by

Abraham Samad: Mengaku Nasionalis Tapi Korup

MENDALO – Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad mengatakan, seseorang tidak bisa disebut cinta terhadap bangsa atau nasionalis bila perilakunya masih saja korup.

“Jangan mengaku nasionalis kalau kita atau pun perilaku kita masih korup,” kata Abraham Samad dihadapan ratusan mahasiswa dalam seminar nasional di Balairung Universitas Jambi, Mendalo, Muarojambi, Jambi, Selasa (5/3/2019).

Seminar nasional dengan tema “Startegi Pemuda Dalam Melawan Korupsi” tersebut terselenggara atas inisiasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Jambi.

Menjadi pencinta nusa dan bangsa sendiri atau nasionalis menurut Abraham, adalah suatu perilaku diri sendiri yang berangkat dari integritas dan nilai-nilai kejujuran yang harus ditanamkan sejak dini.

Abraham menjelaskan integritas dan kejuruan itu bisa dimulai dari hal kecil, misalnya dalam kehidupan di kampus dan organisasi kemahasiswaan.

“Jangan coba-coba melakukan hal tidak perlu dilakukan. Misalnya berbohong, bohong ini sifatnya kecil, tapi nanti bisa menjadi cikal bakal atau habit (kebiasaan) untuk korupsi,” katanya menjelaskan.

Mantan Ketua KPK periode 2011-2015 itu menjelaskan bahwa perilaku korupsi adalah masalah soal moralitas sehingga diperlukan pendidikan untuk menanamkan nilai kejujuran sejak dini yang bisa dimulai dari lingkungan keluarga.

“Pendidikan nilai kejujuran itu sebenarnya sederhana, kita di rumah bisa memberikan pendidikan nilai keseharian dengan mencontohkan hidup yang jujur dan sederhana,” kata Abraham yang mengaku saat ini aktif mengajar di perguruan tinggi.

Sementara dalam seminar tersebut mendapat antusias dari mahasiswa dan pelajar yang hadir. Pada sesi diskusi itu peserta yang hadir juga antusias melontarkan pertanyaan tentang korupsi terhadap Abraham Samad.

Pada kesempatan itu, Abraham juga mengemukakan fenomena korupsi yang juga terjadi dalam pengelolaan sumber daya alam khususnya pertambangan, sehingga mengakibatkan potensi sumber daya alam tidak mampu mendongkrak kesejahteraan masyarakat secara maksimal.

Banyaknya potensi kekayaan dan sumber daya alam di Indonesia, namun ironisnya banyak juga penduduknya yang masih miskin, yang mana jumlahnya masih mencapai angka 27 juta orang.

“Ini (korupsi) harus dihentikan karena menimbulkan ketimpangan, pengangguran, kemiskinan dan lain sebagainya yang bisa menyengsarakan rakyat,” katanya menambahkan. (*)

News Feed