by

Menanti Masa Depan Mendalo

Oleh Misda Mulya

MUARO Bulian-Mendalo merupakan salah satu titik peradaban bagi provinsi Jambi, dimana terdapat dua perguruan tinggi atau Universitas ternama sekaligus terbesar yang ada. Selain itu terdapat banyak sekali sekolah-sekolah yang terbangun baik dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP, maupun SMA. Ditambah, Mendalo merupakan jalur pengubung antara jambi wilayah barat dan Kota Jambi. Serta penghubung di beberapa tempat provinsi-provinsi terdekat yang ada misalnya saja Riau dan Palembang.

Kapasitas Jalur

Melihat besarnya kapasitas jalur tesebut membuat mendalo kerap dikenal dengan kemacetannya, hal ini diminimalisir dengan pembuatan pelebaran jalan yang kini sedang dilakukan oleh aparat terkait. Namun kapasitas pelebaran jalan nampaknya belum mampu menampung kemacetan dan kecelakaan lalu lintas yang terjadi. Padahal telah jauh-jauh hari pemeritah setempat telah membuat kebijakan pelarangan mobil batu bara untuk melintasi jalur Mendalo ini mulai pada waktu pagi hingga sore hari atau jam 07.00 sampai jam 18.00 WIB.

Eksistensi Peraturan

Namun, eksistensi dari peraturan ini kerap dipertanyakan oleh warga sekitar dan para mengguna rutin jalur mendalo, baik dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat setempat. Yang akibatnya, menjadi keresahan tersendiri bagi masyarakat karna kurang koordinir-nya jalur ini.

Penulis atau mungkin para pembaca pasti pernah atau bahkan kerapkali merasakan betapa macetnya dunia mendalo, ditambah pelanggaran-pelanggaran kecil maupun besar yang dibuat oleh para pengendara baik roda dua hingga yang beroda enam. Serta, pelanggaran khusus yang banyak membawa malapetaka bagi pengendara lainnya; yah, mobil batu bara yang jelas aturannya telah dibuat dan kerap mengundang sensasi yang meregam nyawa.

Pelanggaran

Melihat besarnya kapasitas penggunaan jalur tersebut mengakibatkan dimana Mendalo kerap menjadi saksi bisu jatuhnya para korban jiwa yang kerap berasal dari pengguna jalan yakni mobil batu bara vs sepeda motor, contohnya saja beberapa waktu yang lalu tepatnya 18 februari, kembali terjadi jatuhnya korban jiwa dan ini merupakan kesekian kalinya.

Penulis sendiri, yang baru menetap kurang lebih 1,5 tahun singgah di Mendalo merasa risih dengan pelanggaran, dengan kecelakaan, dengan kurang perhatiannya pemerintah setempat, dan acuh tak acuhnya pihak kepolisian lalu lintas khususnya di ranah Mendalo yang sama-sama kita cintai ini. Yap, wajib kita cintai, kita perhatian; karna Mendalo inilah yang akan menjadi saksi lahirnya generasi-generasi harapan dari Jambi.

Saran dan Harapan

Penulis berharap agar peran setiap elemen dapat tersalurkan. Pertama melalui sektor pemerintahan, agar pemerintah terkait dapat lebih tegas dalam arah mengontrol kebijakannya. Jika perlu, hadirkan sanksi yang benar-benar mampu menajatuhkan mentalitas sang pelanggar lalu lintas yang berkeliaran.

Kedua dari sektor aparat kepolisian, harapan yang besar agar peran dari kepolisian dapat lebih memunculkan eksistensinya di ranah mendalo, dan juga harapan tidak ada lagi pelanggaran-pelanggaran yang terjadi sehigga ini mampu memanimalisir kecelakaan-kecelakaan di kemudian hari.

Penulis berharap peran dari kepolisian khususnya lalu lintas dapat juga di pakai dan di terapkan di ranah Muara Bulian Mendalo. Bukan hanya di daerah kota saja, tapi malah tenaga para ahli khususnya kepolisian harus lebih kental dan ketat seperti halnya di daerah Mendalo dan di tempat-tempat yang rawan pelanggaran dan kecelakaan.

Juga penulis berharap agar masyarakat pengguna jalur ini, mampu menjadi masyarakat yang taat berlalu lintas. Sehingga mendalo tidak perlu lagi menjadi saksi bisu jatuhnya para korban. Sebagai mahasiswa, berharap jika memang eksistensi dari peraturan-peraturan yang ada tetapi kurang diterapkan atau tidak dijalankan agar tidak hanya mahasiswa, tapi seluruh elemen masyarakat harus mampu menyuarakan keadilan demi keselamatan bersama.

Melalui tulisan ini, penulis sekali lagi tegaskan ‘bukan untuk memprovoasi massa’, melainkan hasil keprihatinan dari penulis terhadap korban-korban yang telah gugur di jalan jiihadnya. Dan keprihatinan terhadap pengguna jalur ini. Sehingga Sebagai mahasiswa dan pengguna rutin jalur ini; Penulis merasa perlu untuk mem-public keadaan mendalo di masa sekarang, karena tak lain atas rasa prihatin dengan banyaknya korban atas kurangnya kontrol kebijakan dan pengawasan kebijakan pemerintah setempat, serta kurang perhatiannya pengendara terhadap hal-hal tersebut di atas. Semoga tulisan ini menjadi pertimbangan bagi pihak-pihak terkait. (***)

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Politik dan Wakil Ketua OK RISPEN Universitas Jambi

News Feed