskan dirinya masih tetap sebagai kader hambalang. Meskipun banyak partai meminangnya. Dia tetap setia sampai mati terhadap Prabowo Subianto.

Karena itu, ia merasa sedih dan terpanggil melihat kegaduhan di partai akibat salah urus.

“Saya dulu memilih mundur karena ingin menjaga marwah partai. Saya tidak ingin partai pak Prabowo ini gaduh. Tapi, kini saya merasa perlu bicara. Agar jangan sampai partai ini rusak oleh sikap emosional yang kurang baik. Jangan sampai banyak korban,”jelasnya.

“Pak Sutan seharusnya menjaga kesantunan dalam politik. Tidak ada intruksi pusat agar memenangkan satu kader tertentu. Dalam pencalegan, semua punya hak yang sama. Kalau memang harus ke satu kursi, untuk apa banyak caleg. Cukup buat caleg tunggal,”sindirnya.

Ketua DPD Gerindra Provinsi Jambi Sutan Adil Hendra (SAH) kepada Jambi Link Senin lalu meluruskan kegaduhan yang terjadi di Gerindra. Ia menegaskan, semua kader dan caleg memang diwajibkan memilih Ketua DPD sebagai caleg DPR RI karena itu sesuai intruksi DPP. Bukan keinginan pribadi.

Menurutnya, DPP mengeluarkan intruksi itu sebagai penghormatan kepada Ketua DPD yang telah membesarkan partai. Ketua partai, kata SAH adalah ikon.

“Kita membangun partai ini dari nol. Berdarah-darah. Wajar DPP memberi kehormatan dan mewajibkan kader mendukung Ketua DPD sebagai caleg,”katanya.

Pencopotan Ketua DPC Gerindra Tebo dan Ketua DPC Gerindra Batanghari ditengarai karena keduanya tidak mendukung SAH, melainkan mendukung Murady Darmansyah.

Banyak caleg dan kader inti Gerindra belakangan ini memang lebih condong mendukung Murady Darmansyah, politisi asal Kerinci itu. Seperti Bustami Yahya, Khairil, Budiyako, Ritas Mairiyanto, Eliya, Uni Zas Kerinci, Gerindra Bungo dan sebagainya.

Mereka merasa nyaman bersama Murady. Mereka menolak jika tak mendukung SAH dianggap melanggar aturan partai. Versi mereka, tidak ada aturan partai yang dilanggar. Dukungan tersebut bagi mereka sebagai bentuk kritik terhadap kepemimpinan SAH.

Seperti diungkap Budiyako yang merasa tidak nyaman dengan kepemimpinan SAH. Begitupula yang dirasakan caleg dan kader Gerindra lainnya.

Sekretaris Jenderal DPD Partai Gerindra Provinsi Jambi Najamuddin tadi malam menegaskan pencopotan dua komandan partai itu karena mereka melanggar fakta integritas. Menurutnya, sesuai fakta integritas yang telah diteken, Ketua DPC harus membantu pemenangan Ketua DPD.

“Ada Fakta integritas, harus membantu pak SAH. Pak Prabowo mengarahkan semua caleg agar suaranya ke pak SAH sebagai Ketua DPD. Ketika ada yang lari, tentu kita laporkan ke DPP. Dan DPP lah yang punya wewenang. Masalahnya, mereka ini melawan DPP,”jelasnya.

Najamuddin menegaskan garis komando di Gerindra sudah jelas. Sebagai panglima di daerah, Ketua DPD wajib didukung. Menurutnya, semua kader dan caleg sudah meneken fakta intgritas dan tidak ada penolakan.

“Kalau tidak setuju seharusnya jangan di teken. Harusnya protes waktu itu. Fakta integritas itu diteken atas materai,”katanya.

Menyangkut pemecatan Ketua DPC Tebo dan DPC Batanghari, Najamuddin mengatakan pihaknya memiliki bukti bahwa keduanya melanggar fakta integritas.

“Bukti ada semua. Maka ada evaluasi dari DPP. Tentu DPP ambil tindakan tegas,”katanya.

DPP Partai Gerindra tidak mau punya kader yang tidak loyal dengan partai, tidak loyal dengan pimpinan.

Menurut Najamuddin, kesalahan dua komandan partai itu bukan sekedar mendukung selain Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Jambi. Tapi dia mengajak kader-kader yang ada.(*)

 

 

 

News Feed